Oleh Riannisa Riu
Wacana-edukasi.com, OPINI–Tragedi meninggalnya seorang pengemudi driver ojek online, Affan Kurniawan (21) yang dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) brimob polri telah memicu titik puncak amarah masyarakat. Melansir CNNIndonesia.com, Jum’at, 29 Agustus 2025 lalu, peristiwa itu terjadi di tengah upaya aparat untuk membubarkan massa demonstran yang kian meluas dari Gedung DPR.
Masyarakat menilai bahwa perilaku polisi yang melindas pengemudi ojek online adalah bentuk kekerasan dari penguasa terhadap rakyat. Hal ini berujung pada semakin anarkisnya tindakan masyarakat terhadap penguasa, seperti membakar Mess MPR RI di seberang kantor DPRD Bandung, Jawa Barat (detik.com, 29/08/2025). Begitu pula pembakaran gedung DPRD di Kota Makassar yang menimbulkan 3 korban jiwa dan di kota Solo, Surakarta, dini hari tanggal 30/08/2025 (Kompas.com).
Saat ini, kemarahan rakyat terhadap penguasa tidak terbendung lagi. Rakyat merasa amat marah karena aspirasi mereka tidak didengar sejak berbulan-bulan yang lalu. Pernyataan protes dari masyarakat di berbagai sosial media kepada penguasa saat ini terus bermunculan. Bahkan banyak yang terang-terangan menyindir para anggota DPR, serta menyerukan tagar #BubarkanDPR.
Kemarahan masyarakat tentunya bukan tanpa alasan. Akhir-akhir ini, para pejabat negara memang tanpa malu-malu menunjukkan keblunderan mereka. Ketika rakyat mengkritik terkait Indonesia gelap, alih-alih permintaan maaf, muncul kalimat sarkas nan pedas dari sang penguasa. Tatkala rakyat mempertanyakan kinerja anggota dewan yang hanya bernyanyi dan berjoget, dibalas dengan sindiran sound horeg dan pernyataan bahwa mereka adalah artis.
Kemudian muncul fakta gaji para anggota dewan yang dinilai begitu berlimpah. Ditambah banyaknya tunjangan yang mengherankan — tunjangan beras 12 juta, bensin 7 juta, rumah senilai 50 juta, bahkan jika ditotal semuanya, gaji DPR bisa mencapai 3 juta rupiah per hari. Padahal itu semua diambil dari pajak yang merupakan hasil keringat rakyat. Sedangkan rakyat tak melihat bukti nyata kinerja anggota dewan yang telah digaji tersebut.
Di sisi lain, gaji rakyat yang seharusnya layak malah miris. Gaji guru honorer hanya dua puluh ribu rupiah per mata pelajaran, yang jika ditotal, satu bulan maksimal mungkin hanya mendapat 600 ribu. Jika dibandingkan dengan anggota dewan, tentu jauh sekali. Sayangnya, perjuangan para guru malah dianggap membebani negara. Bahkan penguasa mempertanyakan mengapa gaji guru harus menjadi tanggung jawab negara. Alangkah ironis dan blundernya penguasa negara ini.
Alasan kekecewaan rakyat belum selesai sampai di situ, pajak yang dipungut dari masyarakat ditingkatkan hingga 200 persen. Klaim yang diberikan adalah konsep pajak mirip dengan zakat. Bahwa ada harta orang lain di dalam harta kita, yang harus dipungut melalui pajak. Astaghfirullah. Padahal konsep pajak dan zakat berbeda jauh bagaikan langit dan bumi. Satunya dihukumi wajib, sementara yang satunya lagi dihukumi haram oleh sebagian ulama.
Puncak amarah masyarakat terjadi pada Jum’at malam, ketika kendaraan taktis polisi yang seharusnya melindungi rakyat malah melindas rakyat. Jika peristiwa anarkis seperti di tahun 1998 sampai terulang kembali, maka sungguh disayangkan, setelah dua puluh tujuh tahun, solusi yang digunakan masih solusi ganti pemimpin yang sama. Bukankah anggota dewan yang saat ini bertahta pernah menjadi pejuang demonstrasi 1998 di barisan depan? Memperjuangkan kepentingan dan hak-hak rakyat, sama seperti para demonstran saat ini. Tetapi bisa jadi ketika tiba gilirannya mendapatkan kursi kekuasaan, maka mereka menjelma menjadi penguasa yang juga zalim seperti pendahulunya. Inilah kezaliman sistemik yang terus berulang. Bukan manusianya yang zalim, namun sistemnya.
Sehingga kezaliman penguasa tidak bisa dihadapi dengan anarki dan kekerasan fisik. Selama belum ada institusi yang sah, belum ada negara yang menerapkan sistem Islam, maka kekerasan tidak akan menjadi sebuah solusi. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah dihadapkan pada keluarga Yasir yang sedang dizalimi, bahkan Sumayyah, istri Yasir, ditusuk dari bagian farji hingga kepala sampai meninggal dunia. Namun Nabi SAW tidak berdaya menolong mereka saat itu karena belum ada negara yang menerapkan syari’at Islam. Beliau hanya bersabda, “Bersabarlah keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali untuk kalian adalah syurga.”
Oleh karenanya, masalah sistemik perlu diselesaikan dengan penyelesaian sistemik pula. Tidak ada cara lain untuk mencabut kezaliman sistemik ini kecuali mengganti sistem yang digunakan saat ini. Tidak lagi menggunakan demokrasi, yang terbukti terus mengulangi sejarah kezaliman lagi dan lagi. Menghasilkan penguasa yang antikritik, anti menerima aspirasi rakyat, kebal hukum, memuluskan jalan pengusaha asing, namun justru menajamkan hukum terhadap rakyat, yang sudah membiayai mereka dengan pajak yang besar. Banyak fakta kegagalan penerapan sistem ini di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, minimnya lapangan kerja, kemiskinan merajalela, dan masih banyak lagi.
Kemudian menggantikan sistem yang telah gagal ini dengan sistem sempurna yang telah disediakan Sang Pencipta, Allah Taala, yaitu Islam. Islam bukan hanya agama ritual saja, namun sebuah sistem yang lengkap mengatur segala urusan manusia dari awal sampai detail terkecil. Sistem Islam memiliki aturan agar setiap masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya dengan bebas tanpa rasa takut sama sekali. Selain itu, dalam sistem Islam, posisi setiap manusia adalah sama. Baik ia Khalifah (kepala negara), pengemudi ojek online, ataupun pedagang cilok keliling, di hadapan hukum Allah mereka memiliki posisi yang sama.
Sehingga hukum tidak menjadi berat sebelah, tidak tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mengalami kekalahan dalam persidangan ketika memperebutkan sebuah baju besi dengan seorang Yahudi. Khalifah Ali mengakui bahwa baju besi tersebut adalah miliknya, namun saksi yang beliau hadirkan adalah putranya sendiri. Hakim menolak kesaksian putra Khalifah karena saksi tidak sah jika masih berasal dari keluarga Khalifah sendiri. Ali kemudian merelakan baju besinya untuk orang Yahudi itu. Tetapi, si orang Yahudi yang merasa tersentuh karena persidangan yang adil dalam sistem Islam tersebut mengembalikan baju besi tersebut kepada Ali dan kemudian ia menyatakan keislamannya.
Demikianlah kemuliaan Islam, yang mampu menjadi solusi dalam segala permasalahan hidup masyarakat. Seperti dalam kasus tragedi Affan yang dilindas oleh kendaraan taktis brimob, jika institusi Islam telah diterapkan, maka hukum qisas bisa dilaksanakan oleh negara secara resmi. Namun, tanpa penerapan sistem Islam yang benar, qisas tidak akan bisa dilaksanakan. Sehingga yang paling penting adalah melaksanakan penerapan seluruh syariat Islam dalam negara Islam (Daulah Khilafah) terlebih dahulu agar seluruh permasalahan manusia bisa terselesaikan dengan benar.
Memang benar, manusia yang menjalankan sistem Islam ini pun tidak sempurna, sehingga pasti akan ada kesalahan dan kekurangan. Namun, kesempurnaan sistem Islam ini akan tetap menjamin kesejahteraan masyarakat, meskipun pemimpin yang sedang menjalankannya adalah seorang yang memiliki kekurangan sebagai manusia biasa.
Views: 17

Comment here