Opini

Berhijab Simbol Kecemerlangan Pemikiran

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Citra Hardiyanti Rukmana (Member Akademi Menulis Kreatif)

Wacana-edukasi.com — “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR.Bukhari-Muslim).

Secara bahasa, fitrah artinya al-khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah (Lisaanul Arab 5/56, Al Qamus Al Muhith 1/881). Dan agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah Islam, maka manusia yang lahir pada hakikatnya dalam keadaan beragama Islam.

Fakta hari ini, orang-orang yang membenci Islam berusaha keras untuk menjadikan manusia lupa akan fitrahnya. Namun, sungguh, usaha mereka memadamkan cahaya Allah layaknya memadamkan cahaya matahari dengan meniupnya. Sungguh tidak akan mungkin berhasil.

Dilansir dari Gelora.co, salah satu akun media sosial bercentang biru, @dw_indonesia milik Deutsche Welle (Gelombang Jerman) yang berada di Indonesia, memposting sebuah video yang berisikan tentang seorang ibu yang sedang mengajari putrinya menggunakan jilbab. Tentu, terbesit harapan dan keinginan orang tua menjadikan anak-anaknya memiliki “identitas” sebagai seorang muslimah yang taat.

Namun, dalam postingannya, DW mencoba mempertanyakan, “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?” Bahkan untuk memperkuat dugaan tersebut, mereka mencantumkan pendapat beberapa psikologi yang terlihat jelas berpihak kepada pendapatnya tanpa mencantumkan pendapat alim ulama dan cendikiawan muslim yang mumpuni dalam hal tersebut.

Pernyataan yang dilotarkan oleh DW begitu tendensius. Ini membuktikan kepada kita bahwa paham liberal (kebebasan) tidak akan berhenti menyudutkan Islam dengan stereotip negatif. Hingga memunculkan islamofobia.

Video tersebut juga mengundang kritik pedas dari warga net, sebab isinya mengandung unsur provokatif dan terkesan menyudutkan Islam. Dilansir dari Jurnal gaya.pikiran-rakyat.com, anggota DPR juga wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui akun Twitternya, @fadlizon mengatakan “Liputan ini menunjukkan sentimen “islamofobia” n agak memalukan untuk kelas @dwnews”.

Tanpa daya. Tanpa pelindung. Tanpa penjaga aqidah dan agamanya. Begitulah kondisi kaum muslimin saat ini. Kebebasan berpendapat dan berperilaku hanyalah slogan untuk memuluskan nafsu pengemban ide liberal. Namun, makna kebebasan itu akan menjadi tumpul tatkala berhubungan dengan Islam.

Pendidikan terhadap seorang anak merupakan kewajiban orang tuanya. Sayangnya, hak pendidikan yang sesuai fitrah tersebut terciderai dengan adanya stigma negatif terhadap Islam. Dengan dalih tidak mau memaksa anak atau akan menyusahkan serta membatasi gerak anak, orang tua yang belum memiliki kejelasan visi dan misi pendidikan Islam dikhawatirkan akan latah untuk tidak mengenalkan kewajiban menutup aurat sejak dini dan membiasakan putrinya berpakaian minimal mengumbar aurat, walaupun terlahir sebagai muslim.

Ini adalah narasi jahat yang dilontarkan kaum liberal yang ingin merusak generasi muslim. Keluarga yang masih menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai dasar mendidik anak berusaha dihapuskan. Logika cacat kaum liberal yang menuduh pakaian syar’i Muslimah membawa dampak buruk pada psikologi dan sosial anak, tidak terbukti. Tuduhan-tuduhan miring tersebut hanyalah upaya menebarkan islamofobia, menciptakan perasaan takut kepada agamanya sendiri, dan menanamkan opini bahwa Islam akan berdampak buruk bagi masyarakat.

Kini, Islamofobia semakin merebak dan menjangkiti negeri Pertiwi, negeri dengan mayoritas penduduk muslim. Hal ini terbukti dengan massifnya propaganda terhadap Islam. Termasuk dalam hal berpakaian. Pembiasaan berhijab sejak dini dianggap sebagai bentuk pemaksaan. Padahal pembiasaan dan pemaksaan adalah dua hal yang berbeda. Pembiasaan adalah proses pembentukan habit dengan pengulangan, yang diawali dengan ditanamkannya pemahaman dan memberikan contoh nyata pada anak.

Misalnya ketika orang tua ingin anaknya konsisten untuk memakai jilbab dan kerudung, maka sejak kecil ditanamkan di dalam diri mereka betapa Allah mencintai mereka, dan wujud syukur seorang hamba adalah taat kepada Allah, memahamkan terkait tujuan hidupnya dan bahwasanya setiap apa yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, serta memahamkan kewajiban dari Allah, memberikan contoh nyata pada anak, dan memakaikan kerudung dan jilbab pada anak ketika keluar rumah, sembari memahamkan kepada dia akan perintah Allah. Sehingga bagaimanapun kondisi lingkungannya, jika anak memperoleh kesadaran memakai jilbab dan kerudung melalui pembelajaran nyata, maka anak akan memiliki jati diri sebagai seorang muslimah. Bahkan generasi ini adalah generasi idealis yang prinsip hidupnya menundukkan hawa nafsunya dan mampu menjadi penyelesai masalah umat.

Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan ala kapitalis, yang mendewakan kebebasan sebagai pondasi dalam mendidik generasi, maka orang tua tidak merasa memiliki tanggung jawab dalam membentuk kepribadian anak. Orang tua hanya membersamai anak dewasa fisik saja tanpa memberikan pengarahan tentang prinsip hidup. Termasuk dalam hal berpakaian. Hingga orang tua akan memberikan kebebasan pada anak, walaupun hanya sekadar mengikuti tren. Terlebih mereka krisis akan figur yang dicontoh. Akibatnya, anak akan mengidolakan figur-figur fantasi yang semakin membentuk generasi halu. Pada akhirnya generasi yang demikian bukan menyelesaikan masalah umat, malah menambah masalah baru.

Jika kita menelisik kepada sejarah perkembangan manusia, sebelum datangnya Islam terbentuk masyarakat jahiliah (dalam kebodohan) yang tata cara berpakaian serba minimalis, dengan perilaku yang bar-bar dan penyembah berhala. Kemudian datang Islam memberikan pengaturan yang jelas tentang tatanan hidup. Hingga mengubah dari peradaban jahil menjadi peradaban emas yang tiada duanya di lembar sejarah manusia. Masyarakat tak lagi menyembah berhala, hidup lebih beradab, bermartabat dan pakaian pun mulai memiliki prinsip.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa manusia di awal masa hampir telanjang kemudian seiring berkembangnya pola pikir, manusia pun mulai mengenakan busana. Busana muslimah yang berjilbab dan berkerudung serta menutup aurat dengan sempurna adalah lambang kemajuan dan kecanggihan berpikir manusia yang telah dicapai berabad-abad lamanya. Adapun ketelanjangan, pakaian minimalis adalah lambang keterbelakangan dan kembalinya manusia kepada kejahiliahan. Seandainya ketelanjangan adalah simbol kemajuan, maka bisa dikatakan hewan telah mencapai puncak peradaban (ruangmuslimah.co).

Fakta ini menyadarkan kita bahwa sangat penting mendidik anak dengan prinsip agama yang sempurna, Islam. Sebab pembentukan generasi unggul adalah kewajiban setiap orang tua. Rasul Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggungjawab pemeliharaannya…”

Maka kewajiban orang tua untuk mendidik generasi agar menancap di dada mereka, kokohnya prinsip Islam dan ketaatan kepada Allah adalah tujuan hidup. Oleh karena itu, pendidikan pada anak selain bertumpu pada pendidikan keluarga juga di dukung oleh masyarakat dan negara. Sebab narasi yang merebak di tengah masyarakat saat ini adalah narasi terstruktur dan sistematis yang didukung penuh oleh sistem hidup saat ini, yaitu liberalis kapitalis. Maka kita membutuhkan institusi yang menjamin pendidikan berkualitas dengan sistem yang tiada cela dan cacat yang memberikan kedaulatan hanya kepada Allah bukan hawa nafsu manusia, yaitu ketika aturan Allah diterapkan secara sempurna dalam naungan khilafah.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (TQS An-Nisa’ ayat 9).

Wallahu ‘alam binshowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here