Surat Pembaca

Sistem Pendidikan dalam Kapitalisme

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Dian Nur Hakiki

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Dalam “Pendidikan adalah Pintu Masa Depan”
Pendidikan adalah salah satu hal yang sangat penting didapatkan oleh setiap individu, karena dengan pendidikan seseorang dapat memiliki bekal ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan di muka bumi dengan lebih terarah.

Namun kenyataannya dalam Kapitalisme saat ini banyak ditemui beragam permasalahan salah satunya terkait dengan dunia pendidikan, seperti yang dilansir dari salah satu media memaparkan bahwa Hasil asessment kognitif peserta didik baru disalah satu sekolah yaitu di SMPN 11 Kota Kupang yang dilakukan pada bulan Juni 2023 menemukan sebanyak 21 pelajar tidak bisa membaca, menulis hingga membedakan abjad (poskupang.com/10/08/2023).

Hal tersebut tentu cukup miris mengingat membaca adalah salah satu kompetensi dasar yang setidaknya harus dikuasai oleh Siswa, karena sebagian besar dari kegiatan pembelajaran adalah membaca, tentu akan sulit bagi siswa untuk dapat mengikuti materi pembelajaran jika kemampuan dasar saja belum dikuasai. Lebih miris lagi dimana ketika mereka tetap diluluskan walalupun dapat dikatakan mereka belum menguasai apa yang harusnya dikuasai pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Tentu jika di uraikan kenapa hal tersebut dapat terjadi akan ada beberapa penyebab salah satu yang dapat diuraikan adalah pertama, kurangnya kompetensi guru dalam mengajar, di Era kapitalisme saat ini profesi guru seolah bukan lagi menjadi role model bagi peserta didik yang dapat mengayomi dan menjadi panutan, banyak guru yang menduduki profesinya sebagai guru adalah hanya sebagai pengisi kekosongan di suatu lembaga pendidikan, tidak perduli bagaimana kompetensi yang dimiliki, apakah mampu ataukah tidak menjadi seorang pendidik yang benar-benar mendidik.

Kedua, upah sebagai pendidik di suatu lembaga pendidikan sangatlah tidak manusiawi, sebagaimana yang dikutip dari artikel detiknews bahwa di Gunung kidul ada guru Honorer yang hanya digaji sebesar Rp 150 Ribu Per Bulan(news.detik.com/25/11/2021),
ditambah dengan tuntutan administrasi pendidikan yang cukup menyita pemikiran. Hal tersebut mendasari tidak banyak orang yang mau terjun kedalam dunia pendidikan dan memilih berprofesi menjadi seorang guru,

Ketiga, Rencana pembelajaran sudah disusun dengan sistematis, hal tersebut tentu juga memiliki kekurangan disisi target pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan, sedangkan target penyampaian sudah terjadwal sehingga seolah tidak perduli jika ada murid yang belum paham atau belum mampu mengikuti materi pada bab selanjutnya, pendidik pun juga kadang tidak perduli karena dianggap sudah melakukan tugasnya sesuai dengan administrasi.
Keempat, pelayanan pendidikan yang bermutu seolah pantas didapatkan jika peserta didik bersekolah di sekolah yang memiliki mutu yang baik, dan banyak dari sekolah dengan mutu yang baik tersebut adalah sekolah-sekolah Swasta dan tentunya perlu mengeluarkan uang yang cukup dalam untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut.

Hal-hal tersebut tentu berbeda cerita ketika dirapkan sistem pendidikan Islam ditengah masyarakat, yang mana pada masa pemerintahan Umar bin Khattab seorang guru diberi gaji sebesar 15 Dinar “Dikutip dari laman resmi logammulia.com pada Sabtu(30/1/2021), untuk harga emas dinar, koin 1 dinar produksi Antam 91,7 persen dan berat 4,25 gram dijual seharga Rp 3.582.007.(Kompas.Com/9/1/2023) yang berarti gaji guru saat ini jika dirupiahkan adakah sebesar Rp. 53.730.105
Dengan pemberian upah yang layak tentunya profesi Guru menjadi profesi yang sangat diperhitungkan dengan kompetensi yang juga sangat diperhitungkan tentunya.

Dalam sistem pendidikan Islam yang menjadi dasar adalah Aqidah Islam, dengan tujuan dari pendidikannya adalah membentuk kepribadian Islam dan memberikan keterampilan dalam ilmu kehidupan, aspek penilaiannya bukan sekedar nilai secara kognitif akan tetapi juga ketaatan kepada Allah, dan memadukan antara kepribadian Islam, ilmu keislaman dan ilmu kehidupan, sehingga peserta didik dalam sistem pendidikan Islam tentulah adalah generasi-generasi terbaik yang akan memimpin peradaban di masa mendatang.

Wallahu ‘alam bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comment here