Opini

Utang Bertambah Tinggi, Jangan Salahkan Pandemi!

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Lilik Yani (Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Wacana-edukasi.com — Karunia Allah tiada tara untuk negeri ini. Sumber daya alam berlimpah ruah. Sumber daya manusia bertambah banyak, membuat negera asing terperangah. Syukur tak terkira jika semua karunia itu membuat masyarakatnya sejahtera. Namun, ternyata fakta yang terjadi sebaliknya.

Kemiskinan merajalela, jumlah pengangguran berlipat ganda. Efek pandemi jadi kambing hitam tumpuan kesalahan. Betulkah? Bukan karena pandemi yang mengakibatkan kehidupan masyarakat tak sejahtera. Bukan sebab pandemi yang membuat hutang meningkat tajam.

Lantas bagaimana pertanggung jawaban kepada Allah nantinya? Kekayaan melimpah yang dikaruniakan-Nya berbuah nestapa. Masalah demi masalah tak ada ujung solusinya, justru semakin parah saja. Bahkan ekonomi yang seharusnya kukuh demi tercukupi semua kebutuhan masyarakat, justru mengalami defisit, bahkan inflasi. Utang bertambah hingga melonjak tinggi. Bukannya prihatin dan berupaya bagaimana membayar? Justru terkesan bangga karena banyak negara lain yang uutangnya jauh lebih tinggi.

Dilansir dari Sindonews.com, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan kenaikan utang pemerintah ini dikarenakan pandemi covid-19 yang menghantam Indonesia dan dunia. Adapun, selama setahun utang pemerintah meningkat hingga 8%.

“Kenaikan utang publik dan pemerintah akibat counter cycle selama setahun utang kita meningkat 8%,” ujar Sri Mulyani dalam video virtual, Selasa (23/2/2021).

Dia membandingkan utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan pada negara di lainnya. Lantaran kenaikan utang pada negara lainnya meningkat hingga 20%. Sebagai perbandingan kenaikan utang Amerika Serikat menngkat 22,5% sedangkan Jepang meningkat 28%.

Sindonews.com, Posisi ULN Indonesia pada akhir November 2020 tercatat sebesar USD416,6 Miliar setara Rp5.853 T (kurs Rp14.050 per USD). Hal ini terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar USD206,5 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar USD210,1 miliar.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh kepercayaan investor yang terjaga sehingga mendorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Utang Meningkat Covid-19 jadi Kambing Hitam

Jauh sebelum ada pandemi covid-19, negeri ini sudah mempunyai banyak uutang. Padahal karunia Allah berupa sumber daya alam dan energi sangat berlimpah ruah. Karunia yang membuat negara asing iri dan ingin menguasainya. Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan menaruh investasi atau memberikan pinjaman bunga lunak.

Upaya itu dilakukan dengan harapan agar negeri ini terikat dengan negara yang membantu tersebut. Seakan-akan mereka menjadi dewa penolong, ketika pemerintah negeri ini mengalami defisit. Dewa penolong yang menawarkan bantuan dana segar siap pakai. Padahal yang dimaksud adalah pinjaman yang nantinya hanya mau dibayar dalam bentuk investasi.

Sudah banyak bukti, berapa banyak perusahaan dalam negeri yang dulu besar dan tangguh, ketika tak lagi bisa dikelola dengan baik maka jadilah melibatkan asing untuk mengurus. Bukan sekadar menjadi investor, tetapi juga jadi tenaga kerja dengan posisi tinggi. Kemudian jika kekurangan tenaga kerja bahkan tenaga kasar sekalipun, bukannya diberikan kepada masyarakat yang banyak menjadi pengangguran. Justru mendatangkan kuli-kuli asing yang tidak sedikit.

Miris! Saat warganya sendiri menjadi pengangguran, justru didatangkan tenaga kerja asing. Itu karena merasa tak enak hati sudah ditolong diberikan dana bantuan alias hutang tersebut.

Kalau dipikir mendalam, bagaimana bisa tikus mati kelaparan di lumbung padi? Negeri kita yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi, tetapi banyak pengangguran, kemiskinan, dan utang melonjak tak terkira?

Apalagi ditambah ujian pandemi corona. Pemerintah tak sigap dari awal untuk mengatasi dengan lockdown. Menutup semua pintu agar tidak ada warga negara asing yang masuk ke dalam negeri.

Bukannya lockdown, justru mempersilakan warga dan tenaga kerja asing masuk. Nah, jangan heran jika jumlah korban yang terpapar covid-19 semakin meningkat. Berbagai kebijakan yang dibuat sudah terlambat. Bukan tak bisa ditekan namun sudah teramat kesulitan.

Ketika masyarakat yang terpapar semakin banyak, korban berjatuhan, maka perlu dana tak sedikit untuk pengobatan, penyediaan alat, dan segala keperluan untuk menangani pandemi yang belum tahu kapan akan berhenti.

Bagaimana Islam Mengatasi Masalah Ekonomi?

Pemerintah Islam tak mengenal sistem ribawi seperti di negara yang menerapkan sistem kapitalis liberal. Maka dari itu tawaran bantuan luar negeri yang berupa pinjaman bunga lunak itu tak pernah ditanggapi.

Perekonomian berbasis ribawi akan hancur, tak ada keberkahan sama sekali. Pemerintah Islam menyadari bahwa kewajibannya meriayah kebutuhan seluruh umat. Jadi akan mengupayakan semaksimal mungkin bisa menjalankan amanah.

Pemerintah Islam memiliki dana andalan yaitu baitul mal. Dari sanalah seluruh kebutuhan umat dipenuhi. Baitul mal mendapat dana dari kepemilikan umum yang dikelola oleh negara. Hasilnya dikembalikan kepada umat. Mencukupi seluruh kebutuhan umat baik kebutuhan pokok bagi yang tidak mampu, atau tidak ada wali yang menanggung.

Begitu pula untuk dana kesehatan, pendidikan, dan lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan umat, diambilkan dari baitul mal.

Bagaimana jika dana baitul mal habis? Maka negara akan mengambil pajak dari pengusaha kaya. Itu pun tidak boleh semaunya. Cukup sesuai kebutuhan saja. Ketika dana baitul mal sudah terisi, penarikan pajak akan dihentikan.

Begitulah pemerintah Islam menjalankan perekonomian negara. Jadi tidak akan terjadi defisit, inflasi, kenaikan hutang yang melambung tinggi. Semua karena kesigapan pemerintah Islam mengelola perekonomian didasarkan kepemilikan yang diatur secara baik menurut hukum Islam.

Bahkan ketika terjadi pandemi sekali pun, perekonomian dalam negara Islam tetap berjalan seimbang. Karena penerapan lockdown, jadi wilayah yang aman tetap bisa menjalankan aktivitas secara normal termasuk perekonomian.

Jadi, bukan pandemi yang jadi penyebab hutang menanjak tinggi tapi pengelolaan dan manajemen pemerintahan yang harus diperbaiki. Dengan cara menerapkan sistem Islam di segala lini.

Wallahua’lam bishshawab

 

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here