Bahasa dan SastraCerpen

Sekeping Cinta Atikah

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Lia Herawati

“Bapak sudah mencarikan jodoh untukmu, dia anak dari rekan bisnis Bapak. Lulusan S3 Ekonomi. Sekarang dia direktur utama menggantikan posisi ayahnya.” Suapan nasi tertahan di depan mulut kala Bapak bicara saat sarapan. Aku bergeming. Buru-buru kuselesaikan lalu pamit berangkat kerja. Begitu sampai pintu langkahku tertahan oleh teriakan Bapak, “Minggu malam dia mau ke sini bareng keluarganya.”

Sepanjang perjalanan menuju kantor aku kepikiran dengan kata-kata Bapak, ini sudah kali ketiga Bapak menyodorkan calon pendamping. “Memangnya aku ga bisa milih sendiri?” batinku. Tapi, memang selama ini belum ada yang sreg dihati. Ada beberapa rekan kerja yang menghujaniku chat yang berisi ingin kenalan lebih dekat bahkan ada yang ingin langsung bertemu orang tuaku. Namun, kebanyakan mereka hanya lulusan sarjana. Ya … aku memang ingin suamiku kelak memiliki gelar di atasku agar dia bisa jadi pemimpin dalam rumah tangga, disamping itu tuntutan keluarga yang memandang gelar segala-galanya.

“Nanti siang makan di rumah makan Ampera, yuk.” Ajakan Rahma membuatku kaget.

“Oke,” jawabku singkat sembari mengerjakan laporan.

“Wah udah rame aja, ya.” Aku dan Rahma langsung mengantri, kuambil tumis kangkung, sate udang, dan pepes jamur. Tak lupa sambel terasi kesukaanku.

“Besok jadi kan hadir di kajian muslimah DT?”
“InsyaAllah” jawabku sambil menyolek sambel.
Sudah setahun ini aku ikut halakah bersama Rahma setelah vakum beberapa tahun karena merasa sibuk skripsi akhirnya bablas sampai tesis, lalu lupa karena sering mengabaikan ajakan Murrobi dengan seribu satu alasan. Akhirnya bertemu Rahma dan Alhamdulillah bisa kembali ke lingkaran untuk mengkaji Islam. Dan sebulan sekali kami sempatkan mengikuti kajian rutin muslimah di Daarut Tauhid Kebayoran Baru.

Sabtu pagi aku berangkat dibonceng Rahma, kami mengambil posisi duduk di samping dekat tembok. Pandanganku tertahan pada sosok laki-laki tinggi berkulit kuning langsat tengah mengecek mik dan peralatan lainnya apakah sudah berfungsi atau belum.

Lagi-lagi Rahma membuatku kaget, “Namanya Salman, dia sepupuku.” Aku menunduk dan beristigfar, entah mukaku seperti apa, mungkin kaya udang rebus saking malunya.

“Kebetulan dia lagi mencari calon istri, kalau kamu berminat, aku bisa diandalkan untuk jadi perantara,” lanjut Rahma.
Setelah kajian kuberanikan diri untuk bertanya-tanya lebih jauh sosok yang membuatku melemah seketika.
Aku langsung lemas ketika Rahma bilang dia lulusan Sarjana Pendidikan dan tengah mengajar di SMPIT daerah pasar minggu, juga lima tahun ini menjadi pengurus Daarut Tauhid Jakarta.

Semalaman aku merenung sebenarnya apa tujuanku menikah? dalam kajian tadi pagi sudah jelas ustazah bilang, “Bolehlah kita sebagai wanita menetapkan kriteria suami idaman, tetapi sebagai muslimah kita seyogianya melandaskan kriteria sesuai yang Allah mau. Pilihlah suami yang seiman, taat beragama, senantiasa menjauhi maksiat, berbakti pada orang tua, memiliki pemahaman agama yang lebih baik, berjiwa pemimpin dan mapan.”

Tak ada kriteria gelar suami harus lebih tinggi, yang ada setinggi apa pun pendidikan dan jabatan seorang istri, ketika di rumah suaminyalah yang patut dihormati apa pun gelarnya. Apalagi jika suami tak mengizinkan istri bekerja maka ilmunya akan sangat bermanfaat untuk mendidik anak-anak di rumah karena ibu adalah madrasah pertama untuk para generasi bangsa yang berakhlakul karimah.

Batinku bergulat hebat, berusaha mencari pembenaran “Bagaimana aku bisa mematuhi suamiku kalau gelarnya saja dibawahku. Apa nanti kalau diskusi bakalan nyambung? Apa nggak jadi masalah jika gajinya lebih kecil dariku? Memangnya salah punya harapan seperti itu? Apa nanti yang akan Bapak katakan? Belum lagi nanti suamiku menjadi cemoohan keluarga. Hanya dia yang sarjana disini, aarrgh.” Kuacak-acak rambut lurusku saking frustrasinya.

Sepertinya aku harus mengkaji ulang apa tujuanku menuntut ilmu hingga bergelar M.Psi. Apa hanya untuk meraih penghormatan manusia? Kalau benar, “Selamat anda sudah mendapatkannya.” Namun, jika menuntut ilmu itu untuk meraih rida Allah maka gelar bukan sesuatu yang penting, terlebih menjadikannya landasan dalam memilih pasangan hidup. Hanya akan membuatku terpuruk dan hilang arah.

“Assalamualaikum Mbak Atikah, tadi aku bertemu Salman iseng kutanya masalah jodoh, eh … malah minta dicariin. Terus aku ceritain tentangmu, maaf aku lancang, hehe … mau nggak taaruf ma Salman?” Rahma to the point, ponselku hampir terlepas saking gemetarnya, tak kupungkiri sosok Salman gentayangan dalam pikiranku sejak pertemuan tadi, ditambah Rahma menceritakan akhlak dan kesalehan sepupunya itu.

Aku pergi ke kamar mandi hendak berwudu lalu salat Istikharah, meminta pentunjuk dari Sang Penggenggam Jiwa, air mataku bercucuran mengingat kesombongan diri, sebenarnya hati kecilku percaya yang membedakan di hadapan Allah hanyalah keimanan bukan harta, jabatan, ataupun gelar. Aku pasrahkan masalah jodoh ini kepada Sang Maha Cinta, aku yang hina dina berharap dipasangkan sebelah sayap agar bisa terbang meraih kasih-Mu. Pelengkap hidup yang Engkau rida untuk menyempurnakan imanku, membimbingku meraih takwa.

Esoknyya, dengan penuh keyakinan aku sampaikan pada Bapak dan Ibu bahwa aku telah memilih calon suami. Aku ceritakan semua tentang Salman yang kuketahui dari profil yang Rahma kirimkan.
“Apa-apaan kamu ini, Bapak sudah pilihkan jodoh yang pantas buat kamu, tapi kamu lebih memilih dia yang derajatnya lebih rendah, apa kata orang nanti, hah? Berapa gajinya sebagai guru? Bagaimana dia bisa membahagiakanmu?” Bertubi Bapak bertanya dengan suara meninggi dan mata membulat.

“Apa gelar dan harta bisa menjamin kebahagiaan? apalah gelar tinggi jika akhlaknya rendah rumah tangga juga nggak tentram.” Entah dari mana keberanian itu muncul, baru kali ini aku menentang Bapak.

“Aku ingin punya suami yang mencintai Allah dengan begitu insyaAllah rumah akan damai hingga tercapai sakinah, mawaddah, dan rahmah,” sambungku.

“Apa Bapak nggak belajar dari Kak Fitri? suaminya mempunyai deretan gelar yang panjang menyertai namanya, tapi apa Kak Fitri bahagia? Soal harta dia nggak perlu khawatir, apa pun yang Kak Fitri mau pasti bisa dibelinya, tapi apa rumah tangganya tentram? Kak Fitri mati-matian mempertahankan rumah tangganya hanya untuk kehormatan keluarga meski ia sakit lahir batin, apa itu yang bikin Bapak bahagia?” Dengan mata berkabut aku berusaha membuka mata hati Bapak, Ibu hanya diam seakan sedang mencerna kata-kataku.

“Sudah berani kamu melawan Bapak ya?”

“Atikah sayang dan sangat menghormati Bapak, hanya ingin membuka sedikit hati Bapak bahwa dunia ini tipuan belaka, mengejar dunia hanya akan membuat Bapak lelah dan sakit hati.” Tetesan bening meluncur membentuk anak sungai di pipi.

Setelah beberapa menit terdiam, Bapak buka suara “Baiklah, bawa Salman menemui Bapak.”

“Jadi Bapak meridhoi Atikah berproses dengan Salman?dengan gelar sarjananya? Dan hanya seorang guru?” Aku berusaha meyakinkan kata-kata Bapak.

“Iya.” Alih-alih memberikan ijlzin, ia ingin tau keberanian pemuda itu. Seberapa seriusnya dia ingin melamar putrinya.

Setelah mengantongi restu dari Bapak dan Ibu segera kuhubungi Rahma, dan menyampaikan kesediaanku untuk taaruf.

“Kalau akhi Salman berkenan, bisa nggak datang nanti malam? Bapak mau jodohin aku, khawatir dia datang duluan terus Bapak berubah pikiran,” kataku pada Rahma

Alhamdulillah, malamnya Salman datang dengan seorang yang berpenampilan layaknya seorang ustaz. Salman duduk berseberangan dengan Bapak, aku duduk di sebelah ruang tamu yang terhalang gorden ditemani Rahma dan Ibu.

“Sebelumnya perkenalkan saya Hadi uwaknya Salman sekaligus gurunya, bermaksud ingin menyampaikan niat dari keponakan saya untuk mengenal putri Bapak yang bernama Atikah dengan tujuan ingin menyempurnakan iman, jika sama-sama cocok.” Ustaz Hadi yang tak lain ayahnya Rahma membuka pembicaraan.

“Baik, langsung saja apa yang membuatmu menginginkan putri saya?” kata Bapak
dengan suara gemetar.

“Saya tertarik dengan putri Bapak saat pertama kali melihat fotonya, juga informasi tentangnya yang semangat mengkaji Islam.”

“Terus apa yang bisa saya banggakan darimu?Gelar hanya sarjana, gaji seorang guru apa bisa membuat anak saya bahagia?” Ingin sekali aku menghentikan kata-kata Bapak, tapi Ibu menggenggam kuat tanganku seakan memintaku untuk bersabar.

“Kebahagiaan tidak hanya didapat dari materi, sebanyak apa pun itu jika ia tidak bersyukur maka tetap saja kurang. Tetapi, jika kita senantiasa bersyukur berapapun akan membuat hati tenang. Dan saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan putri Bapak lahir batin,” tegas Salman dengan suara yang masih bergetar.

Tak ada sahutan dari Bapak.

Setelah Bapak merestui kami, seminggu kemudian keluarga Salman datang berkunjung hendak mengkhitbah dan dalam bulan yang sama, kami melangsungkan akad nikah sekaligus walimah.

Di malam pertama setelah melaksanakan salat sunah dua rakaat, dengan menunduk kusampaikan, “Salman Zaid Abdullah suamiku, tak ada yang bisa aku banggakan sebagai pendampingmu, aku hanya mempunyai sekeping cinta yang itu pun mungkin tak ada artinya untukmu, bimbinglah aku agar bisa menjadi bidadari yang layak mendampingimu dunia akhirat.” Ia tersenyum lalu menempelkan telapak tangannya di puncak kepalaku seraya berdoa, “Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”

TAMAT

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 4

Comment here