Opini

Rekonstruksi Pelajaran Sejarah Untuk Kejayaan Negeri

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Mahmudah, S.Pd. AUD

Wacana-edukasi.com — Kementerian pendidikan dan kebudayaan berencana akan melakukan penyederhanaan kurikulum termasuk dalam pendidikan sejarah: Lalu bagaimana menanggapi wacana ini?

Jakarta, CNN Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merespon wacana pelajaran sejarah tidak masuk kurikulum wajib bagi siswa SMA dan sederajat.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah akan keluar dari kurikulum tidak benar.

“Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang” Kata Totok dalam keterangan resmi yang diterima CNN Indonesia, pada sabtu (19/9)

Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut menanggapi polemik akan dihapuskannya mata pelajaran sejarah dalam penyederhanaan kurikulum yang tengah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan( Kemendikbud) wacana ini menimbulkan polemik dikalangan masyarakat, pendidik, terutama guru dan akademisi.

Komisioner Bidang Pendidikan, KPAI Retno Listyarti menilai wacana untuk menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai pilihan (tidak wajib) dijenjang SMA bahkan menghapus di jenjang SMK adalah tidak tepat. Semua anak, menurut , baik di jenjang SMA ataupun SMK berhak mendapatkan pembelajaran sejarah dengan bobot dan kualitas yang sama.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan” tegas Retno di Jakarta, Minggu, 20 september 2020

Meski akhirnya direvisi masyarakat perlu faham bahwa rencana penyederhanaan Kurikulum berefek tidak wajibnya pelajaran sejarah untuk SMA atau SMK adalah berbahaya karena bisa memalingkan memori tentang jasa ulama bagi negeri, menghapus tragedi kekejaman PKI dan lain-lain. Perlu kita sadari bahwa sejarah memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa karenanya bila negeri ini mau bangkit menyongsong kejayaan mesti bersiap merekonstruksi pelajaran sejarah. Sejarah tentang jejak islam dan khalifah di negeri ini semestinya diajarkan agar mampu mendapatkan kemajuan. Bukan malah ditutupi dan keberadaannya dimusuhi.

Pandangan Islam Tentang Pelajaran Sejarah

Didalam islam pendidikan sejarah sangatlah penting Karena dalam sejarah terdapat ibroh/ pelajaran dari setiap peristiwa, akan didapati informasi tentang Peristiwa terdahulu yang telah terjadi. Dalam Al Qur’an surat Yusuf ayat 111 yang artinya “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan(kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan(sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu sejarah dalam dunia islam merupakan mata pelajaran yang penting untuk disampaikan kepada generasi, dalam islam sejarah dipandang sebagai bagian dari tsaqofah atau informasi pengetahuan yang dipengaruhi oleh aqidah dan pandangan hidup. Artinya dalam mempelajari sejarah umat islam harus menjadikan aqidah sebagai standar, jika bertentangan dengan aqidah maka umat islam tidak boleh mengambilnya dan meyakininya dan sebaliknya jika tidak bertentangan dengan aqidah islam maka umat islam boleh mengambil dan meyakininya. Dalam islam generasi muslim dijelaskan tokoh-tokoh kepahlawanan yang bisa menjadi teladan misal keberanian Umar bin Khathab, Keberanian Pangeran Diponegoro dari tanah jawa, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang bisa diambil ibrohnya dalam perjuangannya dalam menyampaikan kebenaran.

Semoga kita semua tidak melupakan sejarah kehidupan bangsa kita, bahwa hanya dengan islamlah tinta keemasan akan tercatat tembali.

Wallohualam Bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here