Surat Pembaca

Jerat Utang Negeri Nan Kaya

blank
Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com— Dengan potensi alam yang melimpah, layakkah negeri ini terjerat utang? Mungkin itulah pertanyaan yang ada di benak masyarakat. Melihat kondisi negeri ini yang setiap saat hutangnya justru semakin bertambah.

Utang Indonesia bertambah lagi. Bahkan jumlahnya cukup besar dalam waktu yang relatif berdekatan atau tidak sampai dua minggu. Total utang baru Indonesia yakni bertambah besar lebih dari Rp24,5 triliun. Utang baru tersebut merupakan pinjaman bilateral (Kompas.tv.21/11/2020).

Utang merupakan ciri atau tabiat dari sistem kapitalis. Sistem ini memang ditopang oleh utang dan riba, sehingga melumrahkan sistem ekonominya dijalankan dengan utang. Bahkan utang dijadikan sumber anggaran negara. Hal ini, menjadikan sistem kapitalis rentan terhantam krisis dan resesi. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini dimana roda perekonomian terbatas. Secara otomatis banyak negara yang tidak bisa membayar utang dan akhirnya terus menambah utangnya.

Kondisi seperti ini sebenarnya kerap melanda dunia, tak hanya Indonesia. Resesi terus berulang dalam beberapa kurun waktu. Tidak juga dapat terselesaikan, hanya tambal sulam saja dalam mengatasinya. Bisa kita lihat bagaimana sistem ini membuat jarak kesenjangan ekonomi semakin jauh. Negara-negara adidaya menguasai ekonomi dunia, dan negara lainnya semakin kecil dan lemah berada dalam jeratan utang.

Jauh berbanding terbalik dengan sistem ekonomi Islam. Aturan Islam dalam sejarahnya justru selalu bisa menuntaskan permasalahan ekonomi. Sistem ekonomi Islam ini anti resesi dan krisis, karena memang berlandaskan pada aturan yang langsung berasal dari Sang Khaliq. Jadi, masihkah kita berharap pada Kapitalisme?

Rien Ariyanti, SP
Kulonprogo, Yogyakarta

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here