Bahasa dan SastraCerpen

Jejak Perjuangan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Lestari Umar

Peluhku tak tertahankan. Siang hari ini begitu terik. Panas menjalar hingga ke seluruh tubuhku yang terbalut seragam dua lapis di ruang produksi. Kulirik jam tangan. Sudah hampir jam 12.00, aku bersyukur sebentar lagi waktu istirahat tiba. Aku menoleh ke arah rekan kerja yang ada di sebelah kananku.

“Siap-siap, To. Sudah tinggalkan saja itu.” Aku menyapanya sambil menunjuk ke arah tumpukkan karton-karton besar yang tersusun di hadapannya.

“Siaap. Dengan senang hati.” Anto membalas perkataanku dengan semangat. Aku yakin dia sama lelahnya denganku.

“Pacarmu bawakan bekal tidak hari ini?” tanyaku padanya kemudian.

“Wah, kebetulan nggak, nih. Kenapa tanya. Mau traktir, ya?”

“Hahaha. Cuma nanya aja, kok.”

Anto bersungut sambil cemberut saat mendengar perkataanku barusan. Segera kulayangkan tinju di bahunya yang bidang.

“Aduh.” Ia terlihat berakting meringis.

“Ayo jalan. Sudah azan.”

“Siap Pak Ustadz. Hehhehe.”

Gema azan Zuhur sangat syahdu terdengar. Aku dan Anto berboncengan motor menuju musala di sekitar gedung pabrik tempat kami bekerja. Di sanalah kami melaksanakan salat wajib di sela-sela kesibukan sehari-hari. Memasuki area pelataran, kuparkirkan motor yang kugunakan. Kuberjalan menuju tempat wudu dan bergegas merapatkan saf terdepan.

Kulaksanakan salat Tahiyyatul Masjid dan salat Sunah Rawatib. Sambil menunggu imam masjid memulai salat berjemaah, kuraih tasbih berjumlah tiga puluh tiga butir yang ada di saku kemeja. Kulafazkan tasbih, tahmid, dan tahlil secara bergantian, hingga imam masjid melafazkan takbiratul ikhrom.

“Allahu Akbar.”

——————————————

Selesai salat Anto menghampiriku saat sedang memakai kaus kaki dan sepatu.

“Ayo Ren, kita makan,” ajaknya. Aku mengangguk kemudian.

Kami kembali berboncengan motor menuju rumah makan langganan. Kali ini gantian Anto yang memboncengku. Dalam semilir angin yang berembus seiring laju motor, kucium aroma harum yang berasal dari rambut rekan kerjaku itu. Sangat harum malah. Maklum, walau hanya pekerja pabrik biasa, Anto sangat memperhatikan penampilan.

“Widih. Wangi benget,” Aku meledeknya.

“Hahahaha. Kayak baru kenal aja, Bro.”

“Justru karena sudah lama kenal. Nggak berubah, ya, nggak hujan nggak panas. Mau tanggal tua atau tanggal muda, ini rambut licin aja. Hahaha.”

“Harus, Ren. Fardhu ‘ain. Hahahaha.”

Di atas sepeda motor tuaku kami berdua tertawa lepas. Walaupun penat, setidaknya kami masih bisa menghibur diri satu sama lain.

Setibanya di warung, kami langsung menuju kursi dan memesan makan siang. Anto memesan nasi dan lauk porsi dobel dengan sambal. Sedangkan aku hanya makan nasi dengan lauk ikan plus sayur seadanya. Dan sambil menunggu pesanan datang, Anto kembali membuka percakapan.

“Makan yang banyak, Ren. Biar badan bagus. Lihat, tuh, badan. Kayak triplek.”

“Jangan menghina, lah”.

“Hahahaha.” Anto tertawa puas.

Tak lama waktu berselang, makanan pesanan kami pun datang. Kami makan dengan segera agar tidak banyak membuang-buang waktu istirahat yang singkat. Selesai makan kami kembali ke pabrik untuk melanjutkan pekerjaan.

Sesampainya di pabrik, kami langsung berkutat dengan tumpukan karton dan makanan kemasan yang harus kami susun. Tak henti tangan kami bergerak hingga selesai kami kerjakan semua.

Aku menghela napas panjang. Aku masih patut bersyukur atas pekerjaan yang kujalani ini. Walaupun berat di setiap harinya. Namun, ini masih lebih baik dibandingkan orang-orang di luar sana yang masih kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan untuk membiayai hidup sehari-hari. Kadang juga terpikir olehku, andai saja suatu hari aku memiliki modal yang cukup untuk membuka usaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk yang membutuhkan. Walaupun terlihat mustahil, tapi aku yakin akan impianku. Dan niat baik pasti kelak akan Allah kabulkan.

“Ren,” suara Anto terdengar menyebut namaku. Aku menoleh ke arahnya.

“Hem. Ada apa?”

“Ren. Menurut lo, gue udah pantas menikah belum?” tanyanya kemudian.

“Pantas aja, sih. Kapan rencananya? Kujawab pertanyaannya dan kemudian balik menannyakan perihal rencana pernikahanya itu.

“Kalau waktunya belum pasti, Ren. Tapi calon sudah mulai tanya-tanya tentang itu.”

“Bagus, dong. Nggak usah lama-lama ditunda. Tambah dosa saja nanti.” Aku melirik ke arah temanku tersebut, ia nampak diam.

“Kenapa? Galau, ya?” tanyaku kepadanya.

“Bukan galau. Cuma masih ada yang mengganjal saja.”

“Apa yang mengganjal? Bukannya sudah lama berhubungan dengan dia?”

“Iya. Tapi kadang masih ada rasa ragu.”

“Keraguan itu mungkin bisikan setan supaya tetap berstatus pacaran tanpa cepat menuju jenjang pernikahan. Hati-hati, To.”

“Ampun, dah. Kalau udah ngomong dosa. Ampun, dah, Ren.”

“Cuma bisa mengingatkan. Semua keputusan kembali ke individu masing-masing.”

“Iya, Pak Ustadz,” Anto merapatkan dua telapak kanan dan kirinya kemudian ia lekatkan di dadanya. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah rekanku itu.

————————————–

Hari ini hari Minggu. Aku libur bekerja. Dan seperti biasa, akhir pekan jadwalku kajian keislaman bersama Ustadz Imam. Sebuah musala kecil di sekitar tempat tinggalku adalah tempat dimana aku biasa menimba ilmu dengan beliau. Jam masih menunjukkan pukul 09.00, tapi semua pekerjaan rumah sudah selesai kukerjakan. Maklum, karena masih bujang dan tinggal sendiri di kota rantauan, tak banyak pakaian yang harus kubersihkan, dan piring yang harus kucuci. Paling hanya satu dua saja jumlahnya.

Kulangkahkan kaki menuju musala. Dari kejauhan, nampak Ustadz Imam sudah duduk bersila di salah satu sudut. Beliau terlihat bersandar di salah satu pilar. Kuhampiri beliau kemudian ikut duduk di sisinya.

“Assalamualaikum Ustadz.” Kuucapkan salam padanya.

“Wa’alaikumusalam warahmatullah.” Beliau menjawab dengan lembut dan langsung menyalamiku.

“Bagaimana kabarnya Nak Reno?”

“Alhamdulillah baik Ustadz. Ustadz bagaimana kabarnya?”

“Alhamdulillah baik juga, cuma kemarin ini kaki agak kambuh. Maklum, asam urat.”

“Semoga lekas pulih, Ustadz.”

“Aamiin. Terima kasih Nak Reno. Kita tunggu yang lain dulu, ya. Belum hadir ini.”

“Baik Ustadz.”

Ustad Imam adalah pribadi yang luar biasa. Banyak kesan yang aku dapat dari beliau. Selain soal ilmu keislaman, kadang beliau juga banyak memberikan wejangan yang sangat dibutuhkan bagi kami para pemuda. Yang paling sering beliau pesan adalah tentang menjaga pandangan. Karena menurut beliau, itu adalah godaan terbesar bagi pemuda-pemuda di usia kami. Kadang terbesit juga suatu saat ingin mengajak Anto ke kajian seperti yang biasa aku ikuti. Tapi kadang justru hari Minggu Anto sibuk dengan urusan pribadinya.

Beberapa waktu kemudian dua orang temanku datang. Ustadz Imam langsung membuka kajian hari ini. Kurang lebih dua jam waktu kami untuk mengkaji kitab dan berdiskusi.

Selesai kajian kami saling berpamitan. Saling bersalaman dan berangkulan. MasyaAllah. Indahnya ukhuwah yang kurasakan. Walau tak ada hubungan darah. Namun, entah mengapa, saat bersama mereka aku merasa begitu tentram dan damai.

Kunyalakan motor kemudian melaju perlahan ke arah rumah. Tiba di rumah, kurebahkan badan pada kasur busa yang langsung beralaskan lantai. Kupandang langit-langit kamar yang hanya diterangi lampu redup. Pikiranku melayang akan masa depan. Kapan kiranya ada sosok pendamping di sisiku. Siapakah kiranya wanita yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku saat ini. Aku hanyalah pekerja pabrik rendahan. Yang bagi sebagian orang bukan profesi yang bergengsi. Apalagi untuk gadis-gadis masa kini yang lebih mengutamakan tampilan. Mungkin aku akan selalu berada dalam daftar terakhir kriteria pendamping ideal mereka.

Lama aku terpaku. Sekilas terlintas perkataan Ustadz Imam yang tadi beliau sampaikan selepas kajian. Beliau menanyakan terkait kesiapanku untuk menikah. Beliau meyakinkanku bahwa menikah adalah untuk menyempurnakan agama dan perkara materi bukanlah satu-satunya persoalan yang harus dipersiapkan untuk menuju jenjang pernikahan. Senang rasanya mendengar motivasi beliau barusan. Seolah aku mendapat tambahan energi lagi.

————————————————-

Senin pagi, matahari bersinar cerah, secerah harapanku meraih keberkahan dalam mencari rezeki. Walaupun tanggal tua dan uang di saku tinggal beberapa lembar saja, namun semangat tidak boleh pudar. Kuparkir motor setiaku dengan penuh percaya diri.

“Bro,” suara sapaan yang tak asing di telinga mengagetkanku saat sedang berada di parkiran pabrik.

“Hemmm.” Aku bergumam menanggapi. Aku menoleh ke arahnya. Anto terlihat bergaya seperti biasanya.

“Oh Tuhaaaan … kucinta dia ….”

“Lagi berbunga-bunga, nih, kayaknya,” terkaku pada rekan kerjaku itu.

“Iya, dong. Baru bertemu kemarin,” jawab Anto sambil mengangkat kedua alis tebalnya.

“Istigfar. Bro,” ucapku kemudian. Kutinggalkan ia di belakangku tanpa berkata apa-apa lagi. Anto mengejar dan merangkul bahuku dari belakang.

Sejurus kemudian kami sudah berjibaku dengan tumpukan karton yang harus dikemas seperti biasanya. Lelah bercampur irama degup jantung di dada seolah tak terhiraukan. Kususun satu persatu karton-karton dalam troli besar. Seorang rekan kemudian mendorong tumpukan-tumpukan tersebut menuju gudang penyimpanan.

“Bro.” Anto menyapa dan mendekat ke arahku yang sedang duduk sejenak sambil menunggu pengemasan produk berikutnya.

“Ada apa,” jawabku.

“Soal pernikahan, Ren. Mas kawin itu harus ada, tapi sesuai kemampuan, kan?”

“Iya, trus kenapa?”

“Kalau barang bawaan, Ren? Itu beda lagi ya?”

“Seserahan itu pemberian, To. Yang tidak wajib seperti mahar. Sudah ditentukan tanggalnya?”

“Belum, Ren. Masih persiapan satu dan lain hal.”

“Soal mahar dan seserahan itu?” tanyaku kemudian

“Iya.”

“Tidak usah dibuat rumit, To, yang penting sah saja dulu. Soal lain itu jangan sampai menghalangi niat baik kalian.”

“Kalau calonku nggak masalah, Ren. Tapi keluarga besarnya.”

“Kan, calon mempelai yang mau disahkan. Kalau terus menuruti kemampuan banyak orang, mau sampai kapan, To? Yang penting terpenuhi semua rukun.” Kutepuk pundak Anto beberapa kali. Ekspresi wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.

“Ayo, Bro.” Kami melanjutkan pekerjaan hingga waktu istirahat tiba. Begitu seterusnya dari hari ke hari. Rutinitas harian sebagai pekerja pabrik. Walau lelah, namun kami mencoba menikmatinya.

————————————————————————————–

Tgl 6 Oktober suasana pabrik terlihat kacau. Beberapa rekan yang kutemui terlihat murung, bahkan ada di antara pegawai wanita yang menangis. Kucari sosok Anto di tengah keramaian.

“Reno!!! Suara Anto memanggilku dari kejauhan. Kulambaikan tangan dan menghampirinya, seketika ia langsung memelukku.

“Bagaimana ini, Ren, hancur sudah semua.”

“Tenang dulu, To. Kita ikuti dulu alurnya. Jangan mendahului Allah.” Sebisa mungkin aku menenangkan rekan kerjaku itu. Anto terdiam. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Semua nampak gelisah dan kecewa akan apa yang terjadi semalam. Undang-Undang Ciptaker sudah disahkan. Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon pun menghantui benak kami.

Bagi kami para buruh, masih bisa tetap bekerja di pabrik adalah suatu anugerah. Meskipun gaji yang kami terima masih jauh dari kata layak, setidaknya kami masih mensyukuri rezeki ini. Namun, bagaimana nanti jika kami tak lagi dipekerjakan? Bahkan jika harus menerima pil pahit pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon. Tak terbayangkan bagaimana nasib rekan-rekanku yang mempunyai tanggungan istri dan anak-anak. Tentu mereka harus memutar otak dan mencari cara bagaimana untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Ditambah lagi biaya lainnya, seperti membiayai sekolah, membayar listrik, atau ketika mereka harus berobat ke rumah sakit.

Huftt … aku menarik napas dalam-dalam. Bayangan Si Mbok di kampung halaman tiba-tiba melintas dalam ingatan. ‘Doakan saya Mbok’, pintaku dalam hati.

“Memang zalim sekali ini. Apa mereka tidak memikirkan nasib kita rakyat kecil ini?”

“Ayo kita suarakan keberatan kita di sana. Nggak terbayang bagaimana nasib kita nanti.”

“Siap. Mari kita perjuangkan!”

Suara-suara kekecewaan dari rekan-rekan pekerja pabrik saling bersahut-sahutan. Suara hati mereka yang sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin dapat mencari makan dan dapat jaminan secara layak bagi kelangsungan hidup ke depan.

*
Mata hati itu telah membisu
Berganti tembok besar bernama keangkuhan
Kalian tak pernah tau bagaimana rasanya tak berpunya
Tak pernah tau ketika uang tak ada

Tak bisa membeli beras untuk anak-anak dan istri di rumah
Tak ada makanan meski hanya untuk menegakkan badan
Hanya pedih yang bisa kami terima
Hanya sesak yang tersisa dalam dada

Kalian bilang mewakili, namun terlalu sering menzalimi
Kepada kami para rakyat kecil wahai Tuan
Tolonglah berikan sedikit nurani
Agar Tuan-tuan menjadi manusia terpuji

Kepada-Mu Rabb Sang Penguasa bumi
Saksikanlah ….
Saksikanlah yaa Rabb … penderitaan kami
Penderitaan hidup di bawah tirani tak berperi

Selesai

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here