Opini

Nabi Lagi-lagi Dicaci, Umat Butuh Junnah Segera

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Salma Banin (Kontributor komunitas Pena Langit)

Wacana-edukasi.com — Umat kembali diusik. Kecaman pemimpin negeri-negeri muslim di sepanjang waktu tak cukup ampuh mencegah penistaan. Bahkan di bulan kelahirannya, Nabi Muhammad saw. tetap saja jadi sasaran bulan-bulanan. Tanpa toleransi mereka tampilkan karikatur murahan di jalan, menerbitkan majalah sarat kebencian terhadap manusia yang mereka inferior-kan. Konon negara itu adalah pelopor kebangkitan sejak abad pencerahan. Sungguh sayang, revolusi itu tak mampu membangkitkan akal dan hati mereka atas kerahmatan orang yang mereka caci habis-habisan atas nama kebebasan.
Apalagi kalau bukan karena dengki?

Kejayaan Islam tegak hampir seribu empat ratus tahun sejak didakwahkan di Makkah, meluas hingga daratan Eropa dan Asia Tenggara. Dijaga sepenuh hati oleh pemeluknya dari anak-anak hingga tua renta. Tak ada cerita tanah yang telah ditaklukkan oleh kekhilafahan Islam kembali murtad, kecuali ada pembantaian dan pengusiran di sana. Begitu jayanya peradaban ini hingga membuat mereka khawatir setengah mati jika ia kembali berdiri. Plus, kota Roma telah pula diyakini akan dikuasai oleh umat Islam berdasar janji rasul-Nya dibawah komando seorang khalifah dalam waktu dekat, insyaAllah.

Ini bukan kali pertama Prancis menabuh genderang perang terhadap Islam. Namun, umat hanya bisa berpikir tentang pemboikotan produk di pasaran seraya berharap negara itu kolaps perekonomiannya dan kapok atas perbuatannya. Ironi, 1,7 milyar umat Islam tak berdaya menghadapi sepetak tanah penjajah negeri-negerinya. Ada apa sebenarnya?

Jika ada dari kita yang rindu pada aksi heroik Sultan Sulaiman Al Qanuni yang berhasil membuat istana raja Perancis steril dari acara dansa ikhtilat (campur-baur laki-laki dan perempuan selain alasan syar’i) yang penuh maksiat, hanya dengan surat, maka kita sepakat. Ultimatum dari sang sultan menjadi legitimasi atas keluhuran dan adi dayanya umat Islam pada masa itu sebab kita masih memiliki perisai yang melindungi kehormatan agama Allah ini dan syariat-Nya.
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Hari ini kondisinya berbeda. Umat berada dalam habitat dimana agama bukan menjadi perkara yang penting. Bagi sekularisme yang memisahkan kehidupan dari aturan Sang Pencipta, manusia dibebaskan mau memeluk agama tertentu atau tidak, mengamalkan ajaran agama atau tidak sama sekali. Sebab, apa pun keyakinan yang diambil, tak akan dibiarkan mempengaruhi jalannya pemerintahan dan subsistem di bawahnya. Manusia disetarakan dengan Tuhan lalu diberi kedaulatan sebagai penentu baik dan buruk atas segala hal. Inilah yang menjadikan Prancis dan negara sekuler lainnya sangat fobia dengan ajaran Islam.

Islam yang diturunkan Allah melalui Rasul saw. memiliki tata kepengaturan integral sejak dari bangun tidur hingga membangun negara. Adalah hal yang wajar jika seorang muslim terikat pada agamanya secara keseluruhan sebab Islam tidak mengajarkan konsep pemisahan sebagaimana yang terjadi hari ini. “Silakan salat, zakat dan menunaikan haji, tapi tidak boleh berpolitik secara Islam” kiranya begitu jargon mereka dengan harapan umat akan mencukupkan pada pengamalan aspek ruhiyah semata, yakni hubungan dengan Allah dan/atau hubungan dengan dirinya sendiri (makanan, minuman, pakaian, dan akhlak).

Namun, manusia tidak akan pernah berpaling dari fitrahnya. Islam akan tetap dimenangkan atas segala sistem dan ideologi yang ada, meski penentangnya tumbuh subur dimana-mana. Kita mesti sadari, bahwa kapitalisme-sekuler tidak akan bertahan lama, umat Islam sedang mulai bangkit memperjuangkan agamanya. Aksi boikot besar-besaran diseluruh dunia menandakan umat masih memiliki ruh untuk bersatu melawan musuh-Nya. Kabar baik ini mesti disambut dengan perjuangan yang lebih serius dan mengakar lagi.
Dimana segala permasalahan umat disebabkan kita belum hidup sebagaimana mestinya. Alam demokrasi sekuler bukanlah habitat umat muslim, dimana setiap hari kita ditipu oleh jargon kebebasan yang dirancang hanya untuk mengamankan kepentingan mereka. Giliran umat menuntut atas haknya, kebebasan bahkan HAM seolah bungkam. Liberalisme ini pula yang menjadikan semangat menerapkan Islam kaaffah menjadi momok sehingga berhak atas labelisasi mengerikan setara teroris, ekstrimis dan radikalis. Akankah kita sadar sepenuhnya?

Bangsa Eropa bisa jadi bangkit karena meninggalkan agamanya, namun umat tidak pernah mengalami petaka separah ini ketika berpegang teguh pada agamanya. Inilah fokus perjuangan yang harus diambil umat saat ini, mengembalikan tatanan syariah Islam dalam seluruh lini kehidupan. Yaitu dibawah naungan Khilafah Rasyidah ala Minhaj an Nubuwwah, satu-satunya institusi yang mampu menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber hukum, bukan akal manusia bukan pula nafsu syahwat penguasa.

Sungguh, kita hanya bisa merasakan rahmat dan keberkahan ketika meninggalkan aturan buatan manusia.
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?.” (TQS Al Maidah [5] : 50)

Wallahu’alam bi ash-shawwab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here