Opini

Eliminasi TBC, Butuh Peran Negara

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh. Ummu Choridah Ummah, S.Farm. (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, OPINI– Indonesia menduduki peringkat ke dua dengan kasus tuberkulosis (TBC) terbanyak. Guru besar FKUI mengatakan per tahun terdapat 1.060.000 kasus TBC dan 140.700 meninggal dunia, bila dibagi terdapat 16 orang meninggal dalam 1 jam akibat TBC. Untuk mengeliminasi kasus ini membutuhkan kolaborasi dari semua pihak, bukan hanya tenaga medis saja. Penanganan kasus TBC harus terstruktur dan masif, karena saat ini setiap pihak cenderung bekerja sendiri-sendiri, ada yang mendiagnosa, memberikan terapi. Semua berkerja sendiri, penanganan ini harus terorkestrasi. Semua pihak harus disatukan sehingga semua harmonis dan terarah. (Liputan6.com 16-02-2024)

Budi Gunadi Sadikin dalam acara Stop TB Partnership menyampaikan bahwa indonesia telah melakukan berbagai upaya dalam mengeliminasi TBC. Salah satunya dengan meluncurkan BPaL dan BPaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moksifloksasin). Pengobatan ini dikenal sebagai obat oral jangka pendek untuk penderita TB yang telah resisten obat (TBC RO). Selain itu, Indonesia juga mendukung inovasi dalam mendiagnosa TBC dengan memproduksi lima alat deteksi TB berbasis PCR. Menteri Kesehatan Budi Gunadi juga mengatakan bahwa pengeliminasian kasus TBC ini dapat bersampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. (InfoPublik.com 12-02-2024)

*TBC Penyakit Menular*

TBC atau TB (tuberkulosis) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. TBC umumnya menginfeksi paru-paru namun dibeberapa kasus TBC juga menyerang organ tubuh lain seperti tulang belakang, ginjal dan otak. Penularan penyakit TBC terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup droplet atau percikan ludah saat seseorang yang terinfeksi bersin atau batuk-batuk. Pengobatan TBC tidaklah sesingkat meminum obat demam 8 jam setelah minum obat kemudia sembuh. Terapi TBC terdiri dari beberapa antibiotik yang diminum dalam jangka waktu yang panjang, berkisar 6 sampai 11 bulan.

Melihat panjangnya rentetan penyebab kasus hingga pengobatan TBC, di Indonesia justru masih menjadi ancaman serius. Edukasi mengenai penyakit menular ini tidak semasif penyebaran informasi tentang Covid-19, banyak masyarakat yang masih awam terhadap bahaya dan cara penularan penyakit ini. Sehingga penularan melonjak pesat, penanganan yang kurang memadai dan masih banyaknya lingkungan yang tidak sehat. Menjadi faktor penting untuk segera ditindak.

*Bagaimana Negara Mengeliminasi Kasus TBC?*

Penularan ini semakin cepat di lingkungan padat penduduk, tidak tercipta lingkungan yang bersih dan lingkungan yang lembab. Namun pada nyatanya pada tahun 2023 ada 7,94% masyarakat Indonesia menempati rumah kumuh, ini artinya 8 dari 100 rumah di Indonesia adalah rumah kumuh yang tidak layak huni dengan luas tempat tinggal yang tidak cukup, kurang gizi dan sanitasi yang buruk. Dapat dibayangkan bila salah seorang penghuni rumah ini terinfeksi tuberkulosis maka kemungkinan besar anggota keluarga lain juga terinfeksi.

Sangat disayangkan kebanyakan masyarakat menganggap bahwa penyakit TBC sebagai penyakit yang tabu. Sehingga banyak di antara penyintas merasa malu untuk berterus terang mengatakan bahwa dirinya sedang terinfeksi tuberkulosis. Maka yang terjadi, penyintas tidak melakukan tindakan pencegahan penularan. Mereka akan bersikap biasa seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika dropletnya mengenai orang lain. Sudut pandang masyarakat tentang ini memang perlu untuk diluruskan, disini perlu adanya peran tenaga medis dalam menyampaikan kondisi pasien untuk melakukan pencegahan infeksi. Maka peran negara adalah memberikan informasi atau penyuluhan kepada masyarakata tentang penyebaran TB sekaligus mengubah sudut pandang masyarakat terhadap TB.

Bila ada penularan maka perlu ada pengobatan ini yang bisa kita lihat dari usaha yang dilakukan oleh pemerintah. Sangat disayangkan karena fokus pemerintah saat ini hanyalah pada pengobatan saja, pada kenyataannya ada banyak faktor penularan yang masih terbuka lebar. Tentu pemerintah perlu memberikan solusi yang mendasar atas faktor yang berpengaruh terhadap penularan penyakit ini. Di antara faktor yang perlu dibenahi adalah kemiskinan dengan segala dampak dari kemiskinan seperti kondisi tempat tinggal yang tidak sehat, gizi buruk sampai dengan sanitasi yang buruk. Karena terwujudnya masyarakat sehat adalah tanggung jawab negara, termasuk eliminasi TBC.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyebaran TBC yang masif disebabka oleh kesalahan sistemik. Di mana sistem yang salah akan memberikan banyak masalah, sistem yang diemban saat ini memberikan dampak kemiskinan sehingga masyarakat banyak yang terinfeksi penyakit-penyakit menular, selain itu akibat dari sistem kapitalisme yang hanya mementingkan keuntungan maka biaya rumah sakit dan harga obat pun mahal, sulit dijangkau oleh masyarakat. Kesalahan sistemik ini menjadi faktor penting dalam penyebaran penyakit tuberkulosis.

*Islam Menciptakan Masyarakat Sehat*

Salah satu kewajiban negara adalah memberikan jaminan kesehatan bagi rakyatnya. Sedangkan dalam sistem kapitalisme jaminan kesehatan ditanggung oleh masing-masing individu itu sendiri dengan dibebani biaya iuran kesehatan.

Islam juga menyediakan hunian yang layak dengan menyediakan rumah sehat bagi rakyat. Dalam Islam pencegahan akan diupayakan sebelum terjadi penularan, sudah tentu akan mengupayakan berbagai hal untuk memberantas penyakit termasuk TBC seperti mendukung riset untuk menemukan pencegahan dan pengobatan yang efektif. Juga mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit dan upaya pencegahannya.

Terbukti dalam sejarah, ketika terjadi wabah kusta di zaman Rasulullah, bagaimana Rasulullah menangani wabah itu dengan sigap sehingga wabah pun dapat tertangani dengan baik. Maka seperti itulah Islam dengan kesempurnaannya mengatur urusan manusia, bukan hanya soal peribadatan namun juga menyoal tentang kesehatan, bermasyarakat dan bernegara.

Maka solusi tuntas dalam segala persoalan termasuk mengeliminasi TBC hanyalan dengan penerapan hukum Islam, yaitu dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Dalam khilafah segala bentuk pembiayaan didapat dari dana baitulmal, untuk menjamin kesehatan masyarakat sebagai jaminan pemenuhan kebutuhan kolektif. Semua pembiayaan di sektor ini bersumber dari pos-pos pendapatan negara, seperti hasil hutan, barang tambang, harta ganimah, fai, kharaj, jizyah, ‘usyur, dan pengelolaan harta milik negara lainnya. Dengan tegaknya Khilafah Islam akan tercipta masyarakat sejahtera dan sehat.

Allahualam bishawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 15

Comment here