Opini

Kapitalisme Kukuh, Rumah Tangga Rapuh

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nelda (Mahasiswa USN Kolaka)

Wacana-edukasi.com— Dikutip dari Telisik.id, pandemi COVID-19 mengakibatkan persoalan diberbagai sektor kehidupan. Bukan hanya ekonomi dan Pendidikan, pandemi COVID-19 ini pun menjadi pemicu tingginya angka perceraian di kabupaten Konawe. Dari kasus perceraian di Konawe yang semakin tinggi pada 2020 ini, faktor ekonomi menjadi alasan dominan yang menyebabkan kasus perceraian di Konawe semakin tinggi dari tahun sebelumnya.

Hal ini diungkapkan Humas Pengadilan Agama Unaaha, Massadi. Katanya, di masa pandemi ini akan berbeda dengan sebelumnya, ketika aktivitas orang terbatas, sementara kebutuhan dasar itu tetap maka disitulah akan muncul pergolakan. “Nah, kondisi pergolakkan itu lah yang memicu situasi rumah tangga tidak harmonis lagi, kebutuhan rumah tangga cukup tinggi sementara aktivitas di luar terbatas,” ujarnya, selasa (8/9/2020).

Dari data Pengadilan Agama Unaaha, tingkat perceraian meningkat. Jumlah pendaftaran gugatan dalan satu hari mencapai 20 hingga 30 orang. Hingga kini, terdaftar 565 perkara gugatan cerai karena alasan ekonomi, KDRT dan kasus lainnya, “tahun 2019 hanya sekitar 500-an kasus perceraian dan tahun 2020 di bulan September saja sudah mencapai 600-an dan sampai akhir tahun akan melebhi angka itu,” ungkap Massadi menyebut pelayanan yang ada di pengadilan agama unaaha tetap berjalan normal hanya saja proses yang dilaksanakan tetap memperhatikan protocol kesehatan guna menekan angka penyebaran COVID-19 di Konawe.

Kapitalisme Membuat Pepisahan Jadi Solusi
Angka perceraian yang semakin besar akibat faktor ekonomi bagi kapitalisme adalah hal yang biasa. Sehingga kasus perceraian meningkat pun bukanlah suatu masalah besar. Aturan kapitalisme buatan manusia hanya bisa membuat hidup semakin sempit. Masalah datang bertubi-tubi. Bahkan masalah global seperti pandemi pun belum kunjung selesai dan hal ini ternyata berefek pada kehidupan keluarga di Indonesia.
Negara tak memandang betapa pentingnya rumah tangga untuk menghadirkan generasi-generasi penerus yang tangguh penggerak peradaban. Jika ditelisik lebih jauh, maraknya perceraian di masa pandemi ini bukan melulu karena efek wabah. Adanya wabah ibarat ujian pada rumah tangga. Jika sebelumnya fondasi rumah tangga sudah kukuh, tentu tak akan ada kata pisah meski ujian pandemi mendera.

Dampak pandemi kian nyata. Salah satunya adalah merosotnya kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai masalah yang tak dapat dihindari. Lemahnya keimanan menjadikan rapuhnya bangunan keluarga. Terbukti, saat ujian wabah penyakit datang yang berimbas pada ekonomi keluarga, perceraian menjadi pilihan solusi. Kapitalisme telah menggerus makna keluarga yang seu¬tuh¬nya. Sebab, ukuran kebahagiaan dalam kapitalisme adalah terpenuhinya kebutuhan jasadiyah semata dan berlimpahnya materi.
Islam Solusi problematika umat
Islam memang membolehkan perceraian asal ada udzur yang membolehkannya tapi Allah membenci perceraian sebab perceraian hanyalah diperintahkan oleh setan dan tukang sihir sebagaimana firman Allah “ mereka belajar dari keduanya sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan instrinya “. (QS, Al-Baqarah: 102).

Juga hadits; Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya diatas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya, maka yang akan menjadi pasukkan yang paling dekat dengan dengan dia adalah yang paling banyak fitnahnya. Lalu ada yang datang dan berkata, ‘saya telah berbuat ini dan itu’ maka iblis berkata. ‘engkau tidak berbuat apa-apa.’ Kemudian ada yang datang lagi dan berkata, ‘saya tidak meninggalkan seorangpun kecuali telah aku pisahkan antara dia dengan istrinya.’ Maka iblis mendekatkan dia padanya dan mengatakan, ‘engkaulah sebaik-baik pasukanku,” ( HR Muslim, no.2167).

Seorang khalifah dalam daulah Islam telah menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sesuai syariat yang ditentukan oleh Allah Swt. Menanamkan keimanan kepada warganya dan menjadikan berumah tangga adalah hal yang paling penting utamanya mewujdukan generasi-generasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara ,dunia dan akhirat.

Bukti nyata, salah satunya kepemimpinan khalifah Umar Bin Khaththtab yang kala itu negerinya juga dilanda wabah yang ganas lagi mematikan. Namun, tak sampai memunculkan masalah baru yang besar hingga berdampak pada ekonomi yang menghilangkan keharmonisan dalam rumah tangga, sebab pandemi terselesaikan tuntas dengan cepat tepat dan khalifah membiayai kebutuhan warga yang tak berkecukupan, membukakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi kaum laki-laki, menggratiskan pendidikan, alhasil masalah ekonomi dapat dituntaskan dengan baik.

Wallahu a’lam bissawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here