Opini

Cukupkah Takwa, Sekadar Salat Subuh Berjamaah?

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Ratih Ramadani, S.P. (Praktisi Pendidikan) 

wacana-edukasi.com, OPINI--Melalui surat edaran bernomor: 000.8.3/21748/Disdikbud-XI/2025, tentang Salat Subuh Berjamaah yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, seluruh pelajar SMA/SMK di Benua Etam wajib diwajibkan melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid dan lingkungan sekolah setiap Jumat.

Edaran ini disebut dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta menindaklanjuti instrkusi Gubernur Kaltim terkait gerakan Salat Subuh berjamaah. Perintah surat tersebut seluruh SMA/SMK dan SLB se-Kaltim diinstruksikan untuk melaksanakan kegiatan Salat Subuh Berjamaah untuk siswa dan siswi yang beragama Islam.

Kemudian pelaksanaan Salat Subuh berjamaah dilaksanakan setiap hari Jumat. Lalu dihimbau untuk dapat dilanjutkan dengan program kultum bagi tenaga pendidik dan seluruh siswa secara bergantian guna melatih kepercayaan diri dan penguasaan materi.

Sementara itu, salah satu orang tua siswa di SMK negeri di Samarinda, yang mempunyai anak perempuan di sekolah tersebut mengaku takut, jika anaknya harus turun sebelum subuh. Sebab, kondisi tersebut masih rawan dan bisa saja ada kejadian tidak mengenakan dijalan.

Benarkah Ini Solusi Tepat? 

Program yang bertujuan membentuk takwa pada siswa seharusnya mampu mendefinisikan takwa yang sesungguhnya. Ibadah shalat 5 waktu memang perlu di bentuk dalam setiap individu termasuk generasi, bahkan dorongan untuk mengikuti shalat subuh berjaamaah juga harus mendapat dukungan dari orang tua, sekolah, bahkan negara. Namun Bukan takwa secara parsial saja yang perlu mendapat dukungan, tapi bagaimana Harusnya peran serta masyarakat dan negara menjamin keselamatan kehidupan remaja dari berbagai macam kerusakan-kerusakan generasi saat ini atau menghilangkan kondisi lingkungan yang tidak aman. Agar orang tua merasa anaknya aman jika harus pergi subuh hari.

Ibadah ruhiyah seperti shalat shubuh berjamaah tidak cukup meningkatkan takwa pada kondisi sekarang. Kondisi kehidupan sekuler liberal yang saat ini tidak mengatur kehidupan kita sehari-hari dengan aturan agama menjadikan remaja melakukan dorongan dalam beramal atas asas manfaat atau nafsu bukan keimanan. Menjalani kehidupan dengan bebasnya bahkan nasihat guru dan orang tua pun kerap tidak didengar.

Shalat subuh berjamaah tak jarang sepi, Mengapa? Sebab, banyak terjadi kasus pelecehan seksual dilingkungan sekitar rumah, bahkan ditempat ibadah tidak jarang pemberitaan- pemberitaan mengabarkan terkait adanya pelecehan seksual bahkan didalam masjid, pembegalan dan penculikan anak dijalan, tindakan asusila dan lain-lain. Tak ada ruang aman bagi anak, remaja dan perempuan sehingga inilah yang membuat orang tua di rumah merasa cemas dan was-was.

Maka perlu dan pentingnya ruang keselamatan dan perlindungan bagi remaja baik saat didalam rumah ataupun diluar rumah.

Memberikan kesadaran pada generasi terkait kewajiban shalat 5 waktu, bahkan shalat subuh berjamaah adalah tugas bagi orang tua, sekolah, masyarakat bahkan negara. sebab, masa depan remaja adalah tanggung jawab semua peran yakni peran keluarga, sekolah dan negara.

Namun, ketika peran-peran tersebut berfungsi maka remaja tidak perlu diingatkan perkara kewajiban yang seharusnya mereka lakukan tanpa perlu dorongan atau menunggu perintah guru dan orang tua. sebab, didalam diri mereka memiliki pondasi keimanan.

Islam Punya Solusi

Menanamkan dan menumbuhsuburkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya pada remaja membutuhkan suasana dan contoh implementasi dari penempatan rasa cinta yang benar sesuai tuntunan Islam. Ceramah dan petuah saja atau peraturan yang sifatnya parsial tentu tidak cukup, karena bisa jadi hanya didengar dan diikuti atas dasar terpaksa, dan tetapi remaja tidak mengerti pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menyadarkan remaja terkait kewajiban shalat hal terpenting. karna shalat adalah rukun Islam kedua yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah baligh (dewasa) dan berakal.

Shalat adalah rukun Islam yang nomor dua sebagai penunjang yang kokoh untuk dua kalimat syahadat, Rasulullah ﷺ bersabda:

 

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Puncak urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan punuknya adalah Jihad.”. (HR: Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah

Moment bulan maulid adalah momen dimana semangat takwa harus ditumbuhkan pada remaja karena menyadarkan mereka untuk membuktikan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW atas dasar dorongan keimanan.

Tak hanya menjalankan ibadah semata tetapi bagaimana menjalani semua kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan ketaatan pada perintah Allah dan Rasul Nya.

Kelahiran Rasulullah saw. adalah nikmat paling agung bagi umat manusia. Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Allah telah memberi kaum mukmin karunia ketika Dia mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajari mereka al-kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (Sunah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imran [3]: 164).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cara meneladani Nabi Muhammad saw. hakikatnya adalah dengan mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an yang tidak menyangkut perbaikan ibadah ritual dan akhlak saja pada remaja, tetapi juga mencakup perbaikan seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari akidah dan ibadah, hingga perkara permasalahan dalam hal pendidikan dan cara mendidik remaja sesuai syariat islam. Sebabnya, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita cara mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji secara benar. Akan tetapi beliau pun mengajarkan bagaimana membangun kebiasaan baik seorang muslim dari perkara shalat subuh hingga membangun institusi negara. Bahkan menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminalitas, serta mengatur pemerintahan/negara secara benar dengan syariat Islam.

Dengan demikian, apakah memang Rasulullah saw layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak.

Sesungguhnya Allah Swt. telah menegaskan, “Apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, terimalah. Apa saja yang ia larang atas kalian, tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr [59]: 7).

Di sinilah pentingnya keluarga muslim senantiasa mengkaji Islam dan berupaya menjalani proses takwa bersama. Serta, peran negara dengan penerapan hukum islam yang menjamin kehidupan para remaja dan kaum muslim dengan aman, sejahtera agar dapat menjalankan ibadah dengan hati yang tenang, menjalankan shalat subuh berjamaah di masjid atas dasar keimanan karena shalat subuh adalah awal para pejuang-pejuang islam menaklukkan dunia dan awal dari kebangkitan umat Islam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 16

Comment here