Surat Pembaca

BRI untuk NKRI, Benarkah Menguntungkan Indonesia?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Sriyama

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Ambisi besar China melalui Belt and Road Initiative (BRI) terus menjadi sorotan dunia. Apakah masuknya Indonesia menjadi bagian BRI menguntungkan negara? Presiden China Xi Jinping mengumumkan negaranya akan menyuntikkan dana lebih dari US$ 100 miliar atau sekitar 1.576.99 Triliun ke program inisiatif sabuk dan jalan (Belt and Road Initiative).

Xi Jinping mengumumkan. Pada rabu (18/10), suntikan dana itu akan diberikan oleh pemberi pinjaman utama Belt and Road, China Development Bank dan Bank Ekspor Impor. Tak hanya itu, keduanya lembaga juga masih akan menyiapkan sejumah peluang pembiayaan lain.

BRI merupakan pilar utama Xi Jinping untuk memperluas pengaruh negaranya di dunia saat ini. Melansir CNN (19/10/2023), program yang diluncurkan pada tahun 2013 itu telah menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk mendukung pembangunan jembatan, pelabuhan, jalan raya, pembangkit tenaga listrik dan proyek telekomunikasi di Asia, Amerika Latin, dan Afrika dan bagian Eropa.

Sungguh benar terlihat bahwa China berambisi menguasai perekonomian dunia, maka dengan BRI China berharap dapat mewujudkannya hingga rela mengucurkan pinjaman besar pada negara-negara ketiga guna membangun infrastruktur dan sebagainya.

Jika kita cermati secara mendalam, negara yang mendapat pinjaman dari China adalah negara yang wilayahnya dilewati jalur BRI yang mereka buat sendiri. Artinya dibalik kucuran dana ke negara tersebut tujuannya untuk memperlancar jalur sutranya, pada akhirnya c
China lagi yang mendapat keuntungan besar.

Meski China mengklaim bahwa bantuan yang diberikan demi memperlancar pembangunan negara yang bersangkutan. Namun faktanya negara yang bekerja sama dengan China justru mengalami kesulitan ekonomi dan bahkan terjerat hutang. Harus menjadi pelajaran dari negara-negara yang gagal membayar hutang kini sebagian aset diambil alih oleh pihak pemberi utang seperti yang terjadi di Sri Lanka.

Dalam sistem hari ini tidak ada makan siang gratis, pihak China tentu dalam memberikan utang pasti ada untung. Maka ketika memberi pinjaman pasti ada bunga, bisa dibayangkan jika setiap membangun infrastruktur selalu mengandalkan utang sudah pasti negara cepat dan sudah dipastikan akan mengalami kehancuran.

Disaat negara mengalami kehancuran, maka china datang dengan dalih membantu, padahal dengan jurus ampuhnya china akan minta kekayaan alam atau infrastruktur yang merupakan aset negara. Dapat dibayangkan jika infrastruktur yang berpotensi penghasilan besar diambil alih pihak pengutang untuk menutupi utang.

Menggugat Fungsi Negara

Sejatinya negara bertanggung jawab penuh atas seluruh pembangunan infrastruktur serta membiayai kebutuhan rakyatnya, dan negara harus punya kemandirian dalam hal ekonomi. Tidak layak negara yang bertahun-tahun merdeka masih menerima uluran tangan dari china dengan alasan investasi, ini akan membahayakan negara.

China yang sudah menanamkan modalnya sudah pasti akan mengajukan persyaratan yang menguntungkan dirinya. Negara berhak menolak adanya tawaran investasi dari manapun termasuk dari China.

Meski kelihatan bermanfaat bagi warga negaranya akan berpeluang mendapat pekerjaan. Namun faktanya lebih menguntungkan China. Sebagai contoh, ketika China mendirikan sebuah pabrik nikel mulai dari SDA murah, alat bangunan sampai tenaga kerja kasar pun sengaja didatangkan dari negara asalnya.

Inilah gambaran sistem ekonomi kapitalis yang orientasinya adalah materi. Mustahil Indonesia mendapat keuntungan jika menjalin hubungan antara negara pemilik modal besar yakni China. Justru kebangkrutan yang nyata.

/ Kemandirian Ekonomi /

Hal ini berbeda dengan Islam, negara dalam islam punya kemandirian ekonomi. Negara memiliki ketegasan dalam memutuskan segala hubungan luar negeri yakni negara yang memusuhi Islam termasuk China. Selain itu negara tidak menerima investasi yang menguasai sumber alam karena Islam mengharamkan pengelolahan SDA diserahkan pada individu maupun perusahaan.

Selain itu dalam pembangunan nagara dalam Islam memiliki dana yang cukup untuk membangun infrastruktur tanpa harus meminjam. Baitul mal sebagai pengatur keuangan negara mendapat dana dari berbagai pos misalnya pos zakat khusus diberikan pada orang yang berhak, lalu SDA akan dikelolah negara hasilnya akan disimpan di baitulmal.

Selain itu ada pendapatan kharaj, fai, gonimah dll. Disini negara tidak kesulitan dalam membangun infrastruktur tanpa harus mengutang.

Negara super power tanpa harus bergantung diri dengan negara lain atau bahkan China sekalipun. Jadi sejatinya bergabung dengan BRI bukan untung tapi buntung. Solusinya tidak lain yaitu beralih pada Islam.

Wallahu ‘alam bishowab[]

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 15

Comment here