Oleh : Cahya Dita (Pegiat Literasi)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengklaim bahwa seluruh wilayah Tepi Barat meliputi Area A, B, dan C adalah milik Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Channel 14 (Metrotvnews.com, 3 Oktober 2026).
Hal ini tentu memicu sorotan tajam sebab berpotensi merusak kerangka hukum internasional serta perjanjian damai yang telah disepakati dalam Kesepakatan Oslo II tahun 1995 yang menetapkan pembagian yurisdiksi wilayah Tepi Barat antara Israel dan Otoritas Palestina. Di tengah persaingan ketat jelang pemilihan Knesset pada 27 Oktober, Demi menggaet basis pemilih ultra nasionalis, Ben-Gvir juga mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina, mendorong pemindahan warga Palestina dari Tepi Barat dan Gaza, serta melonggarkan aturan tembak bagi militer guna menekan kebutuhan jumlah personel.
Ironisnya, seorang pejabat yang menduduki posisi menteri keamanan nasional justru secara terbuka bertekad dengan lantangnya akan merusak perjanjian internasional dan memicu ketegangan demi menggelembungkan suara dalam kampanye politiknya. Mirisnya, wilayah palestina yang menjadi taruhannya.
Solusi Semu Buatan Amerika
Berbagai macam solusi ditawarkan guna mengakhiri serangan Israel ke Palestina, Mulai dari gencatan senjata, Peta. Jalan Damai (Board of Peace), Intervensi Hukum Internasional lewat ICJ (International Court of Justice), Tekanan Diplomatik Unilateral dan Pengakuan Kedaulatan Negara Palestina, hingga Solusi Dua Negara (Two State Solution). Namun Satupun tidak ada yang terrealisir. Sebab Israel menolak semua solusi yang ditawarkan yang diinginkan pemerintah. Israel adalah kendali keamanan penuh atas seluruh wilayah Israel. Selain itu, Pemerintah Israel juga menginginkan pengakuan penuh dari komunitas internasional dan tetangga Arabnya sebagai negara berdaulat bagi bangsa Yahudi, dengan Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak terbagi.
Inilah sesungguhnya yang diinginkan Israel, dan hal ini merupakan alasan utama mengapa Israel gencar melakukan berbagai macam serangan, penghancuran Gaza, genosida, pembakaran puluhan masjid di Tepi Barat, pendudukan komplek Masjid Al-Aqsha perampasan tanah dan rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat. Ini merupakan kejahatan besar dan kebiadaban Israel. Klaim memerangi Hamas hanya kamuflase yang mereka sembunyikan untuk melancarkan sapu bersih penduduk Palestina. Israel tidak menginginkan secuil pemduduk Palestina ada di wilayah yang selama ini mereka targetkan untuk membangun Israel Raya.
Jadi berbagai macam solusi yang digembar gemborkan AS, negara sekutu, dan pemimpin negara – negara muslim hanyalah rekayasa yang dirancang untuk meredam gejolak amarah dunia yang mendesak Amerika dan PBB untuk menghentikan serangan Israel ke Palestina. Justru mereka adalah garda terdepan yang selama ini mengakomodir kepentingan Israel. Terutama Amerika Serikat, selama cita-cita Israel belum terwujud, Amerika Serikat akan selalu memberikan dukungannya. Sebab Israel adalah sekutu strategis, dan perpanjangan tangan pengaruh Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah yang kaya akan minyak. Jadi alangkah kelirunya, jika masih ada kaum muslim yang mengharapkan Amerika Serikat dan organisasi dunia dapat menghentikan serangan Israel ke Palestina. Baik itu hukum international maupun organisasi Dunia seperti PBB tidak akan pernah bisa menjadi sarana yang dapat menghantarkan kedamaian Palestina, keduanya sama saja ada peran Amerika Serikat di dalamnya.
Khilafah, Solusi Hakiki Permasalahan Palestina
Solusi hakiki bagi permasalahan Palestina sejatinya bukanlah dengan berharap pada berbagai solusi semu buatan AS, PBB, ataupun lembaga internasional yang berada di bawah kendali Kapitalisme, melainkan dengan tegaknya kembali Daulah Khilafah ala minhaj nubuwwah. Jadi, tegaknya khilafah merupakan kebutuhan mendasar bahkan dapat dikatakan sebagai kebutuhan utama umat saat ini terutama bagi Palestina yang membutuhkan junnah untuk menghentikan serangan Israel. Tanpa khilafah, umat muslim sangat lemah dan rentan dikuasai oleh orang-orang kafir.
Khilafah adalah institusi pemersatu seluruh kaum Muslim di dunia yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, termasuk kewajiban jihad untuk membebaskan tanah Palestina yang merupakan tanah kharajiyah milik umat Islam. Dengan bersatunya kekuatan politik, militer, dan ekonomi yang terpusat di bawah satu komando kepemimpinan oleh seorang Khalifah. Khilafah sanggup mengerahkan seluruh tentara kaum Muslimin dari berbagai negeri untuk mengusir entitas penjajah Israel, merebut kembali Al-Aqsha, dan menegakkan kembali izzah Islam, sehingga Palestina tidak lagi menjadi ajang perebutan kepentingan negara-negara kapitalis, melainkan kembali menjadi bagian dari Darul Islam yang aman di bawah naungan rahmat Islam.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Selama umat Islam masih berharap pada Amerika, PBB, dan antek-anteknya, penjajahan di Palestina tidak akan pernah berakhir, karena hanya dengan tegaknya Khilafah ala minhaj nubuwwah, Al-Aqsha akan kembali terbebas dan kemuliaan Islam akan kembali tegak di muka bumi.
Views: 0


Comment here