Opini

Solusi Masalah Pendidikan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Elvana Oktavia, S.Pd.

Wacana-edukasi.com — Ganti menteri ganti kebijakan. Tahun 2020, akan menjadi tahun terakhir pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, menggantinya dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter. Ikatan Guru Indonesia (IGI) pun, turut mendukung kebijakan ini, meski dinilai terlambat.

AKM tersebut tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi seperti yang dilakukan ujian nasional, melainkan dengan pemetaan dua kompetensi minimum siswa, literasi dan numerasi. Sedangkan survei karakter, dilakukan untuk mengetahui data secara nasional mengenai penerapan asas-asas Pancasila oleh siswa.

Pelaksanaan program ini diselenggarakan Kemendikbud bekerja sama dengan organisasi pendidikan di dalam negeri dan juga di luar negeri seperti OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Langkah tersebut diambil, harapannya agar asesmen memiliki kualitas yang baik dan setara dengan kualitas internasional dengan tetap mengutamakan kearifan lokal.

Bagaimana tidak, salah satu contoh dalam hal literasi. Skor capaian literasi yang dipatok Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam RPJMN 2020-2024 hanya sebesar 396. Angka ini bahkan masih jauh di bawah capaian rata-rata negara anggota The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yakni 487 (fin.co.id/12/5/20).

Masalah Utama Pendidikan

Sejatinya, penghapusan UN kemudian menggantinya dengan AKM dan Survei Karakter, bukanlah jaminan terhadap penyelesaian masalah pendidikan. Ada pun masalah krusial yang saat ini belum tuntas adalah adalah masalah akses dan kualitas. Tidak semua anak-anak secara merata mendapatkan akses yang mudah untuk mengenyam pendidikan. Sehingga tak sedikit dari mereka memilih untuk putus sekolah, bahkan sampai frustasi karena kendala sinyal ataupun jarak menuju sekolah. Selanjutnya, kualitas pembelajaran pun juga masih banyak yang mengeluh. Target capaian yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Sedangkan dalam hal karakter, bagaimana bisa terwujud karakter yang baik, sedangkan banyak faktor penyebab rusaknya karakter adalah lingkungan yang masih membiarkan kebebasan berperilaku apalagi disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Untuk mendapatkan solusi efektif dalam menyelesaikan masalah pendidikan, haruslah berdasarkan analisis cemerlang dengan mengetahui akar masalah atau penyebab utamanya. Yaitu landasan dan filosofi pendidikan. Sistem kapitalisme sekuleristik, tampak lebih menonjol dalam dunia pendidikan saat ini. Sehingga tak heran jika tujuan pendidikan pun berkiblat pada standar luar negeri yang orientasinya untuk kesuksesan materi semata.

Khilafah Solusi Masalah Pendidikan

Muhammad Al-Fatih, selain mampu menaklukkan kota pertahanan militer paling kuat saat itu, yaitu Konstantinopel, pada masa pemerintahannya beliau juga sangat perhatian terhadap pendidikan. Sehingga saat itu pendidikan Islam pada masa kepemimpinannya semakin maju.

Beliau mengeluarkan harta pribadinya untuk membangun sekolah-sekolah di seluruh kota besar dan kecil. Sebagai kepala Negara, beliau menetapkan manajemen sekolah, mengatur dalam jenjang dan tingkatan-tingkatan, menyusun kurikulum pada setiap level, termasuk sistem ujian untuk semua siswa.

Sistem ujian di Khilafah, sangat diperlukan. Yaitu berupa ujian praktek, ujian tertulis dan ujian lisan. Untuk keahlian tertentu, penguji baik dari internal maupun eksternal turut dihadirkan. Ulama’ dan para Intelektual manapun juga berhak untuk menguji. Setelah lulus ujian, para siswa memperoleh hak-hak istimewa dengan mengajarkan ilmunya. Tentu saja siswa yang dinyatakan lulus selain memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yanh dipelajarinya juga memiliki pola tingkah laku yang islami.

Adanya sistem ujian yang diberikan, tentu didukung pula visi dan misi pendidikan Islam yang ditunjang dan diberi perhatian penuh oleh negara. Mulai dari gratisnya biaya sekolah, jaminan kelayakan gaji guru, sarana dan prasarana, kurikulum yang jelas, dan administrasi penilaian yang efektif.
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian islami (pola tingkah laku berdasarkan pada akidah islam), membekali diri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Dengan demikian, pendidikan dalam Islam adalah sebuah kebutuhan pokok masyarakat dan sudah menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya tanpa dipersulit dalam mekanismenya.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 12

Comment here