Ditulis oleh: Watini Aatifah, S.S.
wacana-edukasi.com, OPINI–Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) berinisial RR (19) lompat dari lantai 6 gedung fakultas pertanian. Diduga RR hendak melakukan percobaan bunuh diri. RR mengalami sejumlah luka dan dalam kondisi stabil. Pihak medis di RS dr Saiful Anwar (RSSA) Malang telah melakukan operasi terhadap korban. Peristiwa RR melompat terjadi pada Kamis (10/9/2026) pagi. Aksi RR sempat diketahui mahasiswa lain yang berusaha mencegahnya melompat. Korban melompat dari ketinggian sekitar 25 meter hingga mengakibatkan benturan keras, korban mengalami luka patah tulang, tangan, kaki, rahang dan juga bahu. Dari hasil penyelidikan kepolisian terhadap saksi-saksi, mulai dari rekan kuliah, dosen, hingga pacar korban, terkuak bahwa aksi nekat bunuh diri dipicu perihal asmara (detiknews.com, 12/09/2026).
Miris, meningkatnya kasus bunuh diri adalah potret kelam krisis kesehatan mental yang menimpa generasi. Generasi muda saat ini memikul beban mental yang berat, mereka mendapatkan tekanan dari banyak pihak, mulai dari lingkungan pertemanan sekolah, hubungan asmara, keluarga dan juga tekanan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Rusaknya generasi akibat dari penerapan sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem sekulerisme mencabut akidah dari kehidupan sehingga ketika generasi saat ini mengalami berbagai tekanan mental mereka kehilangan pegangan, tanpa iman sebagai benteng, kesulitan terasa berat dan berujung pada keputusasaan.
Sistem kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistis. Masyarakat hanya mengutamakan kepentingan pribadi, tidak peduli dengan kondisi orang lain, bertetangga tapi tidak saling kenal dan saling sapa, bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan teman dan tetangga. Urusanku adalah urusanku dan urusanmu ya urusanmu. Setiap orang berjuang sendiri tanpa adanya ikatan masyarakat yang kuat. Kesepian akhirnya pun merajalela, generasi hidup seakan kehilangan arah dan tujuan. Andaikata ada tujuan hidup, tidak jauh dari artifisial semata seperti capaian materi, cita-cita, ketenaran dan sejenisnya.
Kondisi ini pengaruh dari budaya mengejar sukses individu dan sosial. Sistem sekulerisme merubah definisi masyarakat dari kelompok manusia yang disatukan oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, menjadi hanya sekedar kumpulan individu yang kebetulan tinggal bersama tanpa adanya pemikiran, perasaan dan aturan.
Kesehatan mental generasi sangat dijaga dalam Islam. Islam menanamkan akidah Islam sebagai benteng jiwa sejak dini. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap terbentuknya akidah seorang anak, bagaimana seorang ibu yang sabar dalam mendidik anak-anak di dalam rumahnya dan peran seorang ayah yang memimpin keluarganya agar senantiasa dekat dengan Allah, dengan demikian ketika kondisi keluarga yang kuat akidahnya akan terbentuk juga karakter generasi yang islami, generasi yang kuat mentalnya dan tidak mudah putus asa ketika dihadapkan dengan permasalahan di lingkungan sekitar.
Generasi yang kuat akidahnya mereka meyakini bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah SWT dan bahwa bunuh diri adalah tindakan yang diharamkan dalam Islam. Keyakinan ini akan menjadi tameng terkuat bagi seorang muslim ketika mengambil sebuah keputusan atau tindakan apa yang akan mereka ambil. Mereka akan menimbang baik buruknya dan boleh tidaknya dengan syariat Islam sebagai ukurannya.
Meski demikian, Islam memberikan arahan bagi manusia untuk menyikapi dan memahami ujian. Ujian tidak dilihat menjadi sebagai kegagalan, melainkan menjadi bagian sunnatullah untuk menguji kadar keimanan hambanya. Pemahaman seperti ini akan melahirkan sikap sabar dan ridha dalam menyikapi ujian seberat apa pun. Lebih dari itu Islam adalah sistem hidup, artinya Islam bukan sekedar obat penenang. Shalat, dzikir mau pun berdoa sejatinya sumber ketenangan hati seorang muslim.
Tujuan dari penerapan syariat adalah mewujudkan pemeliharaan atas jiwa. Dari sinilah adanya urgensi penerapan syariat Islam secara sempurna, dengan sistem inilah negara bisa berperan dalam mewujudkan lingkungan yang sehat bagi seluruh warga, mulai dari sistem sosial, ekonomi hingga politik.
Islam membangun fondasi kesehatan mental dengan membenahi individu, masyarakat, dan negara. Artinya, Islam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dengan melibatkan masyarakat secara menyeluruh, adanya ikatan yang kuat berlandaskan akidah. Semua ini harus dibangun di tengah keluarga, masyarakat dan negara. Negara memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan sistem yang sehat, tidak toksik dengan mengharmonisasikan aspek pendidikan, ekonomi dan sistem sosial masyarakat.
Pada aspek ekonomi, negara akan memastikan kesejahteraan masyarakat dengan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menciptakan kondisi ekonomi yang sehat, jauh dari kompetisi yang berbasis hukum rimba. Negara akan memposisikan sebagai pemeran utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan memastikan rakyat sejahtera. Ketika rakyat sejahtera kesehatan mental masyarakat pun terjaga.
Adapun dari aspek sosial kemasyarakatan, penerapan syariat Islam secara institusional akan mampu mewujudkan masyarakat yang harmonis dan terhindar dari krisis kesehatan mental dan individualisme yang ekstrim, hal ini diiringi dengan peran negara yang mewujudkan generasi berkepribadian Islam melalui sistem pendidikan, memastikan setiap individu rakyat membentengi dirinya dengan keimanan dan ketakwaan dan memastikan terpenuhinya kebutuhan masyarakat serta mengontrol kehidupan sosial yang sehat. Dengan demikian Islam menjamin terwujudnya generasi bermental tangguh dan berkepribadian yang islami.
Views: 2


Comment here