Opini

Jilbab, dan Upaya Islamophobia

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Teniazahra (Ibu Rumah Tangga)

Wacana-edukasi.com — Saya muslim. Sebagai seorang muslim saya akan bertindak sesuai dengan apa yang saya anggap benar menurut agama Islam. Baru-baru ini viral tentang unggahan vidio dimedia D.W Indonesia yang mengulas dampak negatif memakaikan jilbab pada anak sejak kecil yang dilakukan oleh orangtuanya. Konten video ini dibagikan DW Indonesia melalui akun Twitternya, @dw_indonesia pada Jumat 25 September 2020.

Cukup mengherankan bagi saya. Apakah ada yang salah?
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ketika orang tua menganggap itu baik,maka hal itulah yang akan diberikan untuk anak-anaknya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia itu terlahir fitrah,orangtuanyalah yang menjadikan dia majusi,Nasrani atau muslim. Peran orangtua mengarahkan anak untuk berbuat benar sesuai yang diyakininya. Memakaikan jilbab sejak kecil adalah upaya pendidikan orangtua terhadap anak dalam rangka membentuk kepribadian anak. Perintah ini jelas didalam Al-Qur’an surat an nnur ayat 31. Sedangkan perintah berjilbab sendiri ada dalam Q.S Al Ahzah ayat 59 yang artinya:
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh karenanya,menjadi kewajiban bagi orang tua untuk sedini mungkin,anak diajarkan hakikat tentang siapa dirinya. Siapa dia?

Jilbab adalah identitas diri. Identitas diri sebagai seorang muslimah. Jika anak terlahir sebagai perempuan maka konsekuensi yang muncul adalah dengan mengenakan jilbab dalam aktivitas kesehariannya. Dia harus mengikuti dan tunduk, pada semua ajaran islam . Tentunya hal ini bukanlah pemaksaan,namun sebagai upaya pembiasaan anak agar taat syariat sejak kecil. Orangtua bertanggung jawab membentuk habitat dan mengenalkan lingkungan terbaik yang dapat mendukung kehidupannya kelak.

Ulasan dampak negatif pemakaian jilbab sejak kecil pada video tersebut sama saja dengan tuduhan jahat kepada islam yang tidak berdasar. Hal ini merupakan sentimen negatif terhadap ajaran Islam. Tuduhan ini mebangun narasi ditengah masyarakat bahwa Islam itu buruk dan suka memaksa. Sepakat dengan yang dikemukakan oleh anggota DPR sekaligus praktisi politik dari partai Gerindra,Fadli Zon bahwa ulasan pada media D.W Indonesia tersebut merupakan sentimen islamophobia (jurnalgya.com 26/09/2020).

Bisa jadi Masyarakat yang tidak memahami benar malah menjadi islamphobia. Masyarakat menjadi takut dengan Islam. Islam dianggap membuat anak menjadi tertekan karena dipaksa orangtua berhijab dan akhirnya menjadi berbeda dengan lingkungan nya. Hal ini tentunya perlu untuk diluruskan. Anak, diusianya yang masih belia tentu belum bisa menilai naik dan buruk,benar atau salah suatu perbuatan tanpa ada arahan dari orangtua sebelumnya. Informasi yang dia terima sejak kecilah yang akhirnya membentuk perilakunya. Menjadi seorang muslim,berhijab bukanlah sebuah paksaan namun hasil kesadaran individu yang diperoleh seiring bertambahnya usia anak. Anak belajar dari orangtua dan bisa menentukan sikpa sesuai dengan akalnya. Penanam informasi yang benar pada anak membantu anak memutuskan apa yang terbaik baginya.

Allah berfirman dalam surah Al-Balad: 8-10: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir? Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memaksa. Selalu ada pilihan diatara kafir atau mukmin. Antara berjilbab ataukah tidak berjilbab,antara taat syariat ataukah tidak.
Ada ungkapan yang sering kita dengar, wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara. Generasi Islami, adalah generasi yang taat syariat. Islam melahirkan generasi yang memilki kepribadian unggul yang sangat jauh dari pendidikan sekuler,yang sarat dengan kebebasan berperilaku. Islam memuliakan perempuan melalui suariatnya sedangkan sekulerisme kapitalis telah merendahkan wanita. Dengan atau tanpa sadar mereka telah dihinakan martabatnya melalui eksploitasi kecantikan wanita dan kebebasan ekspresinya. Sangat berbeda jauh dengan Islam, tidak ada yang perlu ditakuti dari penerapan syariat Islam. Tidak perlu ada islamphobia.

Media sosial seharusnya menjadi sarana edukasi yang benar dan mencerdaskan masyarakat. Bukan malah sebaliknya, menyebarkan informasi yang tidak benar dan menggiring masyarakat pada opini yang sesat. Tidak dimungkiri sistim kapitalis saat inilah yang senantiasa memberikan kesempatan bagi media untuk memgupas informasi dan membahasnya sesuai dengan kepentingan penguasa. Media tidak lagi netral dalam memberitakan informasi,tetapi selalu ditunggangi oleh kepentingan yang benci dengan Islam. Sebutlah, Nong Darol Mahmada aktivis feminis liberal yang dijadikan narasumber dalam video tersebut.

Menjadi sangat wajar jika apa yang dia ungkapkan akan sangat bertentangan dengan ajaran islam. Khilafah sebagai sebuah negara memiliki tanggung jawab yang besar terhadap aqidah warga negaranya. Khilafah akan menjaga masyarakat dari berita-berita yang bertentangan dengan Islam. Melalui departemen penerangan, media masa akan diawasi secara ketat didalam menyebarluaskan informasi. Khilafah akan menyaring masyarakat dari pemikiran kufur dengan memberikan informasi yang obyektif dan benar sesuai dengan kacamata Islam.

Wallahu alam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 1

Comment here