Bahasa dan SastraPuisi

Hati yang Tersandera

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Atik Setyawati

Pagi ceria bersama semerbak bunga
Harum mewangi
Menguap seiring cahaya terik matahari

Menanjak hingga panas
Terasa membakar kulit
Semakin terik
Terik dan mencekik

Batas-batas itu
Telah terlanggar
Makin nanar
Tabrak sana-sini
Tak acuhkan lagi
Ayat-ayat suci

Semakin pongah merajai
Pertontonkan kemuakan
Di setiap sudut negeri
Halal atau haram, tiada berarti
Inikah wajah asli
Ataukah bualan ilusi?

Hati yang tersandera
Berusaha meronta
Makin kuat, semakin tak berdaya
Geliat sedikit saja
Pecut nyata didera

Insan terkasih
Satu per satu kembali
Sementara kezaliman tiada henti
Sampai kapan semua ini?

Sedangkan terik matahari pun perlahan redup
Berganti sore pembuka malam yang terus hidup
Tak pernah merasa cukup

Suratan pasti bicara
Hati-hati yang tersandera
Akan terbebaskan jua segera
Penyelamat itu akan tiba
Bebaskan sandera
Bebaskan menerapkan syariat-Nya

Sudah lama
Menantikan hadirnya
Seteguk kasih penghilang dahaga
Menjadikan kembali mulia
Di dunia
Hingga ke akhirat sana

Metro, 27 Februari 2021
(Mengenang seabad runtuhnya Junnah Umat)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 9

Comment here