Bahasa dan SastraPuisi

Ia Bernama Kasim

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Dwi Puspaningrum

Kasim menghela napas panjang
Lagi-lagi ia adalah korban
Bersama ribuan kawanan
Turun ke jalan

Kasim menghela napas panjang
Suaranya semakin serak dan parau
Menyuarakan aspirasi
Menuntut janji

Kasim menghela napas panjang
Meratapi kisahnya sebagai buruh lusuh
Yang katanya selalu membuat kisruh

Ah, Kasim yang malang
Menagih janji, padanya Dewan Perwakilan Rakyat
Yang katanya mengatasnamakan rakyat
Entah, rakyat yang mana

Barangkali rakyat berbau dolar
Bukan minyak solar, sepertimu Sim Kasim.
Ini hanya barangkali
Tak usah ambil hati

Dan Kasim menghela napas panjang
Hingga berkunang-kunang
Kepalanya seakan berputar-putar, lalu tumbang
Ah, siapa peduli?

Yogyakarta, Oktober 2020

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 11

Comment here