Opini

Khilafah: Mewujudkan Negara Mandiri Tanpa Bantuan Asing

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ninda Mardiyanti YH. (Mahasiswi Kota Banjar)

Wacana-edukasi.com — Pada Kamis, 29 Oktober 2020 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya menuai banyak pertanyaan mengingat dalam kondisi pandemi dan pada tanggal 03 November 2020 akan melangsungkan pesta demokrasi di Amerika Serikat.

Dilansir dari media CNBC Indonesia, adapun hasil dari kunjungan Menlu AS diantaranya membahas :
Pertama Laut Cina Selatan, dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Kamis (29/10/2020), Pompeo mengatakan kedatangannya ini dalam rangka menjaga hubungan bilateral kedua negara.
“Kami menghabiskan waktu setelah berbicara tentang ekonomi, tentang keamanan atau hukum dengan negasi menolak klaim yang dibuat oleh Partai Komunis China di Laut China Selatan,” kata Pompeo.

Kedua, Isu Timur Tengah, “Kami membahas masalah Palestina. Saya sebutkan bahwa masalah ini sangat dekat dengan hati masyarakat Indonesia. Saya tegaskan posisi Indonesia dari masalah tersebut termasuk prinsip ‘solusi dua negara,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Ketiga, Kerja Sama Bidang Pertahanan, “Menteri Pertahanan kami sudah mengunjungi AS bulan ini dan bertemu dengan berbagai mitra AS, termasuk Menteri Pertahanan AS,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (29/10/2020). Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, dua pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama sektor pertahanan. Meliputi memperkuat kemampuan pertahanan dan perlengkapan militer untuk mencapai Minimum Essential Force (MEF).

Keempat, Perpanjangan GSP. Retno juga menambahkan mengenai pentingnya perpanjangan komitmen sistem tarif preferensial umum atau Generalized System of Preferences (GSP) RI dan AS.

Itulah sederet perjanjian yang telah disepakati oleh Menlu AS dan Menlu Indonesia. Bagaimana dampaknya terhadap masyarakat Indonesia atas kesepakatan tersebut?
Tidak akan pernah ada keuntungan sedikitpun bagi rakyat Indonesia, jikapun ada itu maka hanyalah orang-orang tertentu yang mendapatkan keuntungan, mereka adalah para kapitalis besar. Walaupun kepemimpinan saat ini sudah berpindah pemimpin yang menjadi dambaan masyarakat tetapi pada hakikatnya tetaplah sama, hanya saja berbeda penampilan.

Kemudian, isu Timur Tengah yang menjadi kesepakatan karena menurut pandangan AS Indonesia sangat begitu dekat dengan Palestina. Nampaknya ini pun hanyalah sebagai pemanis saja, Amerika akan tetap menjadi kiblatnya Indonesia yang bertahan dengan ideologinya dan akan tetap berada di balik penyerangan Israel terhadap Palestina.

Oleh karena itu, dampak buruk yang bakal diterima oleh Indonesia tersebab berkaca dari pengalaman-pegalaman sebelumnya. Anehnya mengapa Indonesia tidak pernah mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah berlalu? Sebab Indonesia dibutakan oleh boneka para kapital besar, diiming-imingi dengan berbagai keuntungan, padahal dibalik ucap manis kesepakatan perjanjian terdapat propaganda busuk yang kemudian bakal menyengsarakan rakyat.

Saat ini ketika melihat ada kedekatan antara Cina dan Indonesia membuat Amerika Serikat merasa khawatir, apalagi belakangan ini Cina sangat agresif di Laut Cina Selatan. Amerika tidak menginginkan ada Kerjasama antara Cina dan Indonesia, karena sejatinya Cina adalah musuh besar Amerika. Cina dan Amerika akan terus bersaing untuk mendapatkan keberpihakannya. Sikap Indonesia yang tetap dengan politik luar negeri bebas aktif membuat Indonesia netral tanpa keberpihakan, tetapi nyatanya Indonesia akan berpihak kepada negara yang memberikan banyak keuntungan, terlepas apakah itu Cina atau Amerika. Oleh karena itu Cina dan Amerika sudah bisa membaca siasat untuk menjadi pengekor mereka.

Sungguh, terlalu berambisi Cina dan Amerika untuk memperebutkan Indonesia, dan dengan mudahnya terbujuk rayu oleh mereka atas nama keuntungan rela mempertaruhkan rakyatnya. Tidak akan pernah ada kata tenang dan damai selama dua negara adidaya itu masih berada di kanan kiri Indonesia, sengsara justru yang didapatinya.

Berbeda dengan khilafah, dalam politik luar negeri khilafah menetapkan dakwah dan jihad sebagai kebijakannya. Khilafah akan memetakan wilayah negara-negara di dunia, khilafah akan menggambarkan mana kafir fi’lan dan mana kafir harbi. Khilafah akan memetakan langkah kebijakan negara yang menjadi target dakwah dan sasaran yang akan diperangi untuk menjalankan jihad demi penyebarluasan islam. Khilafah tidak akan mentukan mana kawan dan juga lawan dalam mewujudkan kemajuannya sebagai negara mandiri. Khilafah tidak akan bergantung pada tatanan negara lain. Khilafah akan berdiri kokoh dan menjadi negara mandiri tanpa harus bergantung dan bekerja sama dengan asing yang harus tunduk pada aturan-aturan yang telah di buat oleh asing. Wallohualam

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 21

Comment here