Bahasa dan SastraCerbung

I’m A Journalist

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Haneem

Who’s Alex?

Wacana-edukasi.com — Usai makan malam, Alex pergi ke ruang kerjanya untuk melihat laporan dari sekretaris pribadinya mengenai kondisi perusahaan. Perusahaannya bergerak di bidang furniture. Sebulan sekali perusahaannya biasa merilis beberapa produk baru. Sejauh ini, produk-produk dari perusahaannya banyak diminati oleh masyarakat domestik, bahkan mancanegara. Ada beberapa perusahaan dari Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Belanda, dan Jerman yang mengimpor furniture dari perusahaannya. Wajar jika omset yang didapatkannya per bulan pun sangat menjanjikan.

Pada awalnya, perusahaan tersebut dikelola oleh papanya, Mr. Albert Davinson. Namun, karena penyakit jantung koroner dan diabetes yang dideritanya, papanya memintanya untuk memegang kendali pperusahaan. Perusahaan yang telah dibangun dengan cucuran keringat itu jangan sampai collapse. Membangun kembali dari awal bukanlah perkara mudah. Maka itu, keputusan yang diambil oleh sang papa merupakan keputusan yang tepat, meskipun saat itu Alex baru berusia 23 tahun. Perlahan, namun pasti. Alex cepat sekali mempelajari kondisi perusahaan dan bisa meng-handle perusahaan dengan baik. Merangkaknya nilai omset perusahaan di atas angka sebelumnya adalah bukti bahwa dirinya memang cakap menjadi seorang pemimpin.

*

Di ruang tamu, Sherly sibuk chatting dengan teman kantornya. Keduanya saling bertanya kabar dan seperti biasa mbak-mbak rempong tidak pernah terlepas dari yang namanya gosip. Yang namanya gosip, digosok makin sip.

“Sher, si Edo nanyain elo terus. Beneran kamu uda nikah? Sherly, si jomblowati, akhirnya married dan nggak ngundang kita-kita? Wow, Elo nggak lagi nutup-nutupi sesuatu, kan, Girl?” tanya Sofia, sahabat dekatnya. Meski suka “ember”, tapi temannya itu setia kawan dan baik hati.

“Hah, maksud elo apa? Gue uda hamil duluan gitu before married? Nggak, lah, yow. Ih, guwe masih cinta kali sama pekerjaan gue. Kalau gue hamil, karir gue bisa end. Elo, kan, juga tahu gue nggak mau bergantung sama yang namanya laki-laki. Btw, soal si Edo, udah dech biarin ajah. Gue nggak cinta sama dia. Dasar dianya ajah yang suka ngejar-ngejar gue.”

“Hahaha … beneran, nich, kamu nggak mau? Buat aku aja, ya, boleh? Aku, kan, masih jomblo, Sis.”

“It’s up to you.”

“Beneran, ya, kagak nyesel nanti?”

“Nggak bakal pakai banget,” jawab Sherly.

“Eh, mana laki elo? Tunjukkin, donk? Pakai video call, ya?”

“Dia lagi sibuk di ruang kerjanya. Udah, ah, besok kita lanjutin lagi pembicaraan kita. Aku masih capek banget, nich, baru pulang dari Bali. Besok aku ke kantor.”

“Duch, yang habis pulang dari honeymoon. Oleh-olehnya nggak lupa, kan, Sis? Yuhuu, see you. I love you.”

“See you too.” Di akhir tulisan Sherly memberi emoticon love.

“Sher, kamu belum tidur?” Suara Alex mengagetkan Sherly yang tidur bermalas-malasan di atas sofa ruang tamu.

“Huffffft, untung sudah selesai chatting sama Sofia,” batin Sherly.

“Sher, do you hear me? I’m speaking with you.”

“Yes, I do.”

“Sudah jam 10 malam.” Alex melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya. “Ayo, tidur sekarang!”

“Alex?” Sherly agak ragu menyampaikan uneg-unegnya. “Hmm, apakah aku besok boleh pergi ke kantor? Sebentar saja, tidak akan lama. Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada my boss. Tapi, setelah itu aku diajak makan bareng juga sama teman kantor. Boleh, ya?”

“Boleh, tapi aku tidak bisa mengantarmu karena aku ada meeting penting dengan beberapa staff. Kalau dengan Pak Wingky pun tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Kalian berdua, kan, bukan mahram. Jadi, tidak boleh berdua-duaan dalam satu mobil.”

“Oh.” Meski tak begitu paham dengan apa yang disampaikan oleh Alex, namun Sherly berpura-pura seolah-olah memahami maksudnya. Daripada penjelasannya bertambah panjang kali lebar kali tinggi. Jadi, lebih baik pura-pura paham saja.

“Kamu saja yang diantar oleh Pak Wingky. Pinjami aku mobilmu yang lain, boleh, kan? Aku bisa nyetir mobil sendiri. Biasanya juga seperti itu. Ke mana-mana aku biasa pergi naik mobil sendiri.”

“Oke.” Alex memberi lampu hijau pada sang istri.

*

“Eh, gimana kabar elo? Gue kangen berat, nich.” Sherly dan Sofia berpelukan. Mereka kini tengah berada di salah satu restoran cepat saji dekat kantor, tempat mereka bekerja. “By the way, gue penasaran dengan model baju elo hari ini. Elo pakai baju apaan, sich? Hijab syar’i? Apa kamu nggak gerah siang-siang begini pakai baju seperti ini? Yang penting itu hijabin hati dulu ajah kali, Sis. Iya kan?”

“Ini permintaan suamiku.”

“Oh, Sis, gimana kabar elo? Tadi belum, tuch.”

“I’m fine. And you?” Sherly menjawab pertanyaan sahabat dan bertanya balik kondisi sahabatnya.

“I’m fine too. Thank you,” jawab Sofia penuh antusias.

“Eh, ayo, dong, ceritain siapa suami elo?”

“Kasih tahu nggak, ya? Ah, pesan menu dulu, dech. Laper banget nich.”

“Oke. Aku yang pesenin, ya. Mbak, pesan menu paket 1 dua porsi ya?”

“Oke, Mbak,” jawab seorang waitress.

Tidak perlu menunggu waktu lama, menu pun sudah siap diantar ke meja keduanya.

“Permisi, pesanan sudah datang. Silakan dinikmati, Mbak.” Seorang waitress mengantarkan pesanan mereka dengan ramah dan sopan.

“Terima kasih, Mbak,” jawab Sherly.

“Sama-sama,” jawab waitress sambil memasang senyuman manisnya.

“Oke, lanjut, ya, Sis. Buruan cerita. Gue siap nampung semua kisah elo. Siapa, sich, nama suami elo?”

“Alex,” jawab Sherly singkat dan datar.

“Alex Hartono bukan?” Sofia asal nebak karena di benaknya bergelayut nama tersebut.

“Benar,” jawab Sherly singkat dan datar lagi. Dia agak enggan menyebut nama sang suami.

“Eh, serius. Alex Hartono, suami elo? Elo-nya sadar nggak, sich, Alex itu kan salah satu pengusaha muda yang masuk ke dalam 10 daftar orang paling kaya se-Indonesia.”

“Glek.” Sherly menelan paksa minumannya. “Kamu tahu dari mana?” tanya Sherly setengah tak percaya.

“Gue baca di sebuah majalah entrepreneur. Coba aku search di Google, ya.”

“Oke.”

“Nah, yang ini, kan, orangnya?”

“Hmmm, iya.”

“Ya Allah, kalau orangnya sekeren ini mah gue kagak nolak. Uda ganteng, kaya lagi. It’s perfect. Kamu ada kenalan nggak yang kayak dia? Atau barangkali suami elo punya adik atau kakak laki-laki gitu? Gue mau banget dijodohin dengan salah satunya.”

“Nggak tahu.”

“Lho, kok bisa nggak tahu, sich? Elo ini nggak mau bantu sahabat sendiri, ya.”

“Bukannya begitu, Sofia. Sayang. Gue emang nggak tahu. Kita bahas yang lain ajah gimana?”

“Curang. Gitu, ya, awas! Beneran nggak mau cerita? Gue tinggal, nich.” Sherly mengeluarkan jurusnya untuk mengintimidasi sahabatnya supaya mau bercerita.

“Oke, aku cerita. Tapi, jangan diketawain.”

“Nah, gitu, dong.” Sofia senyum penuh kemenangan.

“Jujur, aku memang nggak tahu seluk-beluk suamiku. Aku saja baru tahu wajahnya 15 menit sebelum kami ijab kabul.”

“What?” Mata Sofia bak mau keluar saking kagetnya.

“One hundred percent is true. I’m an honest girl you know.”

“Girl? It means you are still virgin, is it right? Oh, my God.”

Sofia membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh sahabatnya.

“Pernikahan macam apa yang sedang kamu jalani, Sher? It’s so funny. Hahaha ….”

“Tuch, kan, ketawa.” Sherly mengerucutkan bibirnya.

“Oke, Dear. I’m sorry.” Sofia menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Oke, no problem. You are my best friend. Tiak mungkin aku tidak memaafkanmu.”

“Sher, lihat ini! Ini adalah profil suamimu.” Sofia menunjukkan hasil searching Google mengenai profil Alex Hartono dan keluarganya.

Sherly membaca profil suaminya dengan seksama. Dari awal hingga selesai. Dia menyimaknya dengan seksama.

“Assalaamu’alaykum.” Suara seorang lelaki mengagetkan mereka.

“Wa’alaykumussalam. Oh, my God. Alex?” Sofia terpanah melihat sosok lelaki di hadapannya.

“Yes, I’m Alex. Sher, apa kamu sudah selesai dengan urusanmu? Kita pulang sama-sama, yuk! Aku tunggu kamu di parkiran. Pak Wingky sudah pulang dari tadi. Aku ada banyak kerjaan. Jadi, kasian kalau Pak Wingky harus menunggu lama.”

“Eh, iya. Udah selesai, kok. Udah elo buruan aja. Sudah ditunggu suami elo. Kasian, kan, kalau harus nunggu lama?”

“Oke, see you.”

Sherly berjalan ke arah parkiran dengan langkah gontai. Pertama, melihat respons si Boss yang terlihat biasa-biasa saja melihat data yang dia miliki. Kedua, soal suaminya, Alex. Sungguh terlalu! Dirinya sama sekali tak tahu apa pun tentang suaminya.

“Where is the key? Let me drive the car!”

Sherly memberikan kunci mobil kepada suaminya dengan wajah jutek ala Sherly. Alex tersenyum karena sudah mulai terbiasa menghadapi sikap jutek sang istri. “Hehe, jutek lagi, jutek lagi. Istriku, oh Istriku.” gumam Alex dalam hati.

“Apa kau tidak mau bertanya padaku kenapa aku jutek padamu?”

“Tidak,” jawab Alex datar.

“Kau? Siapa kau sebenarnya?” tanya Sherly berterus-terang.

Alex hanya tersenyum. Mulai menyangka ke mana arah pembicaraan Sherly. “Salah kamu, kenapa kamu tidak mau mencari tahu tentangku terlebih dahulu. Ibarat memelihara kucing dalam karung. Untung, kucingnya coker alias cowok keren seperti diriku. Jadi kamu tidak rugi. Iya, kan?”

“Kamu? Huffft, sebel banget sama kamu.”

“Sudahlah, tidak perlu jadi beban pikiran. Tidak semua hal harus dibagikan kepada teman kita karena bisa jadi ada hal-hal tertentu yang harus kita jaga kerahasiaannya. Sher, apa kamu paham maksudku?”

“I don’t know anything. I’m shy.”

“Sher, nanti malam ada Kajian Ilmu Ekonomi Islam. Kamu ikut, ya? Lumayan bisa nambah ilmu bisnis yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an.”

“What?”

*

Sherly senang dengan materi kajian yang disampaikan oleh seorang ustaz kondang kelahiran Rembang. Ilmu retorikanya begitu hebat. Beliau bisa menyampaikan materi dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami dan memberikan gambaran dengan memperbanyak contoh lapangan. Tidak sia-sia dia datang ke kajian tersebut, meskipun awalnya harus dipaksa oleh Alex. Namun, kini dirinya justru bersyukur. Kajian yang mengusung tema “Bisnis Berkah Dengan Syari’ah” itu benar-benar mantap, unpredictable. Suaminya tidak hanya tampan dan mapan, namun juga seorang yang religius. Perfect.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here