Opini

Menyoal Kejahatan Seksual pada Anak

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Fahma Miftahun

wacana-edukasi.com, OPINI– Kejahatan pada anak selamanya tidak akan pernah mendapat kursi maaf. Bagaimana tidak? Pelaku kejahatan terhadap anak telah merenggut kesempatan korbannya untuk tumbuh dan berkembang dengan baik sebagaimana seharusnya. Waktu di mana seharusnya seorang anak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan, ‘dicabik’ oleh pelaku kekerasan dengan trauma yang dapat berlangsung seumur hidupnya. Lalu, bagaimana jika pelaku kejahatan terhadap anak justru berasal dari anak-anak itu sendiri?

Seperti kasus pemerkosaan seorang anak TK oleh tiga teman sepermainannya yang juga masih berusia muda? Kasus yang terjadi pada 7 Januari 2023 di Mojokerto, Jawa Timur itu diduga dilakukan oleh tiga anak sekolah dasar. Korban mendapat perlakuan tidak senonoh secara bergiliran dan dilakukan berulang kali. Korban pun akhirnya mengalami trauma berat hingga tidak mau bersekolah bahkan tidak mau keluar rumah karena malu.

Sungguh miris, bagaimana bisa seorang anak yang selama ini menyandang image polos dan lugu tiba-tiba memiliki niat bahkan melakukan hal yang kejam. Psikolog Rena Masri, S.Psi, M.Si, berpendapat bahwa kekerasan yang dilakukan oleh anak dapat terjadi melalui dua faktor; internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa pola pengasuhan yang tidak sehat dan faktor eksternal dapat berupa lingkungan yang sudah mewajarkan kekerasan atau tontonan yang ‘menginspirasi’ seorang anak untuk melakukan kejahatan.

“Faktor internal, misalnya orang tua yang memang sering melakukan tindakan kekerasan, hal ini bisa terjadi juga pada anaknya. Sehingga anaknya bisa jadi lebih senang, atau sering melakukan tindakan kekerasan,” terangnya. (orami.co.id, 11-03-2020)

*Keluarga, Lingkungan dan Negara Bertanggung Jawab*
Kasus ini bukanlah menjadi tanggung jawab dan masalah bagi pihak korban maupun pelaku saja. Terlebih pelaku masih berusia belia yang hampir tidak mungkin berinisiatif melakukan tindak kejahatan tanpa ada faktor yang mendorongnya.

Keluarga sebagai tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar memegang kunci terpenting dalam membentuk kepribadian anak. Keluarga dengan pola asuh yang buruk, sering melakukan kekerasan dan tidak harmonis akan membentuk kepribadian anak yang tertutup, tidak berempati dan cenderung memiliki emosi yang tidak stabil.

“Bisa jadi jika anak yang terbiasa diperlakukan kasar, akan melakukan kekerasan kepada orang terdekatnya seperti teman atau anaknya nanti, maka dari itu harus ada bimbingan konseling bagi anak yang diperlakukan kasar. Sedangkan ibunya juga didampingi, agar bisa mengatur emosinya.” kata Dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Si, psikolog perkembangan anak sekaligus dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. (kumparan.com, 29-03-2019)

Lingkungan juga berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Bisa jadi, pelaku berasal dari keluarga yang baik-baik, namun tinggal dan tumbuh di tengah lingkungan yang tidak sehat. Maka pentinglah bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak. Anak-anak adalah masa depan bangsa maka menjadi kewajiban bersama untuk membesarkan penerus generasi yang baik.

Pemerintah sebagai pengayom rakyatnya pun haruslah mengambil peran dalam melindungi anak. Di era digitalisasi yang siapa pun dapat mengakses apa pun di mana pun dan kapan pun, pemerintah harus bisa menyediakan akses yang aman untuk anak-anak. Jangan sampai, tontonan atau informasi yang menginspirasi anak untuk melakukan tindak kejahatan dapat diakses oleh anak-anak degan alasan apa pun, meski dengan dalih untuk edukasi. Pemerintah juga harus mempertegas hukuman bagi para pelaku kejahatan terhadap anak, agar menimbulkan efek jera bagi para pelaku dan menghindarkan orang lain untuk melakukan hal serupa.

*Islam Solusi Tuntas Lindungi Anak*
Disadari atau tidak, hal ini tidak akan terjadi apabila agama diikutsertakan dalam setiap segmen kehidupan. Tidak seperti sistem sekarang yang memisahkan agama dari kehidupan, Islam mewajibkan setiap sisi kehidupan haruslah berjalan bersama dengan agama. Hanya Sistem yang Islam tawarkanlah yang dapat melindungi anak-anak secara menyeluruh demi terciptanya generasi yang khoiru ummah.

Islam membina setiap individu masyarakat untuk memiliki benteng aqidah yang kuat. Berlandaskan pada ketaqwaan pada Allah SWT, setiap individu dengan aqidah yang kuat akan mendasarkan apa yang ia lakukan pada perintah Allah dan menghindar dari apa yang dilarang-Nya. Seorang anak yang lahir akan tumbuh dan berkembang dengan bekal keyakinan ini. sehingga menciptakan individu dengan kepribadian yang baik.

Suasana ber- amar ma’ruf nahi munkar ini tidak dibatasi pada setiap individu saja. Namun, juga secara otomatis akan terimplementasikan di tingkat keluarga dan masyarakat. Hal ini akan memperkecil panggung sarana maksiat untuk mengeksistensikan diri. Menciptakan lingkungan yang sehat sehingga segala bentuk kejahatan terhadap anak dapat diminimalisir.

Di dalam Islam, perlindungan terhadap anak bukan semata tanggung jawab keluarga dan lingkungannya saja. Dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa menjadi pemimpin berarti akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin di akhirat kelak, pemerintah akan menjalankan tugasnya sebagai ‘pelayan rakyat’ semaksimal mungkin. Pemerintah akan memenuhi setiap kebutuhan pokok yang dibutuhkan rakyatnya, sehingga meminimalkan jumlah tindak kekerasan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok.

Tidak sampai di situ saja, pemerintah juga akan menyediakan akses pendidikan yang berkualitas sehingga dapat menciptakan murid yang berkepribadian Islam serta jauh dari perbuatan maksiat tanpa memungut biaya sepeser pun. Selain itu, pemerintah juga akan menjaga agama dan moral dengan menghilangkan sarana yang dapat merusak dan melemahkan akidah dan kepribadian Islam, seperti peredaran minuman keras, narkoba, pornografi, termasuk berbagai tayangan yang merusak dan media sosial yang tidak terfilter. Tentu saja, tanpa menghilangkan peran dari kemajuan IPTEK dan mengarahkannya pada pemanfaatan yang mendukung kesejahteraan umat. Dengan demikian, hanya dengan menerapkan Islam secara menyeluruhlah, perlindungan terhadap rakyat pada umunya dan anak secara khusus dapat terlaksana dengan penuh totalitas.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 35

Comment here