Opini

Antara Kapitalisme, Sistem Ribawi, dan Omong Kosong Penghargaan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Aisyah Farha (Komunitas Liwa Squad)

Wacana-edukasi.com — Sri Mulyani kembali mendapatkan penghargaan sebagai menteri keuangan terbaik tahun 2020 di tengah gelombang penolakan pengesahan UU Omnibus Law yang masih bergulir. Dilansir dari detik.com 17/10, penghargaan tersebut diberikan oleh Global Markets, majalah berita ekonomi internasional yang diterbitkan saat pertemuan sidang tahunan IMF-World Bank Group.

Anugerah Finance Minister of the Year East Asia Pacific itu diberikan atas kinerjanya mempertahankan reputasi keuangan Indonesia di tengah kondisi yang lebih menantang dibandingkan saat ia kali pertama menjabat lebih dari 10 tahun lalu.

Pemberitaan ini mendapat perhatian dari ekonom Rizal Ramli. Menurutnya, Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan terbalik karena memberikan keuntungan besar bagi orang kelas atas, tetapi menyengsarakan rakyat kecil. Beban bunga yang lebih besar tentu saja akan ditanggung oleh rakyat dimasa depan (tribunnews.com 21/10).

Hutang rupanya menjadi masalah bangsa ini secara turun temurun. Walaupun Presiden berganti-ganti, masalah hutang ini tidak pernah bisa selesai. Bahkan jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Masalah hutang ini bukanlah takdir bangsa, kita bisa mengurainya dari akar permasalahan hutang itu sendiri.

Akar Permasalahan Utang adalah Sistem Ribawi

Akar masalah utang yang tidak selesai adalah sistem ribawi yang dianut oleh negeri ini. Berapapun jumlah hutangnya, bunga hutang selalu membanyangi. Apalagi pada sistem kapitalis yang sedang mendunia saat ini, hutang menjadi alat untuk mengendalikan negara lain.

Sistem ribawi seperti ini hanya akan menyengsarakan rakyat. Untuk memuluskan niatnya, para penjajah membingkainya dalam kemasan yang menarik, misalnya penobatan sebagai menteri keuangan terbaik. Padahal sejatinya, semua ini hanya akan menjadikan rakyat semakin terjerumus kedalam kubangan utang di masa depan.

Tinggalkan Sistem Ribawi, Kembalilah kepada Islam

Sistem kapitalisme tidak pernah berpihak kepada rakyat dan hanya menguntungkan para pemilik modal. Apalagi ditambah dengan sistem ribawi penghisap darah. Kita sudah merasakan sendiri dampak dari penerapan sistem ini dalam kehidupan kita, yang semakin hari terasa semakin sempit dan sulit.

Kondisi seburuk apa pun pasti ada solusinya. Jika kembali kepada aturan Islam, maka sebetulnya Allah azza wa jalla telah memperingatkan kita tentang sistem ribawi ini dalam Al-qur’an surah Al-Baqarah ayat 275, “… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ….”

Ayat ini menjadi landasan dari sistem keuangan dalam Islam, yaitu anti riba. Allah maha mengetahui bahwa sistem riba hanya akan menyengsarakan manusia itu sendiri.

Sistem kapitalisme telah membuktikannya, bahwa sistem ribawi hanya menjerumuskan rakyat kepada kondisi yang serba sulit seperti saat ini. Jika kita mau keluar dari masalah utang negara yang tak kunjung selesai ini, tidak ada pilihan lain, kita harus meninggalkan sistem ribawi kapitalisme dan menggantinya dengan sistem ekonomi Islam.

Sistem ekonomi Islam akan berjalan dengan baik jika ditunjang dengan sistem politik Islam yang akan menerapkan seluruh aturan Islam dengan sempurna. Sistem ekonomi dan sistem politik Islam telah terbukti sukses, selama kurang lebih 13 abad lamanya menaungi manusia dalam kesejahteraan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bish shawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 3

Comment here