Opini

Generasi Sumbu Panjang vs Sumbu Pendek

Bagikan di media sosialmu

Penulis: Nidya Lassari Nusantara

Tahun 2025 dunia remaja diwarnai dengan banyak tragedi mencekam dari penerus generasi. Dari dunia pendidikan, aksi mogok siswa karena membela temannya yang ditampar kepala sekolah akibat dari ketahuan merokok di area sekolah. Aksi peledakan bom di wilayah sekolah yang diduga akibat sering di bully. Dari dunia keluarga tidak kalah menyeramkan, yang terbaru dua peristiwa pembunuhan orang tua terjadi dan pelakunya adalah anak kandung sendiri.

Seorang dosen Universitas Sumatra Utara (USU), Orang Kaya Hasnanda (OKH) (58), tewas dibunuh anak kandungnya sendiri berinisial H (18). Aksi pelaku dipicu lantaran kesal sang ayah menganiaya ibunya (newsdetik.com/02 Desember 2025).

seorang anak yang duduk dibangku kelas VI SD berinisial A (12) membunuh ibunya, F (42), di Kota Medan, saat korban sedang tidur pada Rabu (10/12) subuh. Anak A diduga tega melakukan tindak pidana tersebut karena kesal pada ibunya yang kerap memarahi dia, kakak, dan ayahnya (Antaranews.com/6 Januari 2026).

Kasus seperti ini dikenal dengan parricide. Dan masih banyak lagi-lagi perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang mewarnai generasi saat ini.

Hancurnya karakter generasi saat ini menjadi bukti nyata bahwa sistem yang berlaku saat ini telah gagal mencetak generasi menjadi manusia yang berakal dan menentramkan jiwa. Tidak dapat dipungkiri bahwa karakter generasi saat ini adalah generasi “sumbu pendek”. Menurut KBBI, sumbu pendek adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mudah tersulut emosi atau terprovokasi, seperti perumpamaan sumbu pada petasan atau dinamit yang meledak dengan cepat saat dipicu. Mudah tersinggung, mudah tersulut emosi, marah, gampang terprovokasi suatu isu atau masalah sehingga dapat merusak hubungan sosial jika tidak dapat dikendalikan. Perilaku-perilaku sumbu pendek generasi saat ini tidak terlepas dari buruknya aturan yang diterapkan saat ini.

 

Dalam bidang ekonomi dan sosial. Himpitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup memaksa kedua orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja. Anak terjangkit fenomena fatherless. Kaum ibu yang ikut serta menjadi tulang punggung keluarga membuat peran mereka sebagai madrasah pertama anak hilang. Untuk memenuhi naluri berkasih sayang, anak mencari pelarian kasih sayang kepada hal-hal lain seperti permainan game online, pergaulan bebas dan hal buruk lainnya tanpa ada pendampingan orang tua. Anak tidak dibimbing sepenuhnya untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk. Orang tua hanya berperan sebagai mesin uang yang membiayai biaya sekolah dan keperluan hidup lainnya.

 

Urusan ilmu dan akhlak diserahkan kepada pihak sekolah. Sementara, dunia pendidikan juga tidak jauh berbeda mengalami hal yang sama. Sistem pendidikan saat ini yang meminimalisir agama menjadikan anak-anak tidak mengetahui Sang Pencipta sebagai sang pengatur kehidupan. Yang tampak adalah, bila sekolah lebih memprioritaskan agama maka untuk urusan dunia akan tertinggal. Bila prioritas kurikulum urusan dunia maka akan ketinggalan urusan agama. Setiap orang diberikan kebebasan menentukan pilihan sendiri sesuai keinginannya.

Perilaku seperti ini lahir dari akidah sekulerisme yaitu pemikiran mendasar yang memisahkan agama dari aturan kehidupan. Sistem ini menghapus eksistensi sang pencipta sebagai sesuatu yang berhak mengatur. Konsekuensinya dari sistem ini otomatis memberikan kewenangan kepada manusia untuk membuat peraturan kehidupan sendiri, baik secara pribadi sampai negara. Dari sistem ini lahir ide demokrasi yang menjamin empat kebebasan, yaitu kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan dan perilaku.

Ide kebebasan berprilaku ini telah merosotkan cara berfikir manusia yang mengambilnya menjadi jalan hidup. Cara berfikir sumbu pendek sampai pada tingkah laku binatang. Allah SWT berfirman; “Terangkanlah kepada-KU, tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? ataukah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (QS Al-Furqon [25]:43-44). Perilaku sumbu pendek adalah perilaku binatang yang menerapkan hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Perilaku yang tidak sesuai akal karena bertindak dahulu sebelum berfikir panjang. Sungguh hanya akan menghasilkan keburukan dan kesengsaraan.

Generasi-generasi berperilaku sumbu pendek ini harus segera diatasi. Karena sudah terbukti, aturan manusia adalah aturan serba lemah. Maka yang dibutuhkan manusia saat ini adalah aturan yang tidak lemah, tidak terbatas, sesuai Fitrah dan memuaskan akal. Semua hal itu hanya dikuasai oleh sang Pencipta.

Dalam agama Islam, yang Maha Kuasa hanya Allah SWT, sang pencipta dan juga sang pembuat aturan. Islam turun ke muka bumi sesuai janji Allah SWT sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

Dalam sistem Islam, orang tua sebagai pondasi pertama menjaga ketakwaan pribadi anak. Orang tua menjadi contoh bagaimana menjadi pribadi yang bertakwa. Melaksanakan aturan Allah SWT semata-mata hanya untuk meraih ridha Allah dan terhindar dari api neraka.

“Hai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga dari api neraka.”

(Q.S at-Tahrim [66]: 6). Orang tua juga mempunyai kewajiban untuk menempatkan anak di lingkungan yang baik, aktif dengan kegiatan-kegiatan yang peduli terhadap permasalahan umat.

Pondasi yang tak kalah penting selanjutnya adalah peran negara. Negara berperan menjadi pengurus dan perisai umat, mengedukasi rakyat dengan pemahaman Islam, menyediakan lapangan pekerjaan untuk laki-laki dan wanita dibolehkan bekerja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai madrasah utama di rumah. Negara juga menerapkan sistem pergaulan Islam dan menguasai media sehingga tidak terpengaruh pada tsaqofah atau gaya hidup asing (sistem selain Islam) serta menerapkan sanksi Islam bagi pelaku kejahatan sesuai usia, baligh atau belum.

Terbukti dengan sistem aturan Islam, banyak lahir generasi dengan sumbu panjang. Yang menyalakan cahaya bukan hanya di dunia tapi juga akhirat. Bukan hanya di masa kini bahkan di masa depan. Ada Muhammad Al Fatih yang terbukti mampu menaklukan kota Konstantinopel menjadi bagian daulah Islam di usia 21 tahun. Imam Syafii menjadi imam yang mazhabnya banyak dipakai terutama di wilayah Asia. Mampu menghafal dan hadis di usia 10 tahun. Ibnu Sina ahli kedokteran yang teori tentang ilmu bedah nya masih digunakan sampai saat ini. Bahkan sejarawan Will Durant menuliskan kekagumannya dalam buku The Story of Civilization:

“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Spanyol. Islam telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan ditengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bangsa mereka.”

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 18

Comment here