Opini

Ulama Dikriminalisasi, Buah Moderasi Saudi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh. Diana Septiani

Sejak diangkat menjadi putra mahkota, Mohammed bin Salman fokus memodernisasi Arab Saudi. Dalam mewujudkan visi 2030 nya, Salman selalu menyampaikan keinginannya untuk mengubah negara Saudi dari negara ultrakonservatif menjadi negara moderat yang liberal. Berbagai peraturan yang menyalahi syariah Islam disahkan. Salman berencana menghapuskan identitas agama di negaranya.

Tindakan rezim Saudi mengundang murka para ulama. Ulama hanif dengan lantang menyerukan kritikannya. Hal ini menyebabkan banyak para ulama ditangkap. Tanpa pandang bulu, rezim Saudi akan “menyapu bersih” siapa pun yang menentangnya. Sejak tahun 2017, otoritas Saudi telah menangkap ratusan aktivis, ulama, jurnalis, akademisi dan siapa pun yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Tidak akan segan rezim bengis Saudi akan memberangus mereka. Diciduk, diculik, dipenjara bahkan dibunuh. Ulama-ulama Arab telah banyak yang menjadi korban kebengisan rezim anti kritik ini. Sungguh keji, para ulama di kriminalisasi di negeri nabi.

/ Bukti Kriminalisasi /

Baru-baru ini seorang ulama perempuan Aisha al-Muhajirri ditangkap di rumahnya karena berdakwah dan mengajar ngaji. Ia ditangkap bersama tokoh masyarakat dan dua wanita lainnya. Bagaikan seorang teroris, mereka diringkus Badan Intelijen Arab Saudi. Tak hanya itu, siapa pun yang menanyakan al-Muhajirri akan diciduk otoritas Saudi.

Senasib dengan al-Muhajirri, ulama-ulama Arab ini juga mengalami kriminalisasi. Syekh Abdullah Basfar ditahan tanpa diberi penjelasan tindak pidananya. Begitu pula dengan Syeikh Saud Al-Funaisan, seorang profesor universitas dan mantan Dekan Fakultas Syariah di Universitas Al Imam di Riyadh yang ditangkap karena dituduh melakukan tindakan ekstrimisme.

Saleh Al Tabib ditangkap hanya karena ceramahnya yang menyoroti kebijakan pemerintah yang mengizinkan campur baur antara pria dan wanita di ruang publik. Bahkan, Sulaiman Dweesh tewas akibat penyiksaan selama dalam tahanan Saudi, setelah mengkritik Pangeran Mohammed.

/ Sikap Ulama Terhadap Penguasa /

Sejatinya kritik yang dilakukan para ulama merupakan bentuk aktivitas politik yang wajib dilakukan sebagai bagian dari ‘amar makruf nahi munkar. Ulama dengan ilmunya digelari pewaris nabi. Sama halnya dengan para nabi, ulama tentu akan menemui ujian bertubi-tubi saat menyampaikan dakwah. Tak hanya dicaci maki, kematian di jalan dakwah pun menanti.

Namun, bagi para ulama yang bagaikan kumpulan bintang tak ada rasa takut selain kepada Allah, Rabb Semesta Alam. Para ulama hanif memiliki sifat-sifat mulia diantaranya; wara’ (takwa dan takut kepada Allah), berani mengatakan kebenaran (bahkan di hadapan penguasa dzalim sekalipun), tidak bermuka dua dan bukan termasuk penjilat penguasa.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda :

“… Siapa saja yang mendatangi penguasa, dia terkena fitnah.” (HR. Abu Dawud no.2861)

Ketika ulama dekat dengan penguasa (bukan dekat karena kekerabatan melainkan karena kekuasaan), maka hal ini berbahaya. Ulama tidak lagi bisa bersikap kritis, tidak bisa melihat keburukan dan kesalahan penguasa, serta akan mendukung penguasa walau telah melakukan kedzaliman secara nyata.

Teladan Ulama Terhadulu

Tindakan kriminalisasi ulama sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Misalnya yang terjadi pada Imam al-Buwaithi, seorang murid kesayangan Imam Syafi’i. Beliau wafat dengan tetap terikat dalam penjara di Baghdad, Irak pada tahun 231 H karena menolak mengatakan Alquran itu makhluk. Ia khawatir ratusan ribu orang akan tersesat bila ia mengatakan hal bathil, walau hanya pernyataan singkat.

Imam al-Buwaithi mengatakan, “Aku lebih memilih mati dalam kondisi terikat dengan rantai-rantai besi ini. Agar suatu hari nanti, orang mengerti bahwa telah mati dalam mempertahankan keyakinan ini, seseorang yang terbelenggu dalam ikatan-ikatan besi.”

Keteguhan Imam-Buwaithi sejalan dengan sabda Rasulullah saw., “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa dzalim, lalu ia menyuruh dan melarang penguasa tersebut, lalu penguasa itu membunuh dirinya.” (HR al-Hakim)

Peran Ulama Menuju Kebangkitan

Ulama memiliki tugas berat dan tanggung jawab besar dalam menolak dan menangkal setiap ideologi bathil serta setiap pemikiran dan peraturan yang lahir darinya. Hal itu dilakukan dengan menjelaskan keburukan dan kepalsuannya. Lalu berupaya melenyapkan kebathilan dengan menyerukan kebenaran. Kemudian berjuang menegakkan ideologi Islam sebagai solusi fundamental.

Ketika ulama berdiam diri terhadap penyimpangan penguasa, niscaya kerusakan menyebar luas di tengah masyarakat. Kerusakan masyarakat disebabkan karena kerusakan penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan kerusakan ulama. (Imam Al-Ghazali)

Sebenarnya yang paling ditakuti oleh negara adalah opini umum dan kerumunan massa umat. Seandainya para ulama menggunakan “senjata” ini dengan sebaik-baiknya niscaya ulama akan memimpin umat menuju perubahan besar dunia menuju kebangkitan Islam.

Wallahu a’lam bishshowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here