Opini

Banjir di Paru-Paru Dunia

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Syiria.S (Sintang)

wacana-edukasi.com, OPINI– Banjir bukanlah hal yang asing nan aneh. Namun ia adalah sesuatu yang sudah sangat melekat bahkan menjadi ciri khas beberapa daerah di Indonesia setiap musim hujan, salah satunya adalah Kalimantan.

Sedikit aneh memang, pulau yang mendapat julukan paru-paru dunia karena wilayah hutannya yang sangat luas, kok bisa ada banjir? Seharusnya hutan tropis selain memberikan oksigen juga sebagai penyerap air, semestinya tidak ada banjir.

Namun fungsi hutan Kalimantan mulai berkurang sejak pemerintah memberikan kebebasan akan kepemilikan tanah pribumi kepada asing. Karena azas kebebasan yang rusak inilah, kemudian asing mengalih fungsikan hutan kalimantan menjadikan lahan cuan. Kebun sawit yang bukan seadanya, namun hampir seluruhnya.

Bahkan hingga saat ini masih banyak yang tidak menyadari bahwa pengalihan fungsi hutan inilah yang menjadi salah satu sebab fenomena banjir langganan yang sulit diatasi dan bahkan semakin parah. Bagaimana tidak? lahan sawit semakin menguasai tanah kalimantan. Akan tetapi masih banyak yang tidak menerima fakta bahwa pohon kelapa sawit menjadi penyebab banjir.

Akar pohon sawit, merupakan akar serabut yang tidak dapat menyerap banyak air karena memang pohon dengan akar serabut tidak membutuhkan banyak air untuk hidup. Kita lihat saja faktanya, saat hujan turun akan ada genangan air di sekitaran pohon sawit. Karena akarnya tidak menyerap air, sementara unsur hara didalam tanah diserap oleh akar serabut untuk memenuhi kebutuhan pohon. Sehingga merusak tanah yang semula subur akan menjadi tandus. Butuh waktu sekitar 10 tahun untuk tanah kembali subur. Makanya lahan sawit yang pohonnya sudah tidak produktif, tanahnya akan dibiarkan tidak ditanami. Tanaman tidak hidup disitu, bagai di gurun pasir. Inilah fakta pohon kelapa sawit bisa menyebabkan banjir.

Pembelaan bahwa pohon sawit akan memproduksi minyak ataupun ekspor minyak bisa menjadi cuan bagi negara. Di satu sisi minyak di negeri ini mahal. Hal ini menyiratkan kita cuma dapat bangkainya dan kerusakannya saja. Tatkala banjir datang bahkan hingga menenggelamkan lahannya.

Selain itu, kurangnya drainase di beberapa kota di Kalimantan Barat menjadi pemicu banjir juga. Banyak titik dimana saat hujan air tidak dapat mengalir dengan baik karena tersumbat sampah dan juga akibat ditimbun tanpa dibuatkan gorong-gorong. Sehingga saat hujan air tidak dapat meresap kedalam tanah dan akan menjadi genangan di beberapa titik.

Beberapa kelurahan di tepian sungai adalah yang paling sering terkena dampak air pasang saat curah hujan tinggi. Namun sayang, upaya penanganannya hanya menggunakan karung yang diisi pasir (contoh kasus di kota Sintang). Karung pasir bagaimana akan menahan luapan air? Yang ada justru membuat repot, sudahlah tidak menjadi solusi malah menambah masalah.

Air tetap meluap ke perumahan warga dan saat surut menyisakan lumpur karena lumpurnya tertahan oleh tumpukan karung pasir tersebut dan tidak bisa terbawa air kembali ke sungai, tersaring sama karung pasir tadi. Beginilah jadinya jika sistem pemerintah tidak fokus pada umat, namun fokus pada royalti. Pelimpahan tanggungjawab kepada pihak lain tanpa pemantauan, tidak menghasilkan solusi.

Di dalam sistem Islam, pemerintah wajib fokus kepada kemashlahatan umat, bukan kepada royalti negara. Tidak ada kebebasan penguasaan lahan oleh asing, bahkan asing tidak akan diberi izin untuk memiliki tanah di dalam pemerintahan Islam apalagi sampai menguasainya. Hal ini sebetulnya adalah kunci, mengembalikan fungsi hutan kalimantan sebagai paru-paru dunia.

Permasalahan keuntungan karena produksi minyak jauh lebih untung didalam sistem Islam, karena tidak akan mentransformasi semua hutan menjadi lahan sawit. Namun jika memang diperlukan, maka hanya sebagian saja dengan pastinya memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan supaya tidak merugikan warga sedikitpun. Misalnya, jauh dari pemukiman dan di lahan dibuat drainase untuk mengalirkan air ke sebuah waduk atau danau buatan untuk menampung air hujan yang tercemari pupuk sawit sehingga airnya tidak mencemari air yang lain seperti air sungai ataupun air sumur.

Lahan dibuat dalam satu wilayah saja, yang mempekerjakan warga negara sesuai bakat dan kemampuannya. Produksi minyak diutamakan untuk kebutuhan pokok warga negara, setelahnya baru kemudian di ekspor yang keuntungannya masuk ke pemeliharaan lahan tersebut dan sebagian masuk ke baitul mal atau kas negara yang dipergunakan untuk kepentingan kesejahteraan seluruh warga negara tanpa kecuali.

Sudah sangat jelas sebetulnya, solusinya mengakar yaitu mengatasi masalah penyebab utamanya. Jika kita bahas aspek lain dari musibah alam yang terjadi yaitu sebagai suatu peringatan dari Allah karena kelalaian manusia, maka di dalam Islam diajarkan untuk bermuhasabah diri kemudian memperbaiki diri dengan bertaubat kepada Allah.

Jika Islam di terapkan sebagai suatu sistem, maka jelas maksiat akan berkurang meski kita tidak bisa memastikan seluruh warga akan patuh dan bebas dari kemaksiatan. Namun setidaknya berkurang kerusakan akibat kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah yang sempurna, baik untuk kebutuhan seluruh manusia. Kita harapkan jika ada musibah yang akan datang, itu bukan karena murka Allah namun sebagai ujian kenaikan derajat kita disisi Allah. Wallahu’alam bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here