Opini

Muharram, Momentum Menata Jalan Perubahan

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Pri Afifah (co. Founder literasiyun.id) 

Wacana-edukasi.com, OPINI–Jika kapal terus diterpa gelombang dari segala arah, yang perlu diperiksa bukan hanya ombaknya, tetapi juga arah kemudinya. Kalimat diawal sangatlah cocok untuk menggambarkan kondisi umat Islam saat ini. Dimana bulan Muharram datang membawa warna yang berbeda bagi kaum Muslim. Bukan sekadar penanda pergantian kalender, melainkan momentum untuk mengoreksi perjalanan umat serta arah kehidupan yang sedang dijalaninya. Sebab, hakikat pergantian tahun dalam Islam bukanlah tentang bertambahnya angka, melainkan tentang apakah jalan hidup kita sudah benar atau tidak.

Hari ini ketika 1 Muharram 1448 H tiba, umat Islam masih menghadapi berbagai persoalan yang seolah tak kunjung menemukan jalan keluar. Di dalam negeri, rakyat terus dibebani berbagai problem sosial dan ekonomi. Kondisi masyarakat hari ini sudah sangat berat, hingga memunculkan beberapa aksi perempuan yang mewakili komunitasnya menuntut tuntutan-tuntutan agar kehidupan semakin membaik. Dilansir oleh tirto.id, aksi demonstrasi masih mewarnai ibukota Jakarta, Kamis 18/6/2026. Sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa menjadwalkan akan turun ke jalan menyuarakan tuntutan mereka.

Menurut perwakilan aliansi, Mutiara Ika Pratiwi pada konferensi pers Rabu, 17/6/2026, aksi yang digelar di depan Istana Negara, Jakarta ini akan melibatkan sedikitnya 90 organisasi perempuan yang tergabung dalam aliansi tersebut. Selain dari Aliansi Perempuan Indonesia, mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta juga akan menggelar demo pada hari Kamis 18 Juni 2026 (Tirto.id 18/07/2026).

Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia turun ke jalan menyuarakan tuntutan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti penurunan harga BBM, pembukaan lapangan pekerjaan, penghapusan sistem outsourcing, peningkatan kesejahteraan buruh, serta prioritas anggaran negara untuk kepentingan rakyat. Mereka juga mendesak pemerintah menindaklanjuti berbagai persoalan ketenagakerjaan yang hingga kini belum terselesaikan. Aksi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dan kesejahteraan masih menjadi kegelisahan nyata yang dirasakan masyarakat, sekaligus menjadi gambaran bahwa berbagai kebijakan yang diterapkan belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dan harapan rakyat.

Persoalan-persoalan tersebut tidak hanya menyisakan luka bagi masyarakat, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kehidupan masyarakat saat ini. Mengapa berbagai program dan kebijakan yang silih berganti belum mampu menyelesaikan masalah hingga tuntas?

Pada saat yang sama, perhatian kaum muslimin juga tertuju kepada saudara-saudaranya di Palestina. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dunia menyaksikan penderitaan rakyat Gaza yang menghadapi serangan brutal, boikot, dan kelaparan massal. Anak-anak yang kehilangan orang tuanya, keluarga yang terpisah, dan fasilitas kehidupan yang telah hancur di tengah reruntuhan gedung-gedung. Namun ditengah penderitaan tersebut, umat Islam juga menyaksikan betapa terbatasnya cara-cara yang dilakukan untuk menghentikan kezaliman itu secara nyata.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa persoalan umat bukan hanya persoalan dalam negeri yang terjadi di satu wilayah. Namun ada masalah yang lebih besar dan lebih mendasar yang terus dihadapi umat Islam di seluruh dunia. Jumlah kaum Muslim yang sangat besar ternyata belum berbanding lurus dengan kekuatan yang mereka miliki. Umat yang dahulu pernah memimpin peradaban dunia kini justru berada dalam posisi yang lemah dan sering menjadi objek berbagai kepentingan global.

Karena itu, Muharram menjadi momen yang tepat untuk melakukan muhasabah untuk umat Islam. Muharram bukan sekadar merenungi peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, tetapi juga berusaha memahami akar persoalan yang sesungguhnya.

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia seharusnya diatur berdasarkan petunjuk Allah SWT. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, bahkan negara dan masyarakat. Ketika aturan Allah dijadikan pedoman, kehidupan akan berjalan sesuai fitrah dan tujuan penciptaan manusia.

Sebaliknya, ketika manusia lebih memilih aturan yang lahir dari akal dan kepentingan manusia semata, berbagai persoalan akan terus muncul. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan cara pandang bahwa agama cukup berada di wilayah ibadah pribadi. Akibatnya, banyak aspek kehidupan berjalan tanpa bimbingan syariat. Ukuran benar dan salah seringkali ditentukan oleh manfaat materi, keuntungan ekonomi, atau kepentingan politik.

Cara pandang ini pada akhirnya mempengaruhi seluruh bidang kehidupan. Dalam ekonomi, keuntungan menjadi tujuan utama meskipun harus mengorbankan kepentingan masyarakat. Hubungan negara dengan rakyat dalam urusan ekonomi seperti penjual dan pembeli. Dalam pergaulan, kebebasan dipromosikan tanpa batas yang jelas. Kehidupan bebas seperti binatang dipertontonkan seolah itu biasa saja. Komunitas penyuka sesama jenis terus bermunculan dan semakin berani. Media terus mengangkat isunya, sementara penegak hukum seolah tak melihatnya. Tidak heran jika berbagai kerusakan sosial kemudian muncul sebagai konsekuensinya.

Di tingkat dunia persoalan yang dihadapi umat Islam juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik dunia Islam saat ini. Negeri-negeri kaum Muslim terpisah, tersekat oleh batasan negara bangsa yang dibangun atas dasar nasionalisme. Akibatnya, kepentingan umat Islam sering kali kalah oleh kepentingan masing-masing negara. Persaudaraan akidah yang seharusnya menjadi pengikat utama umat, tampak seperti teori dalam buku-buku, ia tidak memiliki kekuatan politik yang mampu menyatukannya menjadi saudara. Gambaran saudara seperti dikabarkan oleh Rasulullah SAW.

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa umat Islam pernah hidup dalam satu kepemimpinan yang menyatukan berbagai bangsa, bahasa, dan wilayah di bawah naungan akidah yang sama. Dalam kondisi tersebut, umat memiliki kekuatan yang mampu menjaga kehormatan dan melindungi wilayah-wilayah Islam dari berbagai ancaman. Kekuatan yang akan menjaga umat Islam, adalah negara Khilafah yang menerapkan seluruh aturan Islam.

Refleksi Muharram tidak boleh berhenti pada melihat banyaknya masalah semata. Muharram harus menjadi titik awal untuk memperbaiki arah perjalanan umat. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW. mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh kesadaran yang benar. Beliau SAW tidak sekadar mengajak manusia memperbaiki ibadah individual, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan Al Quran sebagai dasar kehidupan.

Hijrah bukan hanya perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perpindahan dari kondisi yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah menuju kehidupan yang diatur oleh syariat-Nya. Karena itu, semangat hijrah yang perlu dihidupkan hari ini adalah semangat untuk menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

Perubahan tersebut tentu membutuhkan perjuangan yang panjang. Rasulullah SAW. dan para sahabat tidak memperoleh kemenangan dalam semalam. Mereka menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan pengorbanan. Namun mereka tetap teguh karena meyakini bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.

Di sinilah pentingnya peran dakwah. Dakwah bukan sekadar menyampaikan nasihat keagamaan, tetapi juga mengajak umat memahami Islam secara menyeluruh. Dakwah membangun kesadaran bahwa berbagai persoalan yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang harus diterima sebagai nasib, melainkan kondisi yang dapat diubah dengan kembali kepada petunjuk Allah.

Karena itu, memasuki tahun baru Hijriah ini, sudah saatnya umat Islam memperbarui tekad untuk semakin dekat dengan ajaran Islam dan mengambil bagian dalam upaya membangun kebangkitan umat. Bukan dengan sekedar mengenang kejayaan masa lalu, tetapi dengan menghadirkan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan hari ini.

Semoga Muharram 1448 H menjadi momentum untuk menata kembali arah perubahan umat. Momentum untuk menguatkan keimanan, memperkokoh persaudaraan, dan memperbesar kontribusi dalam perjuangan dakwah. Sebab hanya dengan kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh, umat akan menemukan jalan menuju kemuliaan yang hakiki dan keberkahan yang diridhai Allah SWT.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 9

Comment here