Opini

Kesehatan Daya Ingat dan Krisis Penanganan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. (Penulis dan Praktisi Pendidikan)

Wacana-edukasi.com — Kesehatan adalah modal utama setiap orang dalam menjalankan aktivitas harian. Tak terkecuali kesehatan mental dan otak. Dapat kita pahami, bahwa ada beberapa sebab yang mengganggu kesehatan baik fisik maupun mental. Di mana usaha mempertahankan kesehatan sangat diperlukan, terlebih di masa pandemi saat ini yang menuntut pelajaran via daring (dalam jaringan).

Bertambahnya jumlah kasus covid-19 dan kecepatan angka kematian di Kotawaringin Timur (Kotim), membuat penundaan pembelajaran tatap muka bagi jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sehingga, kembali dilakukan secara daring atau online. Hal inilah yang diungkapkan oleh Juru Bicara Satgas covid-19 Kotim Multazam (Sampit.prokal.co, 17/11/2020).

Merebaknya virus corona tersebut, memaksa untuk pembelajaran kembali ke daring. Yang sayangnya hal ini dapat menambah tingkat kestresan siswa. Di saat mereka harus mengerjakan banyak tugas yang diberikan oleh guru. Tentu tidak bisa hanya diambil dari beberapa sumber, sehingga berdampak pada penurunan daya ingat. Hal inilah yang mengacaukan pertahanan kesehatan daya ingat yang disebut multitasking media yang berimbas gangguan daya ingat.

Melansir dari laman berita, mediaindonesia.com, multitasking media atau terlibat dengan beberapa media digital pada saat yang bersamaan bisa memengaruhi memori seseorang. Demikian hasil studi yang dipublikasikan di Nature. Multitasking media bisa mencakup menonton TV secara bersamaan sambil mengakses media sosial di ponsel dan menggunakan laptop untuk bekerja atau mengerjakan sesuatu. Hasilnya, orang yang terlalu sering ber-multitasking media di rumah memiliki gangguan kemampuan untuk mengingat kembali item di layar komputer (19/11/2020).

Lantas, dengan keadaan yang demikian bagaimana seharusnya pemerintah dalam menanganinya? Maka, usaha yang nyata dalam penanganan pandemi harus serius dilakukan. Namun nyatanya, saat ini belum terlihat geliat yang serius, justru malah krisis penanganan. Mereka disibukkan dengan urusan yang akan menambah kasus pandemi tersebut, seperti tetap mengadakan pilkada di tengah pandemi. Inilah yang akan terjadi jika saat ini sistem negara masih menggunakan sistem demokrasi-kapitalisme yang ujung-ujungnya bagaimana cara mempertahankan kekuasaan.

Bahkan, untuk menangani kesehatan bagi masyarakat, mereka tetap mengomersialkan. Begitu pula dengan penanganan belajar siswa menggunakan daring, hanya sampai memberikan kuota tanpa mengambil solusi yang mendalam hingga ke akarnya. Oleh karena itu, perlu revolusi tuntas untuk segala permasalahan ini dengan mencabut akar permasalahannya yaitu sistem rusak yang masih diadopsi, kapitalisme-sekularisme.

Sistem rusak tersebut menjadikan permasalahan di tengah-tengah umat kian meningkat dan menjadikannya tidak paham hidup mulia dalam naungan Islam. Kelemahanya adalah terpencarnya umat menjadi beberapa negara sehingga tidak punya power untuk menjaga marwah Islam dan mengendalikan dunia. Sehingga kelemahan di segala aspek akhirnya dirasakan termasuk masalah kesehatan dan pendidikan.

Maka, Islamlah yang memiliki solusi tuntas menangani persoalan ini. Islam memberikan metode pendidikan yang komplet, terlebih di masa pandemi. Jika pembelajaran secara daring berdampak ketidakefektifan serta akan berpotensi penurunan daya ingat sebab penggunaan android berlebihan dan terus menerus maka, solusi Islam dalam hal pendidikan bertumpu pada tiga tujuan pokok yaitu membangun kepribadian Islam yang meliputi pola pikir dan pola sika yang islami, membekali dengan pengetahuan dan keterampilan, serta menyiapkan peserta didik untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar yang diperlukan.

Selain itu, penambahan tsaqafah akan menjadi agenda penting seperti bahasa Arab, fiqih, tafsir dan hadis maupun sains seperti matematika, kimia, fisika, dan biologi. Yang semua ini diperlukan tiga peran, yaitu dari keluarga, masyarakat, dan negara. Semoga dapat diterapkan oleh negeri ini.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here