Opini

Khilafah, Makin diminati dan dinanti

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Khusnawaroh (Komunitas Peduli Ummat)

Wacana-edukasi.com — Perbincangan tentang khilafah semakin membahana, kini banyak orang yang telah mengenal kata itu. Tak jarang menuai pro-kontra di masyarakat. Kata khilafah terus menjadi buah bibir berbagai kalangan baik ulama, intelektual, hingga pakar walaupun mungkin masih samar dibenak masyarakat awam. Inilah proses dari sebuah perjalanan menuju perubahan yang hakiki.

Memang perbincangan tentang khilafah semakin nikmat untuk dibahas dan dipelajari, tak kenal maka tak sayang, bagi orang yang telah mengenalnya maka dia akan semakin merinduinya, namun sebaliknya bagi orang yang tak mengenalnya atau tak mau mengenalnya akan semakin geram, membenci dan bahkan rela jadi penghalangnya. Nauzubillah…

Tentu perjalanan dakwahnya, pun tak akan pernah berhenti sebab itu adalah kebaikan sekalipun engkau halangi – halangi dengan tangan-tangan besi ,itu hanya akan berakhir dengan sia-sia. Sebab khilafah adalah ajaran Islam, janji Allah swt, dan kabar gembira dari Rasulullah saw. Hal ini tersirat dalam firman Allah swt. dalam Qs. Al- Baqarah : 30 , shaad : 26 , An Nuur : 55. dan masih terdapat ayat alquran lain selain dari itu. Kemudian tersirat pula dalam hadist Rasulullah saw. Bahwa Rasul Saw bersabda :

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Sejarah pun membuktikan bahwa Islam telah berjaya lebih dari 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia sampai saat ini belum pernah ada peradaban yang mampu bertahan melebihi kejayaan Islam, bukan hanya itu saja peradaban Islam sampai keseluruh penjuru negeri, bangunan- bangunan juga para Ilmuwan yang dilahirkan pada masa itu sungguh sangat gemilang.

Namun kejayaan Islam telah runtuh tepatnya pada tanggal 24 maret 1924. pada masa kekhilafahan Usmani yang pada masa itu dipimpin oleh Sultan Hamid 2 . Dan untuk mengenang kembali sejarah islam tersebut Bertepatan dengan momen Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H, hari Kamis (20/8/20), lebih dari 250.000 warganet mendaftar dan mengikuti acara Nonton Bareng Film Dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Film ini mengingatkan kita bahwa pernah ada jejak sebuah negara adidaya yang bernama Khilafah Islamiyah yang telah memberikan banyak sekali pengaruh dan sumbangsih bagi kehidupan kita saat ini.

Di satu sisi, kita berada dalam sebuah masa yang mana Islam menjadi sesuatu yang asing bahkan masyarakat dunia dibuat phobi terhadapnya. Berbagai sematan istilah seperti radikal, teroris, garis keras, dan sebagainya menjadi label bagi para aktivis dakwah yang senantiasa istiqamah untuk menyampaikan ajaran Islam. Termasuk, menyerukan umat tentang Islam kaffah dan khilafah.

Sehingga lebih dari 250.000 warganet mendaftar dan mengikuti acara Nonton Bareng Film Dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN). Adalah jumlah yang luar biasa, ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap opini Khilafah dan perjuangan penegakannya, meski dari pihak rezim sendiri telah berusaha untuk mentake down link vidio film tersebut, dengan kesungguhan orang- orang yang ikhlas dan sabar didalamnya, film tersebut dapat ditonton kembali. Meski begitu naluri umat terhadap agamanya justru akan semakin bergelora.

Ditambah dengan nonton Film tersebut. Sebab film  JKdN ini adalah sebuah karya, yang akan membuka khasanah sejarah tentang bagaimana dulu rakyat Indonesia bisa mengenal Islam, juga tentang bagaimana hubungan peradaban dunia Islam (khilafah) dengan Nusantara.

Bukti-bukti itu hingga kini masih ada dan begitu dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Hubungan Khilafah dan Nusantara semakin tak terbantahkan. K.H. Rokhmat S. Labib, selaku ulama dan tokoh agama di Indonesia menuturkan bahwa Islam dan kekuasaan tidak bisa dipisah. Keduanya merupakan satu kesatuan.

K.H. Rokhmat S. Labib menerangkan bahwa Khilafah telah menebar hidayah dan menerangi negeri ini dengan Islam. Saat ada invasi Barat, Khilafah membantu negeri ini untuk terbebas dari penjajah dengan bantuan militer.

Apa yang disampaikan K.H. Rokhmat S. Labib nyata ditayangkan dalam film JKdN. Bantuan militer yang dikirimkan oleh Khilafah kepada rakyat Aceh. Dan masih banyak bukti yang bisa kita dapatkan dari jejak khilafah di Nusantara. Kita pun tidak bisa memungkiri bahwa itu adalah fakta yang pernah terjadi di masa lampau. Hal ini membuktikan Khilafah bukan perkara ahistoris yang tidak bisa dibuktikan, khilafah memiliki hubungan erat dengan Nusantara dan juga semangat para pahlawan untuk menumpas berbagai kezhaliman dan penjajahan.

Perjuangan khilafah bukan perjuangan semu yang tidak berdasar. yakni ini merupakan bagian dari perintah Allah yang jelas dalam Qur’an dan Sunnah yang harus kita laksanakan sebagai manusia yang beriman, dan merupakan sejarah emas yang tidak hanya sekedar untuk dikenang, tapi mesti dikembalikan.

Sementara dalam sesi bincang-bincang, diuraikan oleh Ustadz Ismail Yusanto, Penasehat Komunitas Literasi Islam (KLI), bahwa sejarah adalah kisah yang mengandung ibrah (pelajaran). Ibrah bisa didapat tergantung bagaimana sejarah itu diceritakan atau ditulis atau difilmkan. Jika sejarah ditulis secara benar maka ibrah yang didapat akan benar. Namun sebaliknya, jika sejarah ditulis secara salah maka ibrah yang didapat pun akan salah. Dengan kata lain, sejarah dikatakan sebagai second hand reality (realitas tangan kedua) yang sangat tergantung kepada siapa yang menuturkan atau menuliskannya. Latar belakang dari penulis sejarah pun sangat berpengaruh. Karena inilah, kadang terjadi pengaburan dan penguburan sejarah.

Dengan demikian, penting untuk menggali kebenaran sejarah (digging up the truth) selain menggali masa lalu (digging up the past). Ustadz Ismail mengatakan, film JKDN sendiri dibuat dengan dua kerangka tersebut. Namun, kedudukan sejarah bukanlah sebagai sumber hukum (mashdarul hukmi) dan sumber pemikiran (mashdarul tafkir), tapi merupakan obyek pemikiran/kajian (mawdhul tafkir). Artinya, sejarah hanya sebagai pelengkap yang memperkuat pemahaman atau ajaran. Sehingga sekalipun tidak ada jejak khilafah di Nusantara, bukan berarti Khilafah tidak penting atau tidak wajib.

Jadi, sudah sangat jelas kewajiban untuk menegakkannya, Al-quran dan hadist telah menjelaskan, sejarah pun telah membuktikannya yang dapat dijadikan ibrah ( pelajaran ) bagi kita semua.

Perjuangan dakwah akan terus melaju untuk meraih kebangkitan yang dituju. Tidak ada kebangkitan yang hakiki melainkan hanya dengan Islam, tidak ada kebahagiaan, kesejahteraan , persatuan, keadilan dan kejayaan yang hakiki melainkan hanya mempratekkan syariat Islam secara kaffah.

Wallahua’lam bissawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comment here