Opini

Potret Buram Masyarakat Sekuler

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Ana Rimadona (Muslimah Peduli Generasi) 

wacana-edukasi.com, OPINI– Kabar mengejutkan datang dari Jakarta, tepatnya di jalan Taman Asri 3 Blok AC RT 07 RW 15, Citra Garden 1, Kalideres. Satu keluarga dikabarkan meninggal, teka-teki penyebab kematian satu keluarga tersebut masih menjadi misteri, pihak kepolisian masih mengusut kasus tersebut. Sebelumnya, sempat disebutkan jika penyebab kematian satu keluarga tersebut yang Bernama Rudyanto gunawan (71 tahun) yang merupakan kepala rumah tangga, kemudian istrinya K Margaretha Gunawan (68 tahun), anaknya Dian (42 tahun), serta Budyanto Gunawan (68 tahun), akibat kelaparan. Terkait hal ini, ketua RT 07/15 Perumahan citra garden, Tjong Tjie Xian alias Asyung, membantahnya. Asyung menyebut keluarga ini tergolong mampu, sehingga narasi soal mati kelaparan tidak bisa dibenarkan. (Kumparan News).

Kerabat dari satu keluarga yang ditemukan tewas di kalideres, Jakarta Barat, Ris Astuti (64 tahun) merasa ragu jika keempat kerabatnya meningga akibat kelaparan, sebab ekonomi korban dalam kondisi yang cukup, bahkan korban juga tidak pernah mengontrak rumah dan sempat memiliki kendaraan bermotor. Misalnya kalua dia lapar, tidak ada makanan atau kurang buat makan, kan dia bisa menghubungi kita, “Ujar Ris Astuti di Polsek Kalideres, Jakarta. (Republika.co.id).

Contoh kasus tersebut diatas merupakan potret dari pola hubungan tetangga dalam masyarakat sekuler, dimana hubungan sosial kemanusiaan sangat kurang, lebih cenderung individualistis, tidak ada kepedulian dan hubungan sosial kemanusiaan, hal ini terlihat bahwa mayat sekeluarga baru ditemukan setelah 3 minggu kemudian, dengan diawali warga mencium bau busuk di sekitar kejadian. Hal ini dipengaruhi oleh cara pandang sekularisme kapitalisme. Ideologi kapitalisme menganggap bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu dimana apabila urusan individu ini teratur, maka dengan sendirinya urusan masyarakat akan teratur pula. Titik perhatiannya hanya pada individu-indivu saja. Dan tugas negara dalam ideologi kapitalisme adalah bekerja untuk kepentingan individu oleh karena itu idelolgi tersebut dinamakan juga individualisme. Sedangkan dalam ideologi islam, masyarakat terdiri dari kumpulan manusia, pemikiran, perasaan dan peraturan. Islam memandang bahwa manusia satu dengan yang lainnya akan membentuk sebuah jama’ah, yang artinya individu tersebut menerapkan peraturan yang sama yaitu islam, tolok ukur pemikiran, perasaan dan peraturan adalah berdasarkan apa yang tertuang dalam ideologi Islam yaitu sesuai dengan perintah Allah SWT yang dituangkan dalam Alqur’an dan Hadits . (An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Peraturan Hidup Dalam Islam, cetakan ke-6).

Dalam ideologi islam yang pernah diterapkan dalam suatu bentuk pemerintahan islam yaitu kekhilafahan mempunyai aturan tersendiri dalam bertetangga, islam sendiri mengajarkan kita adab/tata cara bertetangga, diantaranya yaitu :

*Bersikap Baik*
Kepada tetangga, hendaknya kita selalu bersikap baik agar hubungan yang terjalin pun semakin hangat dan akrab. Hal ini di perintahkan langsung oleh Allah SWT dalam Alqur’an “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

*Tidak Menghalangi Bangunan Tetangga*
Dalam bertetangga, tentu kita akan memiliki bangunan rumah yang saling berdampingan. Bahkan bebrerapa rumah juga berdempetan. Sebagai tetangga yang baik, hendaknya kita tidak menghalangi tetangga untuk membangun rumah atau menghalangi udara dan sinar matahari ke rumahnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari no. 1609; Muslim no.2463; dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau Ahmad no.7236; At-Tirmidzi no.1353; Abu Dawud no.3634; Ibnu Majah no.2335; dan Malik no.1462)

*Memberikan Makanan*
Kepada tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita hendaknya sering-sering berbagi makanan. Dengan begini, hubungan kita dengan tetangga akan menjadi semakin baik dan harmonis. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasul kepada para tetangganya.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim).

*Menjenguk Ketika Ia Sakit*
Sebagai tetangga yang baik, hendaknya kita selalu memberikan dukungan kepada tetangga. Begitu pula ketika ia sakit, maka sudah seharusnya kita menjenguknya sembari memberikan semangat dan doa agar ia segera sembuh dari penyakitnya. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

*Memelihara Hak Tetangga*
Salah satu hal yang harus kita utamakan adalah memelihara hak tetangga. Hak tetangga yang perlu kita jaga adalah melindungi harta mereka dari orang jahat, serta memberikan beberapa hadiah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab, ‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari no. 6020; Ahmad no.24895; dan Abu Dawud no. 5155).

Begitau indahnya ideologi Islam mengatur bagaimana tata cara kita memperlakukan tetangga kita, jika ideologi Islam yang begitu sempurna kita terapkan secara kaffah melalui institusi khilafah, insyaallah tidak akan dijumpai masyarakat yang individualis, seperti yang saat ini terjadi pada sistem sekuler dikarenakan suasana keislaman akan sangat mempengaruhi perasaan kita untuk melakukan amalan dan berlomba-lomba melakukan yang terbaik yang kita persembahkan hanya untuk Allah SWT.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 15

Comments (1)

  1. blank

    Miris sekali melihat fakta tsb, jika sistem seperti ini terus berlanjut ga bisa bayangin gimana hancurnya kehidupan di masa depan 😔

Comment here