Opini

Kurangnya Adab Terhadap Ulama

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Nurul Maulida  (Aktivis Pergerakan)

Wacana-edukasi.com –“Seorang ulama adalah pewaris para Nabi.” Begitulah perkataan Nabi Shallallahu’alayhi wasallam (disingkat SAW) yang tertuang dalam hadits riwayat At Tirmidzi dan Abu Daud. Posisi ulama sebagai pewaris nabi SAW adalah sebab kedudukan ulama amatlah tinggi karena keilmuannya. Beliau-beliau menyebarkan ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW secara cuma-cuma melalui aktivitas dakwah atau biasa disebut ceramah. Itulah kemuliannya ulama. Tidak sebanding dengan orang biasa.

Ketinggian ilmu yang dimiliki para ulama menjadikan beliau-beliau sebagai sosok yang mulia, pewarisnya para Nabi. Sehingga, harus memperhatikan adab dan akhlaq dalam berbicara dan berperilaku kepada ulama. Jika masih tersimpan hati nurani dalam diri manusia khususnya seorang Muslim maka ia akan berperilaku sedikit lebih sopan kepada orang yang keilmuannya lebih tinggi daripada kita walaupun posisinya sebagai teman dengan usia lebih muda jelas tidak masalah. Apalagi kepada seorang ulama, kiyai, pimpinan pondok pesantren yang disegani dan dihormati masyarakat setempat haruslah memperhatikan adab dan akhlak dalam berperilaku dihadapan atau bahkan dibelakang ulama.

Baru-baru ini masih menjadi hot news di media sosial mengenai perilaku salah seorang dan sekelompok orang dari organisasi tertentu yang membentak-bentak dan menunjuk-nunjuk dengan nada keras kepada seorang ulama, Kiayi Zainullah rahimakumullah. Di Indonesia siapapun dan posisi sebagai apapun memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara Republik Indonesia, pemerintah bisa menjamin tidak akan ada terjadinya penjara pemikiran bagi siapapun. Setiap warga Negara memiliki hak untuk mencari, mendapatkan dan meninggalkan suatu pemikiran apapun termasuk tentang khilafah. Bagi yang tidak suka dengan khilafah adalah musuh nyata bagi mereka dan mereka wajib menentangnya. Namun, bagi para pendukungnya, khilafah dipahami sebagai ajaran Islam dengan posisi hukum dalam Islam yang sebanding dengan memandikan mayyit (fardhu kifayah).

Apabila khilafah selalu dikaitkan dengan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) sehingga menjadi permasalahan bagi para penentang khilafah maka itu menjadi suatu kewajaran sebab HTI adalah organisasi yang paling gencar mendakwahkan khilafah ditambah dengan status keorganisasiannya atau BHP sudah di cabut. Saat ini kita bisa menyaksikan komentar di akun Youtube TVOne, video tentang banser dan kiayi Zainullah ternyata banyak sekali yang mendukung khilafah dengan posisi mereka bukan bagian dari HTI. Artinya, walaupun secara keorganisasian HTI adalah ormas yang sudah dicabut BHP-nya tetapi secara individu, tidak ada masalah jika sebagian besar sudah memperbincangkan tentang pemikiran khilafah. Sama halnya seperti mereka yang tidak bergabung dengan HTI namun mengambil paham bahwa khilafah adalah ajaran Islam.

Berbicara tentang adab dan akhlak seorang Muslim kepada muslim lainnya,apalagi terhadap ulaman. Dalam kasus Kiayi Zainullah, terlihat dengan sangat jelas adegan yang mempertontonkan ketidakberadaban  seorang muslim terhadap muslim lainnya dan terhadap ulama.  Mereka berani membentak dan mengintimidasi Kiayi Zainullah dengan tuduhan beliau membahas tentang khilafah dan mengajarkan pada muridnya di pondok pesantren Pasuruan.

Di Indonesia gagasan apapun yang dimiliki individu itu diperbolehkan, kecuali pemahaman tentang lenimisme, marxisme dan komunisme yang sudah jelas dilarang. Idonesia tidak seperti Korea Utara atau Negara yang menerapkan komunisme yang mampu mengontrol gagasan yang dimiliki rakyatnya melalui peraturan Negara dengan konsekuensi sanksi jika melanggarnya. Indonesia adalah negara multikultural, banyak agama didalamnya dan bahkan banyak perbedaan gagasan dari setiap individunya namun telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia yaitu khas dengan perbedaan dan saling menghormati adalah menjadi bagian terpenting dalam berbangsa dan bernengara . Apapun alasannya tetap saja cara-cara kekerasan tidak diperbolehkan dan tidak dibenarkan untuk menegur atau mengingatkan siapapun apalagi terhadap orang yang lebih tua. Agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa berlaku lemah lembut, sebab Allah Swt. tidak pernah memerintahkan demikian dan Rosul-Nya pun tidak pernah mencontohkannya.

Wallohualam Bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 29

Comment here