Oleh: Eni Yulika
Wacana-edukasi.com, OPINI–Ada saja tingkah anak muda zaman sekarang, terbaru dikabarkan dari tribun.com (28/02/26) terungkap fakta baru dalam kasus pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau, Faradilla Ayu Pramesti (23). Pelaku pembacokan, Raihan Mufazzar (22), ternyata merupakan selingkuhan korban.
Kisah keduanya bermula saat mereka mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tempat yang sama. Meski Fara sudah memiliki kekasih, ia diam-diam menjalin hubungan khusus dengan Raihan.
Peristiwa yang terjadi membuat gempar media maya, bagaimana tidak, seorang pemuda yang seharusnya di akhir perjuangan menuntut ilmu dengan penuh lika – liku harus memilih melakukan tindakan pidana. Padahal secara logika, seharusnya tinggal satu semester lagi menyelesaikannya. Setelah tamat ia bisa memberikan kabar gembira ke pada orang tuanya, bahwa ia telah selesai menyelesaikan program studinya di perkuliahan. Akibat tindakan yang bodoh, ia mengikuti amarahnya dan lebih memilih mendekam di penjara. Pilihan yang terjadi di luar akal sehat.
Emosi yang tidak terbendung kadang membuat orang bisa kalap. Jika terus diikuti bisa mengakibatkan orang terjerumus kepada tindakan di luar akal sehat seperti menyakiti orang lain bahkan bisa menghilangkan nyawa manusia.
Hal-hal yang menjadi pemicu emosi yang tidak terkendalali menurut pakar psikologi karena kombinasi faktor biologis, kognitif, dan lingkungan. Terutama saat merasa terancam, tidak dihargai, stres berat, atau ekspektasi tidak sesuai kenyataan.
Pertama, faktor biologis diantaranya disebabkan akibat kurang tidur, lapar, kelelahan, fluktuasi hormonal (menstruasi), atau kondisi medis tertentu seperti hipertiroidisme dapat meningkatkan reaktivitas emosional.
Kedua, faktor psikologis diantaranya karena stres Kronis, trauma masa lalu, rendahnya kemampuan manajemen emosi, dan pola pikir yang cenderung menganggap situasi ambigu (ketidak jelasan) sebagai ancaman dan penghinaan.
Ketiga, faktor lingkungan diantaranya karena situasi yang tidak adil, privasi terganggu, komunikasi tidak efektif, atau tekanan sosial (konflik, tuntutan tinggi).
Keempat, ketidaksesuaian ekspektasi dimana Kenyatta tidak sesuai dengan yang diharapkan dan berujung frustasi.
Dari kasus yang terjadi mengarah kepada faktor psikologis yaitu kemampuan manajemen emosi pemuda hari ini. Emosi sulit untuk dikendalikan. Padahal jika Ia bisa berfikir panjang dengan akibat yang akan dideritanya, seharusnya ia tidak berbuat demikian. Begitu pula faktor keempat yaitu ketidaksesuaian kenyataan terhadap apa yang ia harapkan. Padahal di umur yang sudah duduk di bangku perkuliahan, seharusnya sudah bisa lebih bijaksana terhadap apa yang terjadi dan tidak sembrono.
Tidak hanya kasus Raihan. Tetapi masih banyak Raihan lainnya yang memiliki emosi yang sulit untuk dikendalikan. Apalagi dalam sistem kapitalisme, pemicu strees banyak sekali seperti keimanan yang rapuh, keluarga yang broken home dan berimbas ke pada anak apalagi orang tua pelaku KDRT, kehidupan yang semakin pelik dengan mahalnya biaya untuk hidup apalagi bisa sampai ke jenjang kuliah. Beban biaya kuliah yang tinggi, biaya hidup yang tinggi dan tekanan tugas yang menumpuk membuat emosi bisa saja meledak – ledak.
Bagaimana Islam mengatasi semua permasalahan ini. Islam telah diturunkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan lengkap. Setiap problem manusia bisa diatasi. Islam memiliki solusi menyeluruh untuk ini semua. Permasalahan manusia tidak muncul begitu saja tanpa ada pemicunya. Aturan islam satu dengan yang lainnya saying berhubungan. Maka Islam mengatur mulai dari aspek hubungan dia dengan Sang Pencipta, dia dengan dirinya, dia dengan orang lain.
Aturan islam dalam masalah hubungan dia dengan Pencipta akan dibangun sejak dalam kandungan ibunya. Kecil hingga besar, orang tua harus mendidik keimanan dan ketakwaannya. Sehingga terbentuklah kepribadian islam yang tangguh. Aturan dia dengan dirinya sendiri juga akan melindungi dirinya dari emosi yang meledak-ledak. Karena islam mengatur tentang baik buruk, terpuji dan tercela harus sesuai dengan ketentuan islam. Sehingga ketika Ada benteng keimanan, pembelajaran untuk melawan nafsu diri sendiri akan bisa mengontrol emosinya. Aturan tentang dia dengan orang lain juga akan diatur sehingga dia tidak boleh melanggar batas – batas yang telah ditetapkan seperti pergaulan yang harus terjaga, pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang memandirikan, sanksi yang tegas, amar makruf adalah kewajiban. Ini semua akan membentengi dirinya untuk tahu batas dan tidak melewati batas orang lain.
Demikianlah ketika Islam diterapkan, manusia akan tahu diri dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihannya. Dia tidak akan mengedepankan hawa nafsunya. Karena kebahagiaan seorang muslim adalah ketika ridha dengan ketetapan Allah. Apalagi ketika cinta yang didasarkan hawa nafsu akan berakibat fatal. Maka cinta hakiki adalah ketika bersandarkan rida Ilahi. Apalagi sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk kita. Menurut kita buruk, belum tentu buruk. Itulah bentuk kedewasaan seorang pemuda islam. Wallahu a’lam bishshawwab
Views: 6


Comment here