Opini

Bullying, Kejahatan Makin Genting

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Nur Octafian NL S.Tr. Gz.

wacana-edukasi.com, OPINI-– Beberapa waktu lalu viral di media sosial, sebuah video yang mempertontonkan aksi bullying atau perundungan terhadap anak di Bandung. Dalam video yang beredar, tampak pelaku meminta seorang anak laki-laki membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya. Namun karena tidak dituruti, pelaku melakukan perundungan dengan memukul kepala korban dengan botol kaca. Akibatnya, korban yang terluka lalu menangis. (Kompas[dot].com, 28/04/2024).

Kasus bullying terhadap anak dibawah umur masih saja terjadi masif, makin parahnya pelaku tanpa malu-malu dan takut lagi melakukan tindakan bullying secara terbuka bahkan secara live. Disalah satu video lainnya setelah video live bullying tersebut viral pelaku mengaku memiliki kerabat seorang TNI bahkan pelaku mengatakan tidak takut bila harus di hukum. Hal ini menggambarkan kejahatan tidak dianggap lagi sebagai sesuatu yang buruk, bahkan wajar dan keren.

Makin parah dan maraknya bullying lantas menjadi masalah serius di Indonesia. Padahal, pemerintah pun telah banyak berupaya membuat aturan dan edukasi untuk mengatasi kasus kekerasan. Tapi nampaknya program-program yang dibuat tidak efektif dan menjadi solusi dari kasus bullying ini. Apa sebenarnya yang salah?

/ Buah Buruk Sistem Sekuler /
Sebenarnya, benang merahnya adalah aturan yang mengatur tatanan kehidupan saat ini yang harusnya di koreksi. Sebab pendidikan dalam sistem sekularisme memberikan ruang kebebasan kepada anak didik sebagaimana asasnya. Mereka bebas berpendapat dan berperilaku.

Disamping itu sistem ini juga menjauhkan kehidupan dari pedomannya yaitu agama bahkan sistem ini telah melahirkan orang-orang yang menentang agamanya sendiri. Sehingga kebebasan yang di berikan makin menjauhkan mereka dari nilai-nilai agama.
Makin mirisnya lagi dengan adanya HAM, yang berbalut dengan istilah “sekolah ramah anak” menjadikan guru yang benar-benar ingin mendidik dan membetulkan anak didik yang berbuat salah, bak buah simalakama. Tersandera dengan aturan. Walhasil tumbuhlah anak-anak dengan segala kebebasannya. Tak jarang kasus seorang pendidik menjadi korban dari keganasan anak didiknya sendiri, ataupun orang tua wali.

Maka wajar bila kasus bullying ini masih marak terjadi. Selama sistem yang di terapkan masih pendidikan sekuler, upaya apapun di lakukan bila itu hanya memangkas dahan-dahannya, bukan memangkas akarnya maka tidak akan cukup ampuh untuk menuntaskan masalah bullying.

/ Solusi Islam /
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, semua tatanan kehidupan di atur dalam Islam, bukan saja hubungan manusia dengan pencipta tapi juga antara manusia dengan manusia lainnya melalui aspek pendidikan dan pergaulan.

Islam punya sistemnya untuk menuntaskan masalah bullying ini, bukan sekedar membuat gerakan, program-program, atau regulasi semata. Dalam sistem pendidikan Islam, selain penanaman akidah Islam/tauhid yang kokoh pada anak didik, juga pembentukan pola pikir dan kepribadian Islam bagi anak sangat diwajibkan sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Selain itu juga, sangat perlu untuk diterapkannya seperangkat aturan yang sahih yaitu aturan Islam yang mengatur tentang pergaulan yang dengan aturan ini mampu mengurai kasus bullying yang marak terjadi. Ketika bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, anak didik harus terbiasa terikat dengan aturan.

Dalam Islam ada bab ahlak yang bisa menjadi pedoman dalam berinteraksi dengan sesama. Bab ini melatih seseorang untuk beradab ketika berinteraksi dengan yang muda, sebaya dan yang tua. Selain itu dilatih pula mengelola emosi atau nalurinya, sehingga mampu meredam emosinya berganti menjadi penyayang dan selalu menghormati.

Dalam mengentaskan masalah bullying ini, sangat di perlukan peran orang tua, seorang pendidik, masyarakat dan negara, sebagai kontrol agar anak didik tidak menjadi pelaku bullying. Orang tua ditekankan harus lebih memberikan perhatiannya pada anak, menemani tumbuh kembangnya dan memberikan pendidikan terbaik bagi mereka. Interaksi guru dan muridpun tidak sebatas hanya pada penyampaian pelajaran, guru harus mampu melakukan transfer nilai-nilai akidah Islam di setiap pelajarannya.

Kemudian masyarakat juga dituntut untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dari bullying, mengontrol dan saling mengingatkan (amar makruf nahi mungkar) ketika ada kejanggalan di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, tidak cukup sekedar membentuk gerakan atau membuat program semata. Ketika hendak menyelesaikan sebuah masalah maka penting untuk menuntaskannya dari akar.

Maka tak ada lain, hal yang paling mendasar, yaitu negara harus mampu mengubah sistem sekularisme ini, menjadi sistem Islam yang penuh dengan keberkahan. Sebab hanya Islam satu-satunya sistem yang mampu menjadi solusi komprehensif, bagi problem bullying ini. Karena sistem ini mampu melahirkan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang mencerminkan nilai- nilai Islami.

Selain melahirkan generasi cemerlang yang unggul. Negara yang menerapkan sistem Islam sudah pasti akan menutup rapat pintu-pintu yang memicu tindakan kekerasan. Jikapun masih ada pelanggaran negara akan menegakkan sistem sanksi sesuai syariat Islam. Hanya negara Islam yang menerapkan sistem Islamlah yang mampu mengurangi kasus bullying.
Wallahu a’lam bishshawab[]

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 16

Comment here