Opini

Kejahatan Riba: Dolar Melejit, Rakyat Terimpit

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nur Farihatul L (Komunitas Setajam Pena)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus di angka 17.602 per dollar AS pada Sabtu pagi, 16 Mei 2026. Kenaikan yang cukup jelas memberikan dampak pada berbagai harga kebutuhan masyarakat. Bagaimana tidak hampir sebagian besar barang kebutuhan masyarakat negeri ini berasal dari luar negeri alias impor. Mulai dari bbm, pangan, kebutuhan harian bahkan harga plastik menjulang naik beberapa kali lipat.

Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang tidak lepas dari perang yang terjadi antara Iran dengan AS. Faktor lain adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed akibat inflasi yang terjadi di Amerika sebagai dampak dari konstelasi politik international Timur Tengah yang menjadikan harga gasolin naik secara signifikan (tempo.co,15/05/2026).

Akibat melemahnya nilai rupiah ini rakyat banyak yang menjerit. Tak hanya kalangan pengusaha yang bahan baku usahanya harus impor, namun juga para pedagang kecil hingga nelayan. Mereka berteriak meminta solusi pada pemerintah.

Namun sayangnya, bagai jatuh tertimpa tangga, respon yang diberikan pemerintah justru menyakitkan. Presiden negeri ini justru menyampaikan bahwa masyarakat desa tak terimbas lantaran mereka tak pegang dolar. Padahal faktanya penjual gorengan pun harus menaikkan harga dagangannya karena harga bahan untuk membuat gorengan itu semuanya naik. Para nelayanpun juga berdemo lantaran harga solar yang melejit, sementara hasil tangkapan tak seberapa.

Yang lebih miris lagi warga negeri ini menjadikan pinjaman online sebagi alternatif Solusi kesulitan ekonomi mereka. Alhasil total pinjaman warga +62 ini mencapai 98,54 triliun rupiah per januari 2026 (financial bisnis.com-03/03/26).

Dampak Kapitalisme

Dampak dari perang AS-Israel dan Iran yang terjadi di era sistem ekonomi global tak hanya menaikkan harga energi tetapi juga merambah sampai sistem keuangan hingga nilai tukar uang di negara berkembang termasuk Indonesia.

Penyebab terjadinya hal ini dikarenakan secara internasional semua negara menggunakan currency atau satuan mata uang yang tidak berdasarkan jenis mata uang yang memiliki underlaying asset, tidak juga menggunakan bentuk mata uang sebagaimana yang diperintahkan Islam yaitu menggunakan mata uang yang mempunyai nilai secara mendiri yaitu emas (dinar) dan perak (dirham). Semua negara di dunia hari ini menggunakan satuan mata uang kertas dan menjalankan sistem ekonominya dengan menggunakan sistem berbasis riba.

Ketika terjadi peperangan atau konflik global maka akan memicu ketidakpastian harga, sehingga harga minyak menjadi naik dan mengakibatkan kepanikan pasar. Dari sini sistem riba bekerja sebagai mesin penghisap modal global. Ketika para pemilik modal (investor global) mencari tempat yang paling aman untuk menyimpan modal mereka.

Dikarenakan sistem keuangan internasional berpusat pada dolar amerika dan berpusat pada tingkat suku bunga (riba), maka dana dunia akan mengalir ke Amerika Serikat. Ketika bank sentral Amerika The Fed menaikkan suku bunga, maka aset dolar otomatis menjadi lebih menggiurkan bagi para investor global. Mereka meninggalkan negara berkembang dan menggunakan dana yang mereka miliki untuk membeli dolar dan surat berharga obligasi Amerika Serikat.

Hal ini akan mengakibatkan kondisi di negara berkembang mengalami capital outflow, mengalami tekanan kurs, inflasi, kenaikan hutang, dan mengalami pelemahan ekonomi domestik.

Sistem keuangan moneter yang menggunakan fiat money (sistem mata uang kertas), mata uang kepercayaan berbasis riba maka uang tidak lagi ditopang aset riil sehingga bank sentral dapat mencetak uang dalam jumlah yang besar dan keuntungan utamanya diperoleh melalui instrumen utang berbunga. Pada akhirnya yang kita saksikan di negara berkembang semacam Indonesia akhirnya tercebur dalam lingkungan yang membutuhkan dolar untuk melakukan impor atau mengambil pinjaman luar negeri yang basisnya adalah bunga. Siklus ini akan membuat krisis terus-menerus berulang.

Hal ini sejatinya disebabkan oleh perilaku para ekonom, para pemegang kapital dalam jumlah besar yang disebut dengan investor global memperhatikan naik turunnya tingkat suku bunga, berapa besar riba yang akan diperoleh. Perilaku mereka inilah yang akhirnya memberikan dampak bagi semua manusia yang sekalipun mereka tidak melakukan aktivitas transaksi riba.

Ketika manusia mengendalikan ekonomi dengan tidak menggunakan prinsip halal dan haram maka langkah-langkah spekulatif yang mereka lakukan untuk kepentingan pribadi ini berdampak luas bagi seluruh masyarakat.

Ekonomi ala Islam

Dalam perspektif Islam, riba bukan hanya sekedar persoalan moral individu tapi juga diposisikan sebagai sumber ketidakstabilan sistemik ketika uang diperlakukan sebagai komoditas. Uang diperdagangkan melalui tawaran dan transaksi spekulasi melalui hutang, maka kekayaan pasti akan terkonsentrasi pada pusat-pusat finansial global sementara negara lemah seperti Indonesia dan berbagai negeri kaum muslimin yang lain menanggung inflasi dan kemiskinan.

Allah secara tegas memperingatkan bahaya sistem riba ini di dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 276 yang artinya Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dalam praktek global hari ini efek pemusnahkan riba itu bisa kita lihat pada terjadinya krisis mata uang, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar, gelembung hutang yang semakin membesar, inflasi berkepanjangan serta ketimpangan ekonomi antar berbagai negara.

Dari sudut pandang ekonomi Islam, krisis nilai tukar ini bukan hanya sekedar kesalahan teknis kebijakan moneter tapi ini terjadi karena konsekuensi dari arsitek sistem ribawi global yang menjadikan uang, hutang dan bunga sebagai pusat ekonomi dunia. Situasi ini bisa diakhiri jika umat manusia mau mendengarkan apa yang telah Allah peringatkan, apa yang telah Allah larang.

Riba adalah mekanisme yang diharamkan dengan keras oleh Allah dan Rasulnya. Apabila ini diikuti dengan berbagai mekanisme ekonomi lain yang dicontohkan Rasulullah dilanjutkan dalam sistem kenegaraan sebagai mana yang dilakukan oleh para sahabat dalam sistem Khilafah Islamiyah maka niscaya kesengsaraan manusia bisa diakhiri.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here