Surat Pembaca

Tragedi di Tengah Perjanjian Semu

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Awal tahun 2026 dibuka dengan berita duka yang menyayat hati. Puluhan warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan militer Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak Sabtu pagi (31 Januari 2026), termasuk di Kota Gaza dan Khan Younis. Menurut otoritas kesehatan Gaza, serangan itu menewaskan sedikitnya 30-32 orang, termasuk banyak anak-anak dan anggota polisi, dan menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata yang dimulai Oktober lalu. Serangan ini terjadi hanya sehari sebelum pembukaan kembali penyebrangan Rafah ke Mesir, jalur penting untuk bantuan kemanusiaan. (urbanfeed.news 01/02/2026)

 

Ironisnya, pembantaian ini terjadi hanya delapan hari setelah peresmian Board of Peace (BoP)—sebuah aliansi bentukan Donald Trump yang mengklaim membawa misi rekonstruksi Gaza.

 

Di balik layar diplomasi BoP, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara lantang justru menegaskan penolakannya terhadap kedaulatan Palestina. Klaimnya untuk mempertahankan kendali keamanan penuh dari Sungai Yordania hingga Laut Mediterania adalah bukti nyata bahwa Israel tidak pernah menginginkan perdamaian, melainkan penguasaan total secara permanen. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: Bagaimana mungkin sebuah forum perdamaian mengakomodasi pihak yang secara terang-terangan menolak keberadaan negara yang ingin dipulihkannya?

 

Dalam pidatonya, Rabu (28/1/2026), Netanyahu secara terbuka mengklaim dirinya sebagai aktor utama yang konsisten hingga kini untuk menggagalkan berdirinya negara Palestina. (narasinewsroom, 29/1/2026)

Gugatan Terhadap Pemimpin Negeri Muslim

 

Sangat miris melihat pemimpin negeri-negeri Muslim terjebak dalam diplomasi “duduk manis” bersama zionis. Menggunakan dana umat untuk bergabung dalam aliansi yang menyingkirkan Palestina sebagai subjek utama adalah kesalahan strategis sekaligus moral. Keikutsertaan dalam BoP di tengah dentuman bom di Gaza menunjukkan hilangnya sensitivitas dan hati nurani.

​Alasan lemahnya militer hanyalah pembelaan klise. Jika 57 negara Muslim bersatu, kekuatannya tak tertandingi. Secara geografis, Mesir, Yordania, dan Lebanon seharusnya mampu memberikan tekanan nyata jika tidak terbelenggu oleh kepentingan nasionalisme yang sempit.

 

Kembali ke Petunjuk Ilahi

 

Sebagai umat Islam, standar sikap kita seharusnya jelas: merujuk pada petunjuk Allah SWT. Tidak ada tempat bagi barisan umat Islam yang berdiri sejajar dengan penjajah sementara saudaranya kehilangan nyawa dan kehormatan.

​Ketakutan terhadap kekuatan Israel dan sekutunya hanya bisa dipatahkan jika umat menyatukan kekuatan di bawah kepemimpinan yang diridhai Allah. Solusi hakiki bukanlah sekadar rekonstruksi fisik Gaza di bawah kendali imperialisme, melainkan ketegasan politik dan militer secara kaffah.

 

​Allah SWT telah berfirman dalam QS. An-Nisa: 75: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas…” Ayat ini bukan sekadar bacaan, melainkan teguran bagi para pemimpin dunia Islam. Sudah saatnya menanggalkan alasan-alasan politis yang pengecut dan mulai menabuh genderang pembelaan nyata terhadap zionisme. Karena pada akhirnya, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di Hari Penghisaban kelak.

Rika Lestari Sinaga, A.Md.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here