Opini

Generasi dalam Ancaman Kemiskinan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anisa Rahmi Tania

wacana-edukasi.com, OPINI– Sial, lagu yang dibawakan Mahalini sepertinya menjadi ramalan untuk nasib generasi di masa depan. Mengapa? Karena jika dilihat dari laporan lembaga dunia, generasi muda di masa depan akan menghadapi kemiskinan yang ekstrem.

Dilansir dari laman kumparan.com (15/02/2024), sekitar 1,4 miliar anak di seluruh dunia tidak memiliki akses perlindungan sosial. Data ini dikeluarkan lembaga PBB dan badan amal Inggris Save the Children, Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF), dan Organisasi Buruh Internasional (ILO). Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit, gizi yang buruk, serta terpapar kemiskinan.

Menurut Direktur Global Kebijakan Sosial dan Perlindungan Sosial UNICEF, Natalia Winder Rossi, sebanyak 333 juta anak berada dalam kemiskinan ekstrem. Mereka berusaha bertahan hidup dengan rata-rata pendapatan harian kurang dari 2,15 dolar AS atau Rp33.565. Sementara hampir satu miliar anak hidup dalam kemiskinan multidimensi. Lembaga-lembaga dunia tersebut menyatakan tunjangan untuk anak sangat penting untuk menciptakan kesejahteraan anak-anak dalam jangka panjang. Tunjangan ini dapat berupa uang tunai atau kredit pajak dan pemberian akses layanan kesehatan, nutrisi, pendidikan berkualitas, air dan sanitasi.

Salah Menerapkan Sistem

Ketika suatu keadaan secara terus menerus mengalami kondisi yang salah, artinya ada kesalahan yang sifatnya sistemis. Bukan sebatas kesalahan teknis atau metode. Maka yang butuh menjadi bahan analisa adalah penerapan sistem yang selama ini berlaku. Bukan sebatas mengoreksi individu atau lembaga yang menjadi pelaku lapangan.

Begitu pula dengan kondisi generasi saat ini. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat hari ini tidak sedang baik-baik saja. Banyak permasalahan yang terjadi. Utamanya terkait dengan kesejahteraan, pemenuhan hak-hak primer yang terbengkalai, dan lain-lain. Kondisi ini berlangsung bukan akhir-akhir ini saja, namun telah terjadi bertahun-tahun lamanya dan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Di Indonesia sendiri, kemiskinan ekstrem diperkirakan akan melonjak drastis pada tahun 2024. Hal ini karena basis perhitungan yang digunakan pemerintah selama ini berbeda dengan perhitungan global. Secara global purchasing power parity (PPP) per hari adalah US$ 2,15, sementara pemerintah masih menggunakan basis perhitungan Us$1,9 PPP per hari.

Artinya jika menggunakan basis perhitungan global, pemerintah mempunyai PR mengentaskan 6,7 juta orang penduduk miskin hingga 2024. Hal itu sama dengan 3,35 juta orang per tahunnya. Jumlah yang terbilang sangat banyak (cnbcindonesia.com, 5/6/2023).

Begitulah, aneh tapi nyata negeri yang kaya ini dihuni banyak penduduk miskin. Penyebabnya karena negeri ini dan banyak negeri lainnya di dunia telah menerapkan sistem kapitalisme yang dilegalkan demokrasi. Dari penerapan sistem ini, tampak dengan jelas bagaimana ekonomi suatu bangsa porak -poranda. Jurang antara si kaya dan si miskin menganga lebar. Satu sisi ada segelintir orang yang untuk sekali makan bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang jutaan rupiah. Tapi di sisi lain jutaan orang seok-seok mencari sesuap nasi. Banyak yang terlunta-lunta menghidupi keluarganya karena mereka tak punya sumber pencaharian yang jelas. Sementara beberapa orang ada yang menenteng tas kecil seharga rumah atau memakai sepatu seharga mobil.

Sistem ini memfasilitasi para pengusaha untuk terus menghimpun harta. Sementara mereka melupakan mayoritas masyarakat di luar sana.

Inilah yang dinamakan permasalahan sistemis. Dan membutuhkan solusi sistematis pula. Ada kesalahan sistem yang harus diganti. Bukan sebatas penyaluran dana bantuan, operasi pasar murah, atau berbagai bantuan sosial lainnya. Karena bantuan semacam itu tidak lebih dari solusi tambal sulam ala kapitalisme. Mereka mencoba meredakan kegetiran hidup masyarakat kecil. Mereka sebatas berusaha memberi angin segar sesaat untuk memadamkan bara yang hampir bergejolak di tengah masyarakat. Sebatas itu saja.

Pada akhirnya, kebijakan yang menzalimi masyarakat terus dilanjutkan. Dan para penguasa merasa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak ada pelanggaran atas sistem yang berjalan. Maka tak heran jika selalu ada daftar rakyat yang tidak bisa lepas dari kemiskinan, bahkan bertambah.

Mengganti dengan sistem Islam

Kesejahteraan masyarakat hanya akan tercipta tatkala sistem kapitalisme telah dicabut dari akarnya. Kemudian diterapkan sistem yang telah teruji keberhasilannya. Itulah sistem Islam. Islam telah teruji keberhasilannya dalam menata kehidupan masyarakat. Memenuhi hak-hak primernya. Menciptakan masyarakat Islam yang penuh dengan keadilan dan kebijaksanaan.

Tidak main-main. Tercatat dalam sejarah, 13 abad lamanya Islam bisa merangkul berbagai agama, ras, dan suku di berbagai belahan dunia. Karena Islam adalah satu-satunya sistem kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia, menjadi solusi atas setiap problematika kehidupan, serta menentramkan jiwa. Islam mampu membawa peradaban dunia ke dalam puncak peradaban emas.

Saat itulah kesejahteraan terwujud. Karena negara menjadi pengurus warganya. Negara bukan sebatas regulator, tetapi sebagai pengurus dan pelayan bagi setiap warganya.

Kekayaan alam ditempatkan sebagai milik umum yang hasil pengolahannya wajib untuk kepentingan umum. Para pengusaha tidak bisa dengan leluasa mengeksploitasinya. Semua kebijakan harus berada dalam jalur hukum syara, yakni aturan Allah SWT. Sang pemilik, pencipta, dan pengatur jagad raya ini.

Wallahu’alam bisshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 8

Comment here