Oleh: Kurnia Dewi
Wacana-edukasi.com, OPINI–Ketegangan antara AS dengan Venezuela bukanlah hal baru. Keduanya bersitegang sejak terpilihnya Hugo Chavez sebagai presiden Venezuela (1998). Chavez kerap vokal dalam menyampaikan pemikirannya mengenai intervensi AS dalam dunia internasional termasuk di kawasan Amerika Latin. Sebelumnya Venezuela adalah pemasok minyak utama bagi AS, namun langkah Chavez melalui Bolivarian Revolution yang menasionalisasi sumber daya minyak membuat AS kebakaran jenggot. Hubungan AS-Venezuela terus menegang dan mencapai titik didih setelah AS melakukan agresi militer yang berujung pada penangkapan presiden Venezuela Nicholas Maduro dengan tuduhan narco-terrorism, (3/1/2026).
Di Eropa, AS kembali berulah dengan upayanya untuk membeli Greenland yang merupakan wilayah otonom kerajaan Denmark. Potensi sumber daya alam (seperti lithium, paladium, minyak, REE, dsb.), serta letak geografis yang strategis membuat Greenland masuk dalam list belanja AS. Keinginan AS untuk menguasai Greenland berhasil memunculkan ketegangan negara-negara di kawasan Skandinavia. Bagaimana tidak? AS dinilai telah meremehkan dan mencederai kedaulatan Denmark. Denmark dipandang sebagai negara yang lebih lemah dan mudah untuk dikuasai. PM Denmark, Frederiksen, menilai bahwa NATO turut bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas kawasan dan keamanan dari ulah AS yang juga merupakan anggota NATO.
*Karakteristik Imperialisme*
Imperialisme memegang level tertinggi dari tahapan politik ekonomi kapitalisme. Imperialisme menerapkan monopoli dan agresi militer sebagai cara untuk mendapatkan materi. AS sebagai negara adidaya berideologi kapitalisme menginginkan dunia berada di bawah pengaruhnya. Dengan demikian finansial dan modal para kapitalis dapat terjaga stabilitasnya meskipun harus menindas dan melakukan genosida terhadap bangsa lain. Imperialisme dalam tatanan dunia baru ini tidak selalu menempatkan negara agraris sebagai budak, tetapi juga negara industrialis. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan akan sumber daya dan kawasan yang mendukung AS atau para imperialis untuk menguasai kawasan maupun membendung kekuatan bangsa lain.
AS memerlukan sumber daya milik Venezuela dan Greenland. AS juga berupaya melemahkan kekuatan kerjasama antara Rusia, Cina, Iran, dan Venezuela. Ditambah jika AS berhasil memiliki memiliki Greenland, AS akan mendapat banyak keuntungan pada aktivitas spionase terhadap negara-negara Eropa termasuk Rusia dengan membangun pangkalan militer. Bahkan kelancaran suplai senjata bagi genosida di Palestina juga menjadi sebuah kenicayaan. Semua itu hanyalah sedikit dari sekian banyak kejahatan imperialisme AS. Kita akan banyak menemukan monopoli mereka pada negara-negara berkembang cenderung miskin. Di Indonesia AS mengeruk emas. Di Palestina mereka membantu Zionis merebut tanah kaum Muslim dengan keuntungan menduduki jantung Islam. Di Iran, AS menginginkan uranium. Tetapi meski mendapat banyak keuntungan dari negara yang tunduk, AS sendiri tidak pernah keluar dari krisis.
Yang tidak disadari oleh para kapitalis termasuk AS, krisis di negeri mereka terjadi sebab mereka menerapkan sistem kapitalisme. Ditambah pemikiran yang memisahkan agama dari negara mengakibatkan mereka menghalalkan imperialisme untuk memenuhi kebutuhan akan materi (gold, gospel, glory). Sistem kapitalisme jelas merusak tatanan dunia serta pengembannya. Untuk itu diperlukan kekuatan yang mampu membendung sang adidaya kapitalis terutama AS.
*Membendung Imperialisme AS*
Imperialisme hari ini sejatinya tidak jauh berbeda dibandingkan di masa lalu. Keberhasilan imperialisme oleh AS di dunia saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor; pertama, pengkhianatan oleh penguasa. Kedua, lemahnya negara yang disebabkan oleh kesalahan penerapan ideologi dan sekat nasionalisme.
Yang mampu mengalahkan imperialisme AS beserta sekutunya adalah dengan bersatunya seluruh negeri kaum Muslim di bawah naungan satu kepemimpinan. Kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara total membangkitkan kekuatan negara adidaya dengan pemikiran yang lurus dan tidak menggantungkan tujuan hidup pada materi.
Negara yang menerapkan syariat Islam secara total/kaffah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin adalah gambaran ideal bagaimana negara Islam mengatasi imperialisme. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6]: 153)
Berikut yang dicontohkan oleh kepemimpinan Islam;
Pembentukan daulah Islam di Madinah oleh Rasulullah adalah step pertama yang bisa kita contoh. Saat ini negeri kaum Muslim telah terpecah menjadi negara-negara kecil. Ideologi yang diemban juga bukan Islam meskipun nilai-nilai Islam tidak sepenuhnya hilang. Ini adalah salah satu keberhasilan kapitalisme dengan melakukan pembagian wilayah agar negara lain mudah untuk dipengaruhi, dijajah, dan dimonopoli. Ketika negara krisis, sang kapitalis akan datang dengan dalih kemanusiaan. Di situlah permainan imperialisme mulai melumat kedaulatan negara kecil dan lemah. Negara ideologis seperti AS senantiasa membawa ideologinya untuk diikuti oleh negara lain. Negara yang terpengaruh tak ubahnya sebagai mangsa negara kapitalis yang lebih besar. Sehingga yang harus dilakukan adalah meninggalkan kapitalisme dan beralih pada sistem Islam.
Kedua, politik internasional daulah Islam menitikberatkan pada kepentingan penyebaran risalah Islam dan jihad, bukan imperialisme atau tujuan materi. Permasalahan dengan AS, sebagai negara Islam sudah selayaknya memutus hubungan kerjasama dengan mereka, mengetahui bahwa AS adalah imperialis yang merongrong kedaulatan dan menghancurkan negara lain demi kepuasan materi. Satu-satunya politik internasional yang bisa dilakukan kepada negara kafir AS adalah jihad dan perjanjian gencatan senjata. Sedangkan perjanjian damai dan kerjasama internasional diperuntukkan bagi negara kafir yang bersedia tunduk terhadap daulah Islam.
Ketiga, memerangi komprador asing dan menghalau spionase negara kafir. Tidak menutup kemungkinan bahwa pengkhianat daulah Islam itu pasti ada. Kaum munafiqun ini membantu negara kafir untuk melakukan spionase hingga melobi kebijakan agar melunak terhadap negara kafir. Telah banyak kita jumpai saat ini para penguasa yang tidak sanggup melawan AS yang melakukan imperialisme meskipun ketundukan mereka terhadap AS ini mengharuskan mereka untuk menyingkirkan rasa kemanusiaan. Apa penyebabnya? Salah satunya adalah hasrat untuk berkuasa dan kekayaan. Penguasa seperti ini umum ditemui pada negara penganut kapitalisme. Kaum munafiqun seperti ini harus diperangi sebagaimana Rasulullah memerangi Bani Quraizah saat terjadi perang Khandaq.
Keempat, militer yang tangguh dan beriman. Ketangguhan militer tidak sekadar diukur dari jumlah personil, kecanggihan alutsista, dan strategi yang tepat. Militer yang bertakwa dan beriman kepada Allah menciptakan kesatuan yang solid di bawah kepemimpinan panglima tertinggi militer daulah Islam, yaitu khalifah. Islam mengharamkan kerjasama militer dengan negara kafir sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik.” Api di sini adalah kiasan yang berarti peperangan. Orang Arab jahiliyah menggunakan ungkapan ini untuk keperluan pakta militer. Namun bagi negara kafir yang lebih lemah dan bersedia tunduk terhadap daulah Islam, maka diperbolehkan dengan syarat tertentu. Kondisi negeri kaum Muslim saat ini terbelenggu oleh perjanjian internasional sebagai dampak Perang Dunia II di mana mereka tidak berhak untuk menciptakan senjata sendiri. Walhasil ketergantungan terhadap bantuan militer kepada negara yang berhak membuat senjata seperti AS amat tinggi. Padahal ini merupakan jalan bagi imperialisme itu sendiri. Selain AS mengetahui kelemahan senjata (karena berasal dari AS), intervensi pada pengadaan alutsista melalui utang luar negeri juga menikam kedaulatan negara kecil. Oleh karena itu ketangguhan militer harus didukung juga oleh kemandirian dan kekuatan ekonomi.
Kelima, ekonomi yang kuat. Venezuela meskipun bukan negara Islam, ia memiliki keberanian untuk mengembargo suplai minyak kepada AS. Sayangnya ekonomi Venezuela sendiri masih lemah, sehingga saat AS mengutak-atik kebijakan ekspor Venezuela ke AS (sebagai pasar terbesar), melemahkan nilai mata uang Bolivar, dan mempengaruhi negara lain untuk menutup pasar ekspor minyak Venezuela, mengakibatkan Venezuela jatuh dari negara kaya menjadi negara krisis. Sedangkan di dalam sistem Islam, negara wajib secara profesional mengelola dan mengatur kepemilikan dan sumber daya alam demi kepentingan rakyat. Daulah Islam tidak akan membiarkan segelintir orang memiliki atau menguasai sumber daya alam. Negara juga tidak serta merta melakukan ekspor sumber daya alam jika rakyat masih sengsara. Islam juga menetapkan sanksi yang amat keras bagi siapa saja yang melakukan tindakan yang dapat menghancurkan perekonomian negara.
Keenam, SDM yang terdidik dan bertakwa. Sistem pendidikan Islam yang shahih dan mudah diakses setiap rakyat tanpa ada beban biaya pendidikan menciptakan intelektual yang berkualitas. Generasi seperti mereka ibarat duta yang menghantarkan negara Islam pada kemenangan baik melalui jalur diplomatis, startegi militer, hukum, dan kepemimpinan yang cakap. Sedangkan saat ini masyarakat Muslim tidak sedikit yang berkiblat pada budaya AS yang dianggap sebagai negara maju. Akibatnya banyak dari mereka yang membuang nilai Islam dalam kehidupan. Gaya hidup bebas dan rusak dianggap sebagai tanda modernisasi. Kemunduran generasi adalah yang amat diinginkan AS. Karena mereka bisa melanjutkan imperialisme dengan menguatkan pengaruh pada pemikiran generasi pemimpin selanjutnya.
Ketujuh, jihad fii sabilillah. Sebagaimana tak ada perjanjian damai bagi negara imperialis penghancur Islam, maka jalan satu-satunya adalah berperang melawan AS. Yang perlu diperhatikan bahwa jihad fii sabilillah tidak dapat dilancarkan tanpa ada negara yang mengemban ideologi Islam (khilafah). Sebab yang berwenang memutuskan jihad bersenjata adalah khalifah. Selain itu persoalan membendung imperialisme AS adalah permasalahan negara vs negara. Tidak bisa diambil alih oleh individu maupun kelompok sebab ketimpangan power. Allah tidak pernah memerintahkan Rasulullah untuk berjihad melawan Quraisy sebelum daulah tegak di Madinah. Kemudian wahyu Allah Ta’ala turun dalam QS. Al-Hajj ayat 39,
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,”
Jihad dalam agama Islam bertujuan untuk menegakkan agama Allah, termasuk menghapus imperialisme di muka bumi. Karena Islam tidak pernah mengajarkan untuk menindas, berbuat kerusakan, dan menjajah yang lemah. AS harus mendapat pelajaran berharga dari tegaknya kembali negara super power berideologi Islam dan menghentikan imperialismenya.
Views: 9


Comment here