Bahasa dan SastraCerpen

Goresan Cinta dari Papua

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Lestari Umar

Wacana-edukasi.com. Butir-butir tetesan hujan perlahan turun membasahi ladang kangkung seluas 500 meter disebelah rumahku. Kubuka lebar jendela kayu di sudut ruang tamu. Pemandangannya sungguh menyejukkan mata, dengan iringan semilir angin sore yang terasa dingin. Kutelusuri tiap lekukan ladang hijau yang terhampar luas ,pandanganku teralihkan pada sebuah kain yang tergantung disebuah kayu besar.

Aku sedikit tersentak saat menyaksikan kain itu bergerak-gerak. Akalku berimajinasi tentang apa yang baru kusaksikan. Sejenak kumencoba memahami, kemudian datang seorang perempuan peladang menghampiri gantungan kain tersebut. Kuamati dari tempat kuberdiri, ada sosok bayi yang dikeluarkan dari kain itu.

“MasyaAllah” … dalam hatiku bergumam.
Sejak kapan bayi itu berada di sana? Apakah cukup aman ia diletakkan disana oleh ibundanya? pikirku.

Kulambaikan tangan kanan keatas, tanda memanggil. Kulemparkan senyum mengembang kepada sosok ibu yang baru saja meraih anaknya. Sekuat tenaga kuteriakan beberapa kalimat mencoba untuk mengajaknya sekedar berteduh di teras rumah. Ia membalas senyumanku dengan ramah. Kulihat dari kejauhan, ia mulai melangkahkan kakinya ke arahku dengan pakaian yang setengah basah sembari tetap berusaha menghalau hujan agar tak terkena bayi tercintanya.

“Mari duduk disini, tunggu hujannya reda.”… kusapa ia sesaat setelah berhasil menghampiriku diteras rumah, dengan senyum yang masih kupertahankan sedari tadi. Ia adalah seorang perempuan asli papua, disini tempatku merantau. Kami biasa menyapa mereka dengan sapaan mace yang berarti mama.

“Mace tinggal dimana?” … kubuka percakapan dengan menanyakan tempat tinggal perempuan itu. Meskipun kami sering berpapasan saat beliau lewat didepan rumah untuk keperluan berladang yang letaknya disebelah rumahku, biasanya kami hanya saling bertegur sapa seadanya. Tak pernah ada satu kalipun moment seperti ini yang membuat kami dapat mengobrol bersama.

Ia mengarahkan jari telunjuk ke arah gunung besar yang berada di sebelah perkampungan tempat tinggalku, untuk menjawab pertanyaanku tadi.

Aku menyimak sambil membuka kain gendongan yang ia gunakan untuk menggendong anaknya yang  membuatku penasaran. Kudapati  sesosok bayi kecil sekitar umur dua bulan-an sedang tergeletak tidur. Rasa penasaran itu membuatku bertanya untuk kedua kalinya yang dijawab dengan kalimat sederhana.

“Kenapa anaknya dibawa? Kenapa tidak ditinggal dirumah? Kasihan digantung disitu.”

“Tidak apa-apa, Tuhan Yesus jaga”

Jawaban singkat itulah yang keluar dari mulutnya. Sebuah kalimat yang terpancar dari sebuah keyakinan yang beliau anut. Begitulah umumnya masyarakat disini, sebagian mereka adalah pemeluk Nasrani yang taat. Kami selaku umat muslim, baik muslim warga asli papua maupun pendatang biasa hidup berdampingan sebagaimana wilayah-wilayah lain di negri ini, kami saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Kutanggapi jawabannya dengan sebuah senyuman. Kutawari beliau minum sembari memberikan sekotak tisu untuk membersihkan air hujan yang masih membasahi bayi mungilnya.

Begitulah kami disini semua berjalan dengan sewajarnya, kalau bukan karena ada provokator yang selalu membuat hubungan bermasyarakat terkotori dengan sikap saling mencurigai satu sama lain dan membuat jurang pembatas yang tidak bisa dielakkan. Bahkan bisa menyebabkan konflik tak berkesudahan.

………………………………

Sore itu di bulan Agustus, seperti biasa aku dan suami sedang duduk-duduk santai di ruang tamu, terdengar telpon masuk dari kakak laki-lakinya. Cukup lama mereka berbincang, sesekali kulihat mas Agung menampakan ekspresi wajah serius selama perbincangan dengan saudara laki-lakinya itu.

“Baiklah, terimakasih infonya mas. InsyaAllah nanti saya akan berhati-hati” … Kudengar suara mas Agung mengakhiri obrolannya.

“Ada apa mas?” … Tanyaku kemudian.

“Ada unjuk rasa pagi tadi, coba nyalakan televisi, dik!” … pinta mas Agung.

Segera kuraih remote tv yang berada di atas meja. Kutekan saluran berita televisi yang biasa kami tonton, berharap ada siaran berita terbaru yang sedang ditayangkan.

Kami memandang layar televisi dengan seksama. Menyimak tiap detail narasi yang dibawakan oleh sang pewarta berita. Video unjuk rasa pun ditampilkan. Nampak situasi yang cukup mencekam dari sekilas tayangan yang ada. Terlihat segerombol masa berkumpul dan mulai memadati sudut kota disana. Para pengunjuk rasa sangat meluapkan amarahnya. Kerusuhan pun tak bisa terhindarkan.

Sekelompok aparat keamanan berjaga-jaga membentuk satu barisan. Dengan pakaian lengkap dan tameng, mereka mengamankan kota dari kemungkinan terburuk dari setiap aksi-aksi kerusuhan yang biasa terjadi.

Nampak ada satu pengunjuk rasa yang mulai beraksi diluar batas ketentuan aksi semestinya. Ia mencoba merusak beberapa motor yang terparkir disisi jalan. Merobohkan dan menendang badan motor dengan beringas. Hingga akhirnya menyulut api kearah motor rusak yang sudah tak ada lagi bentuknya. Tiba-tiba sebuah dentuman besarpun terdengar setelah korek api yang ada ditangannya berhasil ia sulut ke atas motor ringsek tersebut.

BUUUUUUMM. Suara dentuman beriringan dengan suara sebagian pengunjuk rasa yang bersorak meneriakkan yel-yel dengan serentak. Hari semakin siang, namun tak ada tanda-tanda unjuk rasa akan berakhir.

……………………..

Hingga menjelang petang hari, berita televisi masih saja menyiarkan ulasan terkait perkembangan terbaru unjuk rasa yang terjadi di sebagian wilayah timur Indonesia ini.

Selepas sholat ashar tadi kulantunkan doa dan harapan kehadirat Allah Swt. berharap unjuk rasa dan kerusuhan tidak meluas ke wilayah-wilayah lainnya, Terutama di kota Jayapura tercinta yang menjadi tempat tinggalku selama merantau di bumi Papua ini.

Sejenak aku beranjak dari hadapan tv yang sedari tadi kusimak. Mas agung bersiap ke kamar mandi, sedangkan aku bergegas menuju kamar untuk menyiapkan keperluannya ke salah satu rumah sakit umum di kota kami, tempatnya bekerja. Malam ini jadwal dinas, seperti biasanya beliau baru akan kembali esok harinya sekitar pukul 09.00 WIT.

Selesai menyeterika pakaian dan menyiapkan makan malam, aku kembali memikirkan berita sore tadi. Semua masyarakat dipenjuru negeri pun pasti merasakan perasaan yang sama seperti kami yang berada disini.

Hatiku begitu sedih dan sangat terpukul akan peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi di wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan pemandangan laut eksotik ini.

“Lagi memikirkan apa dik?” … Suara Mas Agung memecah lamunanku.

“Aku masih memikirkan kerusuhan tadi Mas” … Jawabku dengan singkat.

“Yang sabar ya dik, mari kita berdoa semoga tidak akan terjadi apa-apa lagi”.

Rupanya suamiku sedari tadi mengamatiku yang masih gelisah karena berita yang kami saksikan tadi.

“Iya mas, tapi…”

“Sudah, adik istirahat saja. Mas berangkat dulu ya” … Pintanya sambil mengusap-usap kepalaku.

“Mas pamit yaa”.

Kuturuti permintaannya, kuraih tangannya dan kukecup dengan lembut. Kuhantarkan Ia sampai di pintu gerbang. Setelah menutup pintu dan memastikan semua aman, kucoba menenangkan diri dengan menikmati secangkir teh hangat sambil menelpon orang tuaku di kampung untuk memberikan kabarku disini…….

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIT. Tidak seperti biasanya suamiku telat pulang ke rumah jika ada dinas malam. Kuraih smartphone dan mulai mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya.

Kukirim pesan singkat untuk menanyakan keadaannya. Namun hanya tertera logo pending disana, pesanku tidak terkirim. “Ada apa ini”? … Tanyaku dalam hati. “Mungkinkah karena jaringan internet terganggu”? … Kutekan nomor kontaknya, kuhubungi dengan panggilan biasa,  namun tidak tersambung juga.

Aku beralih kepada aplikasi pencarian internet, kuketik berita terkini. Tidak muncul apa yang kucari, hanya keterangan tidak ada sambungan. Internet mati. “Astaghfirullah” … gumamku dalam hati.

Kuraih remote tv, kutekan tombol power dan saluran berita. Kusimak setiap kata yang dibacakan oleh wanita pewarta berita dengan seksama.

Kulirik jam di layar smartphone, tertera Jam 10.30. Mas Agung belum juga pulang. Kembali kutekan nomor kontaknya, namun disaat yang sama ada telepon masuk. Aku langsung mengangkatnya.

“Assalamualaikum dik, ini Mas Bagas, mas telpon pakai nomor kantor”.
“Waalaikumsalam. Nggih, bagaimana Mas?” Kujawab salam dari Mas Bagas disebrang sana. Ia adalah saudara suamiku yang tinggal di pulau jawa. Sengaja ia menghubungi untuk menanyakan kabar kami disini.

“Kamu semua disana baik-baik saja to dik, mas sedari tadi hubungi Agung, tapi tidak bisa terhubung”.

“Nggih Mas, sepertinya jaringan sedang terganggu. Alhamdulillah kami baik-baik saja, Mas Agung semalam ada dinas, dia belum pulang kerumah”.

“Mas lihat berita di televisi, kamu hati-hati ya dik, jangan keluar rumah dulu kalau tidak ada keperluan penting”.

“Nggih Mas” … kudengarkan setiap perkataan Mas Bagas, sampai akhir percakapan. Sementara benakku masih saja memikirkan keberadaan suamiku yang belum juga bisa dihubungi. Pikiranku semakin tak menentu, ditambah lagi berita yang menayangkan ada seorang dokter yang menjadi korban serangan para pengunjuk rasa di wilayah lain. “Ya Allah, jagalah suamiku” … Aku belum siap kehilangan dia. Kuusap buliran hangat yang mengalir perlahan di sudut mataku. Aku beranjak menuju pintu saat kudengar suara bising orang berlalu lalang di jalan depan rumahku. Kuperhatikan orang-orang dengan motor yang mereka kendarai tersebut. Nampak beberapa anak Sekolah Dasar yang dibonceng oleh orang tua mereka. “Mengapa mereka sudah kembali dari sekolah? padahal baru jam sepuluh pagi” … Tanyaku dalam hati.

Kuberanikan diri menuju teras, saat kulihat tetangga sebelah rumah memarkirkan motornya. Kudapati juga ia baru saja menjemput anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar. Segera kuberjalan ke arahnya, untuk bertanya.

“Anak-anak sudah pulang sekolah kah Ibu?” … Tanyaku kepada tetangga sebelah rumahku itu.
“Iya, kak. Karena ada unjuk rasa, maka anak-anak dipulangkan. Kakak masuk kedalam rumah saja, orang-orang sudah ramai sekali di jalan kabarnya pengunjuk rasa sudah mendekat ke arah kota”

Perasaanku tak menentu saat mendapat jawaban atas situasi yang terjadi dari tetanggaku tersebut. Masih dalam keadaan bingung, aku bergegas masuk ke dalam rumah. Seketika terbayang wajah suamiku di pelupuk mata. Pantas saja beliau belum pulang ke rumah, mungkin saja ia tertahan di tengah jalan karena ada rombongan pengunjuk rasa. Gumamku dalam hati.

Kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dhuha. Kuserahkan semua kegundahan hati kepada Allah. Dalam sujud yang lebih panjang dari biasanya, kusebutkan nama suamiku tercinta. “Ya Allah, jagalah ia” … Kuucapkan segala pinta dihadapan-Nya, berharap ia baik-baik saja. Tidak lama waktu berselang, smartphone-ku kembali berdering. Kutatap nama kontak pada layarnya. Tertera sebuah nama yang sangat kuharapkan ada disana.

“Assalamualaikum dik” suara Mas Agung membuka obrolan di telefon.

“Waalaikumsalam” … kujawab salamnya dengan cepat dan langsung menanyainya dengan beberapa pertanyaan yang sedari tadi membuatku cemas.

“Mas dimana? masih di kantor kah atau ada dimana? Mas baik-baik saja kan? Katanya ada unjuk rasa?”

“Hehehehe … sabar dik, pertanyaannya satu-satu lah”

“Lho kok Mas malah ketawa? Mas dimana sekarang? Kok belum sampai rumah?” Aku semakin penasaran karena belum mendapat jawaban, terdengar di ujung sana ia hanya tertawa.

“Maaf ya dik, kalau Mas sudah membuat adik cemas”. Mas Agung mulai menjawab satu persatu pertanyaan yang kuajukan. Ku Hela nafas panjang, kuberikan kesempatan padanya untuk menceritakan semuanya.
“Pagi tadi, rekan kerja kami belum ada yang datang untuk menggantikan tugas jaga. Sepertinya mereka tertahan karena ada rombongan pengunjuk rasa yang memadati jalan-jalan utama. Makanya, Mas lanjut jaga sampai ada teman yang bisa menggantikan”

“Lalu kenapa Mas tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi?”

“Ooh, itu karena para pengunjuk rasa sempat mendekat ke arah rumah sakit. Semua panik. Entah siapa yang memulai, tapi kami yang berada disana diarahkan untuk lari ke atas menjauhi area rumah sakit, karena ada kabar bahwa pengunjuk rasa mau ke arah rumah sakit. Hp mas tertinggal diruang IGD , ini mas baru kembali, makanya baru bisa hubungi adik”

“Ooh begitu, terus kapan Mas bisa pulang? apakah sudah ada teman yang menggantikan?”
“Belum tahu ini dik, jalanan masih penuh dengan pengunjuk rasa. Tadi, Mas dapat kabar kebakaran di pelabuhan”.

“Innalillahi” aku tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang kukhawatirkan pun terjadi. Kerusuhan tak bisa dihindari, bahkan hingga disini di ibu kota provinsi.

“InsyaAllah kalau sudah kondusif, Mas segera pulang. Doakan Mas ya dik, assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” … kututup telepon darinya. Walau belum bisa mengetahui secara jelas akan apa yang terjadi. Setidaknya aku sudah bisa sedikit bernafas lega, mendengar suaranya bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.

Aku hanya bisa terus berharap semoga semua cepat terselesaikan. Suamiku bisa pulang kerumah dengan selamat. unjuk rasa bisa berjalan dengan aman, tanpa ada korban yang berjatuhan baik dari pihak pengunjuk rasa maupun dari pihak keamanan. Sesak rasanya dada ini, melihat permasalahan demi permasalahan seperti tak kunjung usai. Lepas satu persoalan, satu persoalan lain muncul.

Beginilah, apabila kita sebagai seorang hamba masih belum mau menginsafi kelalaian diri. Kita masih saja mengabaikan aturan Sang pemilik diri. Seandainya mau merujuk kepada aturan-Nya, seharusnya konflik yang seperti ini tidak akan terjadi dan tidak terulang lagi. Karena jika hanya bersandar pada solusi hasil pikiran manusia, sepertinya tidak ada yang bisa diharapkan lagi.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku masih berada di kota ini, bergelut dengan rutinitas dan rajutan mimpi di tanah rantau seperti hari-hari yang lainnya, Pagi ini aku masih sibuk dengan rutinitas membersihkan rumah, menyapu teras kecil seperti biasanya. Kutata rak sepatu yang ada disudutnya, kusiram bunga-bunga yang ada dalam gantungan-gantungan pot disudut bagian lain.

“Selamat pagi” sebuah suara menghentikan kegiatanku. Kutengok ke arah sumber suara. Kudapati mace melintas di hadapanku.

“Selamat pagi” kujawab sapaannya seperti biasa. Kami saling melempar senyuman.

Kupandangi ia hingga tiba di ladang kangkung miliknya. Ia terlihat rajin seperti biasanya. Sejurus kemudian mace sudah berada di tengah-tengah kebun tertutupi oleh rimbunan tanaman-tanaman kangkung. Pemandangan sederhana ini justru yang didambakan oleh kita semua selaku warga masyarakat. Keadaan yang tenang tanpa ada huru-hara sebagaimana yang terjadi tepat di bulan Agustus setahun lalu. Kehidupan seolah berjalan sebagaimana mestinya.

Harapan kami umumnya selaku rakyat negri adalah terciptanya rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa ada rasa was-was atas konflik yang senantiasa berulang, dan bagi masyarakat Papua seperti mace, harapan hidup yang lebih baik dari yang sebelumnya sepertinya masih menjadi sebuah impian untuk bisa terwujud. Semoga.

Papua..
Bestari indah memikat hati
Elok lautnya..Hijau tanahnya menjulang hingga tinggi
Siapakah wahai sang pemilik negri
Kiranya boleh kusapa ia dengan cinta dan sayang seorang saudari

SELESAI

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here