Opini

Papuaku Sayang, Papuaku Malang

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Siti Aisyah, S.Pd. (Aktivis Literasi Muslimah Papua)

Wacana-edukasi.com — Hutan Papua kembali dibakar, hal ini terkuak dari hasil sebuah investasi visual yang dirilis pada kamis (12/11) menunjukkan perusahaan raksasa asal Korea Selatan secara sengaja menggunakan api untuk membuka hutan Papua demi memperluas lahan sawit. Perusahaan Korea bernama Korindo tersebut merupakan salah satu perusahaan sawit dengan lahan terluas di daerah pedalaman papua (Bbc. com. 12/11/2020).

Selain itu, investasi bersama Greenpeace Internasional dengan Forensic Architecture menemukan dugaan anak usaha perusahaan Korea Selatan, Korindo Group di Papua melakukan pembakaran hutan di provinsi itu secara sengaja untuk usaha perkebunan kelapa sawit. Namun, temuan Grenpeace itu dibantah oleh Korindo Group. Perusahaan menyatakan bahwa informasi yang menyebut Korindo Group membakar hutan Papua untuk perkebunan kelapa sawit tidak benar (Cnnindonesia. com, 13/11/2020).

Mengutip rilis situs Greenpeace, Perusahaan Korindo memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Papua dan telah menghancurkan sekitar 57.000 hektar hutan di provinsi tersebut sejak 2001.

Bumi Cenderawasih memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Tanahnya yang subur, lautnya yang luas menyimpan minyak bumi, hutannya yang luas menyimpan kekayaan di dalamnya, dan sungainya yang mengalirkan emas. Namun sayang, semua itu sudah dikuasai oleh perusahaan asing. Tambang emas di Tembaga Pura dikuasai oleh PT. Freeport milik Amerika, minyak bumi milim LNG. Hutan yang luasnya sekitar 40 juta hektar dikuasai oleh Korea Selatan untuk lahan kelapa sawit. Belum lagi kekayaan biota lautnya yang diekspolitasi untuk kepentingan pariwisata dan lain sebagainya.

Sebaliknya, dengan kekayan yang melimpah itu justru Papua jauh tertinggal dengan provinsi lainya, bahkan menurut Kepala Seksi SUPD Direktorat Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Zambier Islame. Papua juga masih tercatat sebagai wilayah miskin dengan angka kemiskinan tertinggi 26.5 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua berada di posisi terendah dibandingkan dengan Provinsi lain.
Mengapa bisa demikian?

Akibat Sistem Kapitalis

Sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh Papua sangat melimpah ruah baik di darat maupun di laut. Mulai dari gas alam, hasil tambang dan yang lainnya. Selain itu alam Papua juga sangat asri dan tanahnya subur. Begitupun hutanya yang luas dan kaya akan habitat yang ada di dalamnya. Seperti burung cenderawasih yang hanya ada di Papua, yang sering disebut dengan burung surga karena keindahan bulunya.

Dengan kekayaan alam yang begitu banyak, tentu saja menarik para investor untuk menguasainya. Akibatnya banyak perusahaan asing yang berkuasa di Papua. Seperti PT. Freeport di Tembaga Pura, Timika, dikuasai oleh Amerika Serikat. Hampir 35 tahun Perusahaan itu mengeruk emas yang ada di Papua.

Dalam sistem kapitalis, yang berkuasa adalah pemilik modal atau kapital. Kapital atau pengusaha ini bekerjasama dengan Penguasa atas dasar investasi. Para investor inilah yang selalu memberikan dana untuk mengelola SDA yang ada dengan berbagai perjanjian yang di buat.

Penguasaan kekayaan alam di Papua bukanlah sekadar persoalan biasa, akan tetapi merupakan penjarahan dan penjajahan di bidang ekonomi dan politik. Selain keuntungan yang besar dan hasil yang mengalir ke perusahaan multinasional. Juga perundang-undangan yang disahkan seperti UU Migas, UU sumber daya air, UU penambangan di hutan lindung serta UU ketenagakerjaan.

Selain itu, ada campur tangan kekuatan kapitalisme global melalui lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO atau dengan perusahan multinasional. Karena itu sangat tampak, bahwa sejumlah undang undang itu sangat menguntungkan asing dan Indonesia dirugikan. Misalnya untuk saham PT. Freeport Indonesia hanya diberi 15% dari saham keseluruhan. Tak heran jika Papua sangat jauh tertinggal dengan daerah lain. Istilahnya, tidur di atas emas tapi hidup miskin.

Ironisnya dana otsus yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahtetaan rakyat Papua tidak merata. Bahkan bsnyak ysng dikorupsi oleh pejabat setempat. Tak heran jika rakyat Papua menuntut otsus ini. Karena pelaksaanaannya tidak sesuai harapan.

Oleh sebab, itu kita butuh sebuah sistem yang dapat melepaskan rakyat Papua dan Indonesia pada umumnya dari cengkeraman kapitalisme. Sistem yang lebih kuat yang dapat menjaga kedaulatan negara. Sistem yang dapat mensejahterakan rakyatnya yaitu sistem Islam.

Islam Menyejahterakan Rakyat

Islam adalah ideologi yaitu pandangan hidup. Tidak hanya membahas tentang ibadah saja, tapi juga pemerintahan. Dalam pemerintahan Islam yang disebut dengan khilafah legalisasi hukum berdasarkan hukum syara. Dan juga adanya ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam menggali hukum (istinbat) dalam perkara-perkara yang baru.

Selain itu, khilafah akan melindungi setiap jengkal tanah dan hak rakyat dari intervensi asing. Kemudian mengelola SDA yang melimpah yang masuk dalam kepemilikan umum untuk dimanfaatkan untuk kesejahteran rakyat. Dalam hal ini Rasulallah bersabda Umat Islam bersekutu dalam 3 hal yaitu air, api dan padang rumput.”(H. R. Abu Dawud dan ibnu madjah)

Demikianlah Islam mengurusi rakyatnya. Rakyat akan sejahtera dan memiliki kedaulatan penuh di dalam wewenangnya.

Wallahua’lam

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here