Opini

Tahun Sudah Berganti, Tawuran Masih Terjadi

Bagikan di media sosialmu

Penulis: Nidya Lassari Nusantara

wacana-edukasi.com, OPINI–Tahun 2025 sudah berganti. Harapan baru menjadi pribadi, masyarakat dan keadaan negara lebih baik lagi akan menjadi cita-cita umum yang ingin dicapai. Tapi faktanya, hal itu masih menjadi ilusi di negri ini. Kerusakan alam, manusia dan kehidupan masih terjadi. Di awal tahun baru aksi tawuran kembali terjadi lagi. Di ibu kota Jakarta sampai di provinsi salah satunya Sumatera Utara.

“Memasuki awal 2026, tawuran pecah di berbagai wilayah Ibu Kota. Salah satu yang menjadi sorotan terjadi di underpass Manggarai, Jakarta Selatan, yang bahkan berlangsung dua hari berturut-turut.” (tangselpos.id, 08 Januari 2026)

Dikutip dari Waspada.co.id, tiga pelaku tawuran di Belawan yang diduga terlibat dalam penembakan hingga membuat mata kanan bocah perempuan terkena peluru nyasar, Rabu (7/1) berhasil ditangkap oleh tim gabungan Reskrim Polres Pelabuhan Belawan dan Dit Reskrimum Poldasu. Rencana aksi tawuran antargeng berhasil digagalkan aparat Polsek Tanjung Morawa setelah mengamankan tujuh remaja yang diduga hendak melakukan kekerasan jalanan, Sabtu (10/1/2026) sekitar pukul 20.15 WIB di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang.

Sebagai rakyat Indonesia tentu saja kita ingin disetiap wilayah kembali menjadi daerah yang aman dan bermartabat. Pertanyaannya, apakah mungkin itu terjadi bila yang menjadi sistem nya masih sekularisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang ikatan perbuatannya adalah serba bebas (Liberalisme), sistem yang tolak ukur kebahagiaannya adalah meraih sebanyak-banyaknya materi (berupa pangkat, pujian, harta dan lain sebagainya), Yang berhak membuat hukum adalah manusia.

 

Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan dengan firman-nya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar/ Islam),” ( QS. ar- Rum [30]: 41)

Dalam memaknai ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa fasad (kerusakan) di muka bumi ini disebabkan karena maksiat yang di lakukan manusia. Kebaikan di bumi dan langit hanya bisa tercapai dengan taat kepada-Nya. Caranya dengan menegakkan hukum Allah SWT. Dengan kata lain, segala bentuk problematika yang melanda manusia saat ini karena keengganan untuk menerapkan hukum-hukum Allah yang menciptakan Semesta, kehidupan dan manusia.

Maka, kembali kepada hukum Allah dan membuang sistem buatan manusia (sekuler) adalah jalan satu-satunya agar umat manusia merasakan kebaikan baik secara pribadi, masyarakat dan negara. Manusia melaksanakan seluruh hukum Islam secara menyeluruh, maka janji baik dari Allah SWT akan datang. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. al-A’raf [7]: 96)

Hukuman dalam Islam bagi pelaku kejahatan diatur dalam Al-Qur’an, termasuk begal. Sanksi diterapkan untuk penghapus dosa dan untuk menimbulkan efek jera. Efek jera bagi siapa saja yang melihat para pelaku dihukum sesuai hukum Allah SWT menjaga keamanan masyarakat luas.

 

Islam hadir bukan hanya untuk menghukum, tetapi juga membina generasi. Pendidikan Islam yang kurikulumnya merujuk pada akidah Islam akan melahirkan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Sistem ekonomi Islam menutup celah kemiskinan. Lelaki yang sudah baligh di beri kemudahan mendapatkan pekerjaan yang halal. Pada masa itu para pemuda adalah agen perubahan negara. Muhammad Al Fatih di usia belia mampu menaklukan kota Konstantinopel tunduk pada daulah Islam. Para ilmuwan terus lahir dari peradaban ini baik dari kalangan pria dan wanita seperti Al khwarizmi ahli matematika penemu angka nol, Ibnu Sina ahli bedah dan kedokteran sampai Maryam Al astrolobe penemu kompas. Alim ulama juga tak kalah banyak Imam Syafii yang mampu menghafal hadis dan Al Qur’an di usia 7 tahun dan mazhabnya banyak dipakai untuk masyarakat benua Asia. Semua ini menjadi bukti otentik yang tak bisa dibantah bahwa sistem Islam menjadi cahaya dari generasi ke generasi.

.

Ahli pemikir dari Barat menuliskan pada salah satu bukunya, dengan jelas mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Sudah terbukti selama 13 abad Islam berjaya, Rasulullah yang juga sebagai pemimpin negara dan dilanjutkan para Khalifah berhasil membuktikan bahwa hanya Islam yang membawa kemaslahatan di muka bumi, bukan cuma di ibu kota tetapi juga di tiap sudut daerahnya.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 10

Comment here