Surat Pembaca

Individualis dalam Kapitalis

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Azmi (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Manusia merupakan makhluk sosial. Hidupnya akan selalu memerlukan bantuan orang lain. Aktivitasnya tidak pernah lepas dari hubungannya dengan manusia lainnya. Saling tolong menolong, saling menasihati, serta saling peduli merupakan contoh dari hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Namun, saat ini tak jarang ditemukan tetangga yang tidak peduli terhadap kondisi tetangga lainnya. Atau bahkan, ada saja individu yang menutup diri dari lingkungan sekitar. Kondisi seperti ini dapat membuat masyarakat tidak tahu kondisi individu maupun masyarakat yang lain di sekitarnya. Seperti yang diberitakan oleh megapolitan.kompas.com (8/9/2023), di dalam perumahan Bukit Cinere, Depok, telah ditemukan jasad seorang ibu berinisial GAH (68) beserta anak laki-lakinya berinisial DAW (38) yang telah membusuk di dalam kediaman mereka sendiri.

Bahkan, para tetangga mengenal rumah tempat ditemukannya mayat ibu dan anak tinggal kerangka di Perumahan Bukit Cinere Indah, Depok, sebagai rumah tinggal terbaik. (metro.tempo.co, 10/9/2023)

Mengapa hal ini bisa terjadi?

*Kehidupan yang Individualis*

Tak dapat dimungkiri bahwa sekuler kapitalis ini menghasilkan individu yang memiliki sifat individualistis. Masyarakat menjadi apatis, sibuk dengan urusan masing-masing. Individu merasa tak mau tahu dan merasa tak perlu tahu kondisi individu lain di sekitar rumahnya ataupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain itu, individu yang kuat secara ekonomi pun terkadang merasa sudah memiliki segalanya, sehingga memungkinkan dirinya memiliki perasaan tak membutuhkan individu lain. Perasaan ini pun yang mungkin saja menjadi salah satu alasan untuk tidak bergaul dengan sekitar. Yang pada akhirnya, sekitar pun tak banyak tahu tentang apa yang terjadi dan yang dilakukan oleh individu tersebut.

Terkadang pula masyarakat yang peduli terhadap tetangga sekitar dianggap mencampuri urusan orang lain. Tak jarang juga sebutan ‘kepo’ keluar dari mulut tetangga lain sebagai respon dari tindakan individu yang ingin tahu lebih banyak tentang tetangganya. Padahal, keingintahuan tersebut tidak selalu menjadi hal yang negatif, melainkan dapat juga menjadi salah satu bentuk kepedulian untuk mengetahui kondisi tetangga sekitar apabila memang memerlukan bantuan.

*Masyarakat dalam Islam*

Dalam Islam, masyarakat dibiasakan untuk bersikap saling peduli, saling menghormati, dan saling membantu. Bentuk kepedulian ini dibuktikan dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Masyarakat akan saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah masyarakat lain dari berbuat kerusakan. Dengan seperti ini, masyarakat tidak akan bertindak masa bodoh dan individualis.

Dalam Islam pun, masyarakat wajib saling tolong menolong dan saling peduli. Seperti dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah: 2 yang artinya, ”Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Lalu, dalam Islam, sistem sosial yang diterapkan oleh negara berlandaskan syariat Islam. Sistem kapitalisme menimbulkan ketimpangan sosial yang akan memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Hasilnya, orang akan menjadi dekat jika kondisi ekonominya terlihat meningkat. Sebaliknya, orang akan tidak peduli jika kondisi ekonominya bermasalah.

Berbeda dengan Islam. Merupakan suatu kewajiban bersikap peduli dan saling membantu orang yang membutuhkan. Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada tetangga, seperti menjenguknya ketika sedang sakit, mendoakannya agar lekas sembuh, dan memberikan nasihat untuk meringankan bebannya, serta hal baik lainnya.

Rasulullah saw. bersabda,
“Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Dan, dalam hadis lain juga bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

Begitu indahnya hubungan antar masyarakat dalam sistem Islam. Keindahan seperti ini hanya akan dirasakan jika kehidupan sosial masyarakat berlandaskan pada akidah Islam. Maka dari itu, sistem sekuler kapitalisme sudah seharusnya ditinggalkan. Dan, dilakukan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Wallahu ‘alam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 10

Comment here