Opini

Khilafah Sejatinya Penyelamat bukan Ancaman

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Oom Rohmawati ( Ibu Rumah Tangga)

blank

Wacana-edukasi.com. Belumlah tayang film jejak khilafah, perilaku nyinyir penuh dengki masih saja mengumbar postingan di media online dan media cetak. Terakhir yang sedikit menyedot perhatian adalah postingan berjudul : “Penipuan HTI dalam Jejak Khilafah.”

Belum tabayun sudah berani mengungkap bahwa film yang sejatinya akan ditayangkan di channel youtube tanggal 1 Muharram itu adalah film yang berisi penipuan. Seberapa besar peran khilafah terhadap Nusantara, baiknya tonton dulu, kesimpulan akhirnya mau suka atau tidak silahkan saja.

Postingan tidak mendasar di medsos tersebut memanglah bukan hal yang baru, meski pelakunya bisa jadi muslim tapi karena sebab terasuki paham sekuler maka kebenaran akan sulit diterima. Pemikiran yang salah itulah yang menutupinya hingga kebencian begitu mudah dilontarkan.

Bagi orang yang belum memahami tentang hakikat khilafah maka merupakan sesuatu yang mengancam. Mereka menganggap khilafah bisa memporak-porandakan nasionalisme serta rasa persatuan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan tidak cukup sampai di situ, beberapa pihak ada yang berusaha menghalang-halangi kebangkitan Islam dan para  pengembannya.

Khilafah dan jihad yang sejatinya ajaran Islam ingin dihilangkan dari konteks aslinya, yang semula dari konteks fiqih menjadi kajian sejarah pada kurikulum pendidikan sekolah dan madrasah. Khilafah adalah sistem kepemimpinan Islam setelah kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Khilafah bertugas untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia (li-hirasah ad-din wasiyasah ad-dunya). Khilafah juga wajib menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia. Allah Swt. berfirman;
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (TQS: Saba[34]: 28)

Nusantara tentu tidak bisa dilepaskan dari target dakwah negara Khilafah. Cukup banyak catatan sejarah yang menuliskan jasa Khilafah dalam mendakwahkan dan menjaga Islam di Nusantara.

Salah satu peran Khilafah di Nusantara yaitu; seorang Khalifah dari Bani Umayah yang sangat terkenal bernama Umar bin Abdul Aziz (berkuasa 717-720 M). Beliau begitu serius dalam mendakwahkan Islam ke seluruh dunia.

Dalam tulisannya yang berjudul; Two Letters from the Maharaja to the Khalifah (1963: 126-129), S.Q. Fatimi membeberkan sepak terjang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam menyebarluaskan Islam ke berbagai negeri di seluruh dunia, termasuk Nusantara. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pula mulai terjadi hubungan Khilafah dengan Nusantara.

Menurut Fatimi, penguasa Kerajaan Sriwijaya yang saat itu berpusat di Pulau Sumatera, Maharaja Sri Indravarman, pernah menulis surat yang ditujukan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Damaskus.
Surat tersebut dinukil oleh Ibn ‘Abd Rabbih dalam al-‘Iqd al-Farid berdasarkan riwayat dari Nu’aym bin Hammad:
“Raja Hind (Sriwijaya) mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dari Raja-raja adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja, yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah. Di wilayahnya terdapat dua sungai (Musi dan Batanghari) yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil—kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz), yang tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu. “Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin anda mengirimi saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya…”

Jelas sekali penguasa saat itu rindu akan diterapkannya hukum-hukum Allah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Khilafah sistem pemerintahan Islam terbukti yang mampu memberikan perlindungan kepada negeri-negeri Islam. Seperti, Khalifah Sulaiman al-Qanuni, yakni Salim II, mengabulkan permohonan Sultan al-Qahhar dan mengirimkan bala bantuan militer ke Aceh. Dalam surat balasannya kepada Sultan Aceh, Khalifah Salim II menulis bahwa melindungi Islam dan negeri-negeri Islam adalah salah satu tugas penting yang diemban oleh Khilafah Utsmaniyah.

Dengan bantuan yang didapatkan dari Khilafah Utsmaniyah ini, Sultan al-Qahhar dari Aceh dapat menyerang Portugis di Malaka pada 20 Januari 1568 dengan kekuatan 15.000 tentara Aceh, 400 Jannisaries Utsmaniyah dan 200 meriam perunggu (Amirul Hadi, 2004: 23).

Kehadiran pasukan Khilafah Utsmaniyah di Nusantara benar-benar menggetarkan Portugis. Sebaliknya, begitu membahagiakan muslim dan menguatkan Islam. Aliansi antara Sultan al-Qahhar dari Aceh dan Khilafah Utsmaniyah. Inilah yang kemudian dipaparkan oleh Syaikh Nuruddin Ar-Raniri dalam kitab Bustan As-Salathin yang ia tulis.

Maka dari itu, Kerajaan Sultan Alauddin Riayat Syah bin Sultan ‘Ali Mughayat Syah, pada hari itsnain, waktu dhuha, dua puluh hari bulan dzul-qa’dah, yang mulai membiasakan segala macam adat istiadat Kerajaan Aceh Darussalam, dan menyuruh utusan kepada Sultan Rum, ke negeri Istanbul (Khilafah Utsmaniyah), untuk meneguhkan agama Islam. Maka dikirimkan oleh Sultan Rum dari segala jenis utusan yang pandai dan tahu menuang bedil. Maka pada zaman itulah orang mulai mengenal meriam yang besar-besar…” (Teuku Iskandar [ed.], 1996: 31-32)
Berkat semangat jihad dan kerja sama yang luar biasa antara kaum muslimin di Maluku dan pasukan Khilafah Utsmaniyah, penjajah Portugis dapat hengkang dari bumi Maluku setelah masa Sultan Babullah untuk selama-lamanya.

Pada abad ke-17, banyak penguasa Islam di Nusantara yang mengirimkan utusan ke Makkah atau Istanbul untuk menyatakan ketundukannya kepada Khilafah Utsmaniyah. Mereka lalu mendapat legitimasi sebagai wakil Khalifah di masing-masing negerinya.
“Sesungguhnya kami penduduk negeri Aceh, bahkan seluruh penduduk di Pulau Sumatera, semuanya tergolong sebagai rakyat negara adidaya Utsmaniyah dari generasi ke generasi.”

Tidak hanya sekadar mengakui wilayah Aceh dan Sumatra sebagai bagian dari Khilafah Utsmaniyah, Sultan Ibrahim Manshur Syah juga menjadikan Khilafah Utsmaniyah sebagai tempat meminta izin untuk menggalang persatuan para sultan di Nusantara demi menegakkan jihad mengusir penjajah Belanda:
“Maka dari itu, yang diharapkan dari sumber kasih sayang Tuan yang berbahagia (Khalifah Utsmaniyah) adalah menganugrahi kami sebuah titah Kesultanan yang dapat menyatukan seluruh para pembesar rakyat kami dari kaum Muslimin supaya suara mereka bersatu padu dan bulat untuk menegakkan jihad di jalan Allah dan mengusir kaum kafir Nasrani itu dari negeri-negeri kaum muslimin…” (BOA, I.HR, 73/3551).

Tidak sampai di situ, supremasi politik Khilafah Utsmaniyah atas kaum muslimin sedunia tentu diakui pula oleh kaum muslimin Nusantara yang berada dalam jajahan Belanda.
Goenawan, Ketua Sarekat Islam afdeling (cabang) Batavia yang merangkap Kepala Redaktur salah satu koran terbitan Sarekat Islam, Pantjaran Warta, dalam artikel yang ia tulis pada 10 November 1914 menuliskan,
“Di seloeroeh doenia hanja Turkyelah jang masih tinggal merdika, dari sebab Turkye yang memegang wasiat Nabi kita. Begitoelah orang moeslimin memandang Turkye sebagai keradjaan jang melindoenginja dalam laoetan fitnah dan perdoehakaan dari fehak moesoehnja. Begitulah perasaannja kebanjakan orang orang moeslimin di tanah-tanah jang ada dalam genggamannja kekoeasaannja Europa…”

Koran berbahasa Inggris yang terbit di Singapura pada 29 Desember 1898 merangkum kegiatan perlawanannya: “Dia dengan mencolok tidak hadir dalam upacara penobatan ratu (Belanda), seolah ingin menunjukkan kepada penduduk pribumi bahwa dia bisa bertindak merendahkan pemerintah Belanda.”

Mehmed Kamil Bey juga diketahui menggoyahkan kesetiaan dua raja pribumi tertinggi di Jawa Tengah dan mengirim surat kepada seorang raja di bawah kekuasaan Belanda di Borneo atau Sumatera untuk mencoba mempengaruhi raja agar mengurangi kesetiaannya kepada Belanda.” (Nico J.G. Kaptein, 2003: 109-110)
Sungguh, pemerintahan Islam yang bernama khilafah pernah memainkan perannya di negeri kita. Rentang jarak pusat khilafah yang jauh di Bagdad, Kairo, atau Istanbul, tidak menyurutkan kepedulian para khalifah dan kaum Muslim di sana untuk Nusantara.

Betapa banyak jejak khilafah yang masih berbekas di berbagai pulau di Asia Tenggara. Tentu, jejak yang paling jelas dan nyata dari peran khilafah di masa lalu adalah keislaman kita.
Dengan pengiriman para dai yang menyebarkan Islam dan pasukan militer yang dikirim khilafah ke Nusantara untuk mengusir penjajah Eropa, kita bisa merasakan nikmatnya Islam dan persaudaraan umat Islam yang tak mengenal sekat kebangsaan.
Betapa khilafah mempunyai jasa yang besar untuk kebaikan di negeri ini. Para orang tua kita pun pada masa lalu memandang positif khilafah sebagai kepemimpinan tunggal bagi kaum muslim global.

Berbeda dengan fakta sekarang yang menganggap khilafah sebagai ideologi yang bertentangan dengan pancasila, pemecah belah bangsa serta persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga ada upaya dikubur dan dikaburkan. Padahal betapa besarnya jasa khilafah di Nusantara, namun sekarang dianggap berbahaya. Ini adalah sebuah pemikiran yang tidak benar.

Dengan bukti-bukti di atas maka khilafah wajib untuk diperjuangkan kembali, agar bisa tegak di muka bumi ini. Bahkan tegaknya kembali khilafah adalah kabar gembira bagi muslim di seluruh dunia dan penyelamat umat manusia secara keseluruhan.

Wallahu a’lam bi ash Shawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here