Opini

Pembangunan Pusat Data Mewah: Sebenarnya untuk Siapa?

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Yulweri Vovi Safitria (Freelance Writer)

wacana-edukasi.com, OPINI–Batam memasuki babak baru dalam perjalanan pembangunan ekonomi. Selama beberapa dekade, sektor manufaktur, perdagangan, logistik, dan galangan kapal menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, seiring berkembangnya ekonomi digital global, Batam kini menjadi salah satu destinasi investasi digital paling menjanjikan di Asia Tenggara.

Sebagaimana diketahui, Batam berada di jalur strategis perdagangan internasional, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, infrastruktur telekomunikasi yang memadai, serta status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB). Oleh karenanya, Batam berhasil menarik investasi besar di sektor pusat data (data centre), Artificial Intelligence (AI), cloud computing, dan infrastruktur digital lainnya.

Jangan Salah Prioritas

Namun, di balik megahnya pembangunan pusat data, masyarakat Batam menghadapi ancaman serius, yakni krisis air bersih. Aksi unjuk rasa menuntut kejelasan atas terhentinya pasokan air bersih pun terjadi. Aksi tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, air disebut-sebut masih mengalir normal ke pusat data, tetapi mati ke rumah-rumah warga (batamnews.co.id, 14-10-2026).

Kondisi ini seolah menegaskan adanya ketimpangan prioritas dalam pengelolaan sumber daya publik. Pusat data memang membutuhkan daya listrik dan pasokan air bersih yang sangat besar sebagai sistem pendingin (cooling system) agar server dapat beroperasi tanpa terhenti. Namun, menjadikan kebutuhan industri di atas pemenuhan hak dasar rakyat adalah sebuah kekeliruan tata kelola yang mendasar.

Air bersih bukan sekadar kebutuhan penunjang, melainkan kebutuhan primer yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Ketika kran-kran di pemukiman warga kering, sementara pasokan ke kawasan industri digital mengalir tanpa hambatan, maka wajar jika gejolak dan rasa ketidakadilan muncul di tengah masyarakat.

Dampak Sistem Kapitalisme

Sistem kapitalisme yang berorientasi pada materi membawa dampak yang fundamental bagi kehidupan sosial masyarakat dan negara. Kebebasan kepemilikan modal serta mekanisme pasar bebas yang dianut oleh sistem ini telah mendorong sejumlah individu dan para pemodal menguasai setiap jengkal harta milik umum.

Mirisnya, regulasi yang diterapkan sering kali tidak berpihak kepada rakyat. Kebijakan yang lahir kerap pula menjadikan masyarakat sebagai objek keserakahan kaum kapital. Terkait hal ini, masyarakat berada dalam posisi paling rentan, sementara entitas pemilik modal terus melenggang tanpa pengawasan.

Selain itu, cengkeraman sistem kapitalisme kerap mengerdilkan peran sentral negara. Negara seolah hanya menjadi perpanjangan tangan kelompok pemilik modal untuk menguasai aset-aset strategis publik. Atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor vital justru diserahkan kepada para pemodal, baik domestik maupun asing.

Dampaknya, akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar makin terimpit. Rakyat kecil tidak lagi diposisikan sebagai warga negara yang wajib dilindungi hak-haknya, melainkan sekadar konsumen dari layanan publik yang telah dikomersialisasi. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa evaluasi mendalam, megaproyek pusat data seolah memperlihatkan paradigma pembangunan ala kapitalisme.

Dua Sisi Mata Pisau

Masyarakat perlu memahami bahwa ide dasar dari kecanggihan teknologi adalah untuk memudahkan, memberikan manfaat, dan meringankan pekerjaan manusia. Hal tersebut alamiah terjadi. Namun, menjadi tidak alamiah ketika kecanggihan tersebut menimbulkan persoalan.

Tidak dimungkiri, kemajuan teknologi terasa begitu pesat seiring perubahan zaman. Produk-produk hasil dari perkembangan teknologi kian nyata manfaatnya oleh masyarakat. Sayangnya, kemajuan teknologi tidak ubahnya seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi memberi dampak positif, tetapi di sisi lain juga membawa dampak negatif bagi masyarakat.

Fakta bahwa teknologi hari ini sudah menjadi kebutuhan tidak bisa dibantah, salah satunya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Tidak sedikit produk-produk AI bertebaran di media sosial, mulai dari video, desain, hingga tulisan dengan bantuan AI dengan mudah didapatkan. Tidak salah memang. Kesalahannya adalah ketika teknologi menggantikan peran manusia secara keseluruhan, mengikis kecerdasan intelektual, mengubur potensi manusia, dan menjauhkan masyarakat dari pemikiran yang cemerlang dan mendalam.

Semestinya kemajuan teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, bukan mengorbankan kebutuhan pokok mereka. Bukan pula memperlebar jurang ketimpangan dan merampas hak-hak mendasar rakyat, seperti menyerap kebutuhan air bersih dalam jumlah yang banyak. Tentunya hal tersebut patut menjadi perhatian serius, terutama bagi pemangku kebijakan.

Teknologi Menurut Islam

Islam memandang, teknologi merupakan hasil kecerdasan manusia. Pemanfaatan teknologi sah-sah saja selama tidak membahayakan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bersabda,

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.”(HR Imam Ahmad, Ibnu Majah dalam Kitab Al-Ahkam).

Islam mendudukkan sains dan teknologi sebagai sarana untuk mendakwahkan Islam, memakmurkan bumi, mempermudah manusia dalam menjalankan ibadah, dan menjaga institusi negara dari penjajahan. Teknologi juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga negara yang merupakan kebutuhan dasar umat.

Negara dengan sistem Islam memiliki tanggung jawab mengembangkan teknologi, riset, manufacturing, dan menjadi inisiator untuk melaksanakannya. Negara juga memiliki perintah politik atau visi politik untuk mengadopsi teknologi dan memiliki teknologi mutakhir untuk kemaslahatan umat.

Implementasinya dilakukan oleh seorang pemimpin yang menerapkan aturan Islam dan menempatkan penguasa sebagai junnah. Penguasa bisa mengawal implementasinya hingga tuntas, sebagai jaminan dalam meraih kesejahteraan.

Khatimah

Kemajuan teknologi dan derasnya arus investasi asing tidak boleh diukur hanya dari berdirinya gedung-gedung pusat data yang megah. Sebab, indikator keberhasilan pembangunan sejati terletak pada kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat.

Di bawah pengawasan negara yang menerapkan aturan Islam secara kafah, kemajuan teknologi akan membuat hidup masyarakat berkualitas, baik pekerjaan, dakwah, maupun ibadahnya. Sudah saatnya negara berbenah—meninggalkan sistem kapitalisme, lalu beralih ke sistem Islam sehingga umat tidak hanya cerdas dan kritis secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan yang paripurna.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here