Opini

Jauhi gosip, Dekati Syukur

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Meitya Rahma, S. Pd

Wacana-edukasi.com — Melihat Bu Tejo di film “Tilik” mengingatkan saya pada wanita paruh baya di desa yang kadang saya temui. Tidak sama, sih, hanya mirip Bu Tejo, karena hobinya sama, bergosip. Si ibu ini karena seringnya bergosip suatu ketika dia kena batunya, dia dilabrak sama bapak-bapak karena si bapak-bapak ini difitnah. Kejadian ini pun tidak membuat ibu ini jera, sampai saya pun tidak bisa membedakan apakah itu hobi atau watak.

Ada beberapa hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran dari si ibu ini. Bergosip menimbulkan dampak buruk bagi obyek yang digosipkan karena gosip yang menyebar, maka reputasi seseorang rusak dalam sekejap. Allah SWT. melarang gosip karena menimbulkan fitnah.

Al-quran juga menegaskan larangan bergosip atau menggunjing. Gosip dalam Islam disebut dengan istilah ghibah. Nabi menjelaskan definisi ghibah dalam sebuah hadits riwayat Muslim sebagai berikut: “Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian beliau bersabda: Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci. Ada yang bertanya, Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang kami katakana itu betul-betul ada pada dirinya? Beliau menjawab: Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan suatu kedustaan).”

Ungkapan “Lidah tak bertulang” memang benar adanya, maka dengan sangat ringannya lisan itu menceritakan keburukan orang dan memunculkan prasangka buruk. Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan dengan ucapan yang baik. Dalam Surat Hujurat ayat ke-12 Allah memerintahkan untuk menghindari prasangka, menggunjing orang. “Wahai orang-orang beriman jauhilah banyaknya prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan menggunjing sebagian terhadap sebagian, apakah engkau senang jika makan daging bangkai saudaranya? Maka kalian membencinya dan takutlah kepada Allah sesungguhnya Allah menerima taubat dan Maha penyayang.”

Bergosip itu sesuatu yang nampak remeh, ringan sekali dilakukan oleh banyak orang namun ternyata dosanya mengerikan. Apalagi jika si penggosip membicarakan memiliki penyakit hati (Iri, dengki, hasud) jadilah punya motivasi untuk menjatuhkan reputasi.

Manusia itu tidak ada sempurnanya, jadi memang tempatnya salah. Seberapa pun orang mengorek kekurangan orang lain pasti ada saja keburukan itu. Maka fokuslah pada diri kita, kekurangan kita juga banyak sebenarnya. Fokus pada kekurangan kita, agar terus memperbaiki diri. Saking sibuknya memperbaiki diri maka tidak ada kesempatan untuk mengorek keburukan orang. Jangan lupa bersyukur atas karunia yang Allah SWT. berikan. Jika manusia selalu bersyukur maka akan ditambah nikmat untuknya. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Mau pilih yang mana, syukur atau kufur. Kalau memilih syukur maka Allah akan tambahkan nikmat, namun jika kufur maka azab Allah-lah yang datang. Semoga kita dapat selalu memiliki pilihan hidup yang dapat membawa kita kepada jannah-Nya.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 16

Comment here