Surat Pembaca

Zionis Menghancurkan Masa Depan Anak Gaza

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Genosida yang dilakukan oleh Zionis bukan hanya menghancurkan fisik anak Gaza, akan tetapi juga merusakkan mental mereka. Banyak anak mendadak kehilangan kemampuan berbicara, padahal sebelumnya dikenal sangat ceria. Mereka merespon penderitaan, kekerasan, kehancuran, dan kematian dengan diam.

BBC memberitakan, seorang anak bernama Adam (5) yang semula ceria dan banyak bicara, tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak lagi berinteraksi dengan dunia setelah ia melihat langsung kematian ayahnya akibat bom. Ia sendiri terluka dan kehilangan kakinya. Kini Adam membisu, nyaris tidak makan, dan perkembangannya terhenti.

Dan Adam bukan satu-satunya, masih banyak anak-anak merasakan kondisi yang sama dengannya. Psikoterapis anak asal Norwegia Katrin Glatz Brubakk menyampaikan tidak ada seorang pun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Bahkan, lebih dari  sejuta anak Gaza menderita trauma akut.

Trauma yang mereka alami tidak hanya sekali, akan tetapi berkali-kali dan kebanyakan anak mengalaminya. Kondisi itu membuat mereka stres dan berdampak luar biasa pada sistem sarafnya. Sejumlah anak merespon tekanan dengan tindakan gelisah, susah tidur, emosi, dan berteriak. Sejumlah anak lainnya terlihat membisu, sistem saraf mereka tidak lagi kuat dan berupaya untuk melindungi diri dengan memilih mundur.

Inilah faktanya yang anak Gaza alami disebabkan oleh genosida yang tak henti-hentinya. Data UNICEF memperlihatkan, sejak Oktober 2023 pasukan Zionis telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 anak terluka. Jumlah keseluruhan, data Kementerian Kesehatan Gaza menjelaskan, serangan Zionis telah menewaskan lebih dari 72.000 warga sipil dan melukai lebih dari 172.000 lainnya. Dampak dari genosida ini, anak-anak Gaza yang awalnya ceria, bahagia menjadi menderita, baik fisik maupun mentalnya. Kena mental ini akan terus membekas hingga mereka dewasa.

Menyedihkan sekali membayangkan masa depan anak-anak Gaza. Di saat anak-anak di belahan bumi yang lain bisa dengan leluasa untuk bermain dengan teman-teman, berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga, istirahat di rumah yang nyaman, belajar di sekolah, serta hidup penuh rasa aman, anak-anak Gaza tidak merasakan semua hal itu. Hari-hari mereka lebih sering melihat kematian dan  kematian. Bahkan, setiap hari mereka berlomba dengan kematian.

Melihat derita anak-anak Gaza, muncul sebuah pertanyaan besar, sampai kapan genosida ini akan terus terjadi? Sampai kapan anak-anak tidak berdosa tersebut harus menanggung derita yang tidak terperikan ini?

Dunia memberikan solusi hanya berupa bantuan kemanusiaan, dan obat-obatan. Sementara solusi bagi penderitaan anak-anak Gaza tidak bisa cuma dengan mendatangkan dokter untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa mereka. Selama masih ada entitas Zionis bergentayangan disana, maka serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza dan mereka tidak lepas dari trauma.

Oleh sebab itu, pembelaan kita bagi Gaza tidak cukup dengan memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi wajib menyolusi hingga ke akar masalah, yakni menghilangkan sumber masalah utama, menghapus entitas Zion*s yang melakukan genosida dengan dukungan AS. Barulah derita anak-anak Palestina wajib diakhiri.

Pembebasan Palestina dari pendudukan Zionis cuma bisa diakhiri oleh Khilafah, sebab hanya Khilafah satu-satunya negara yang memiliki visi politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Khilafah memiliki tanggungjawab sebagai pelindung bagi seluruh negeri-negeri muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Sesungguhnya imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaq alaih).

Kelak, saat Khalifah tegak, Khalifah sebagai raa’in akan mengurusi seluruh persoalan rakyatnya, membebaskan Palestina, menata kehidupan mereka yang kini hancur, termasuk mengembalikan senyum anak-anak Gaza. Mereka akan kembali ceria, bahagia, bermain dengan teman, berkumpul dengan keluarga, bersekolah, dan bercita-cita untuk masa depan yang cerah di bawah perlindungan Islam.

Oleh sebab itu, untuk dapat membebaskan Palestina, umat Islam wajib bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah. Saat ini persatuan umat sulit terwujud karena racun nasionalisme telah membelenggu umat. Oleh karenanya, dibutuhkan dakwah Islam yang menggugah kesadaran dakwah fikriyyah dan dorongan berjuang dakwah siyasiyah pada diri umat. Dakwah ini penting untuk mengembalikan keyakinan umat bahwa seyogiyanya mereka adalah umat yang satu sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Eva Ariska Mansur 

Aceh Barat Daya, Aceh

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 8

Comment here