Opini

Boikot Total adalah Solusi Jitu Membungkam Negara Penghina Nabi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Dwi R Djohan

Wacana-edukasi.com — Islam kembali menjadi sorotan kebencian Barat (Kafir) bukan kali pertama terjadi. Ini sudah kesekian kalinya bentuk kebencian Barat (kafir) terhadap Islam.
Majalah Satire Prancis, Charlie Hebdo, atas dasar kebebasan berekspresi sering menjadikan konten menghina Islam dalam majalahnya. Jika kita flashback, pada tahun 2006, majalah ini membuat gambar yang menghina Nabi Muhammad pada sampul depannta. Nabi Muhammad digambarjan sebagai seorang yang berjanggut dan terlihat sedang pusing dengan kedua tangannya menutupi mata. Tertulis di samping gambar tersebut, “Mahomet Deborde Parles Integristes” yang berarti Muhammad telah kewalahan hadapi fundamentalis”. Jelas tulisan ini dikecam banyak pihak. Bahkan Dewa Kerja Sama Muslim Prancis menggugat Charlie Hebdo atas gambar tersebut.

Belum berhenti di situ, pada tahun 2007, Charlie Hebdo kembali membuat tulisan di halaman depannya dengan judul “Il Fault Voiler Charlie Hebdo” yang artinya Charlie Hebdo harus dijilbabkan. Di bawah judul tersebut terdapat gambar tiga pemuka yakni Muslim, Katolik dan Yahudi yang sepertinya sedang marah dan meneriakkan perintah di atas.

Berlanjut pada tahun 2011, majalah yang mengagungkan kebebasan ini membuat tulisan dengan judul di halaman depan yang artinya 100 cambukan jika kalian tidak mati atau karena tertawa. Judul tersebut meledek Nabi Muhammad dengan mengundangnya menjadi editor tamu majalah tersebut.

Di tahun yang sama, Charlie Hebdo kembali membuat kartun yang meledek Nabi Muhammad dengan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai gay. Seorang pria berpeci dan berjanggut digambarkan sedang berciuman dengan pria lain yang mengenakan kaos tertuliskan “Charlie Hebdo”.
Masih berlanjut pada tahun 2012, Charlie Hebdo mendapatkan kecaman setelah mengkritik Muslim dan Yahudi. Di halaman depannya, Charlie Hebdo membuat kartun seorang Rabi Yahudi sedang mendorong seorang Ulama Muslim bersurban dengan menggunakan kursi roda.

Awal tahun ini, laman cover terbaru majalah Charlie Hebdo menggambarkan Tuhan sebagai teroris yang menyandang senjata Kalashnikov. Dalam gambar tersebut, Tuhan diwakilkan dengan seorang pria berjanggut. Pembuatan sampul ini untuk peringatan satu tahun serangan terhadap kantornya yang menewaskan 12 (dua belas) orang. “Satu tahun berlalu pembunuh masih berada di luar sana”, tulis Charlie Hebdo bersama karikatur Tuhan tersebut. Akibat kebebasan berekspresi tanpa batas yanh dibiarkan oleh Negara Prancis ini, ternyata membuat Presidennya yaitu Emmanuel Macron berpidato dengan menyudutkan Islam dan lebih membela Charlie Hebdo dalam publikasi kartun tentang Nabi Muhammad.

Seperti yang khalayak
ketahui, pada tanggal 2 Oktober 2020, Macron menyampaikan pidato yang menargetkan dan menstigmatisasi komunitas Muslim. Pernyataan yang menunjukkan hal tersebut yaitu “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis hari ini di seluruh dunia.”
Sekitar 2 (dua) minggu berselang, tepatnya tanggal 16 Oktober 2020, Samuel Patty, seorang guru sejarah tewas terbunuh oleh seorang pemuda imigran, Abdullah Anzurov, berusia 18 tahun asal Chechnya. Hal itu disebabkan karena Patty mengajar di kelas tentang kebebasan berpendapat dengan menunjukkan kartun yang menjelekkan Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo pada murid-muridnya.

Penghormatan Patty digelar pada tanggal 21 Oktober 2020 dan dihadiri Macron. Di hadapan sekitar 400 tamu di Universitas Sorbonne, Macron mengecam aksi pemuda imigran tersebut dan malah membela sikap Patty sebagai warga negara yang bebas berekspresi. Dan bertekad untuk melanjutkan perjuangan tentang kebebasan. Ya, kebebasan untuk menghina Islam dan nabinya, karena menganggap kaum muslim menginginkan masa depan Prancis.
Lalu, apa reaksi kaum muslim terhadap pidato Macron tersebut? Jelas, marah! Baginda Rasul dihina secara terang-terangan. Dahulu dilakukan oleh sebuah majalah Charlie Hebdo, sekarang malah dibela, didukung dan diikuti oleh Presiden dan warna negara dimana majalah ini berada.

Bermacam-macam reaksi marah kaum muslim. Ada yang berdemo di depan Konjen Prancis atau depan kantor pemerintah di masing-masing negara untuk menunjukkan protesnya. Ada yang memilih bereaksi untuk memboikot produk-produk Prancis, seperti di Turki, Kuwait, Mesir hingga Yordania. Tagar #BoycottFrenchProducts dalam bahasa Inggris dan #ExceptGodsMessenger dalam bahasa Arab menjadi viral. Ini terjadi di medsos sejumlah negata seperti Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi dan Turki.
Lalu, bagaimana sikap Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya Muslim? Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia mengecam Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang dinilai telah menghina Ialam. Kemenlu menganggap hak kebebasan berekspresi tidak boleh dilakukan dengan mencederai kehormatan, kesucian dan kesakralan nilai dan simbol-simbol agama.

Apakah cukup hanya dengan demo, pengecaman, dan pemboikotan, Prancis sadar akan kesalahan fatalnya? Jelas tidak. Itu bukan solusi terbaik. Akar dari permasalahan ini adalah adanya kebebasan berekspresi atau berpendapat yang tidak jelas batasan dan tidak adanya hukuman yang tegas dan spesifik jika ada yang melanggar batasannya. Itulah sistem kapitalisme yanh memberikan kebebasan berekspresi seluas-luasnya dan menuntut semua orang untuk menghargainya meski melanggar norma yang ada. Maka tidak kaget jika akhirnya penghinaan agama dianghap wajar dan patut diapresiasi.

Berbeda dengan sistem islam, dimana mengatur dengan tegas dan jelas pada penganutnya dan orang lain untuk berekspresi sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan. Serta memberikan hukuman yang tegas jika ada melanggar. Hanya dengan melakukan boikot total yaitu mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam, yang bisa membungkam kebencian Prancis dan seluruh Imperialis Eropa terhadap Islam. Karena hanya sistem Islamlah yang menghasilkan keharmonisan kehidupan yang bertujuan untuk mendapatkan kerahmatan bagi dunia. Wallahu a’lam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here