Bahasa dan SastraCerpen

Rindu

blank
Bagikan di media sosialmu

By Gayathree

Wacana-edukasi.com — Masih lekat ingatanku, 27 tahun silam. Wajah itu, seakan menari-nari di pelupuk mataku. Aku tak pernah membayangkan, pada usia sekecil itu sudah menjadi anak yatim.

Bapak, dia sangat menyayangiku. Jika kakak membuatku menangis, pasti dia akan memarahinya habis-habisan. Sebab aku adalah anak perempuan satu-satunya. Suatu saat dia merebut mainanku. Aku hanya bisa terisak. Bapak langsung pasang badan.

“Kamu ini, bukannya menjaga adikmu. Malah membuat dia menangis!” bentak Bapak

Kak Ahmad mendelik ke arahku. Aku hanya tersenyum sambil menjulurkan lidah. Kupeluk Bapak, dan naik ke atas bahunya. Dia pun mengajak bermain, berlari ke sana kemari sambil tanganku diacungkannya ke atas. Kesukaanku adalah naik dibahunya.

Kenangan indah itu, muncul satu per satu.

Pernah suatu ketika, aku sedang bermain dengan teman-teman. Dulu sebelum ada gawai, kami anak-anak kecil suka bermain bersama. Entah main petak umpet, main gatrik, atau main kasti, dan banyak lagi mainan lainnya. Begitu gembiranya kami saat itu. Sekarang, zaman sudah berubah tak kutemukan lagi permainan kasti, kecuali mengenalnya saat pelajaran olah raga di sekolah.

Udin teman bermainku jail. Aku pulang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu.

“Siapa yang membuatmu menangis nak?”

“Si Udin Pak?”

“Mana dia? Tunggu ya, Bapak akan cari dia sampai dapat!”

Gegara hal itu, aku sempat dijuluki tukang ngadu ke orang tua.

Aku pikir, wajar saja aku ngadu sama Bapakku. Toh Udin itu jahat menurutku saat itu. Pikiran yang sangat sederhana untuk usia di bawah sepuluh tahun.

Udin suka jailin anak perempuan. Menurutku perempuan itu harus dilindungi, bukan dijadikan objek candaan. Sejak saat itu ga ada lagi laki-laki yang suka jailin aku. Bapakku adalah pahlawanku.

Pernah juga saat kami makan, Kak Ahmad kembali kena semprot Bapak. Dia ngiri sama aku, karena jatahku banyak. Dia protes.

“Ko kamu banyak. Kan masih kecil. Sini buat Kakak!”

“Pak, ini kak Ahmad mau ngambil jatahku” aduku dengan mata berkaca-kaca

Bapak, langsung membulatkan matanya dan melirik ke arah kak Ahmad yang sedang duduk di sebelahku.

“Ahmad, kamu itu hidup di dunia ini udah lama di banding adikmu. Kamu itu sudah banyak makan ini dan itu sejak dahulu. Kembalikan pada adikmu!” perintah ayah dengan nada tinggi.

Kak Ahmad mengerucutkan bibirnya.

“Uuuh dasar, anak Bapak” gerutunya sambil berdiri dan meninggalkan kami berdua.

Lagi-lagi Bapak selalu ada untukku. Aku serasa menjadi seorang ratu. Bahagia sekali rasanya.

Ah Bapak. Mengapa begitu cepat kau pergi?

Malam semakin larut. Lolongan Anjing di rumah tetangga makin nyaring terdengar. Detak jarum jam pun seakan menambah detakan kerinduanku pada Bapak.

Aku makin tak kuasa menahan kesedihan. Entah mengapa malam ini bayangannya seolah hadir. Kantuk pun tiba-tiba sirna. Aku semakin tenggelam dalam lamunan tentangnya. Kupejamkan mata berusaha mengingat semua tentangnya. Meski ada sesak di dada.

Aku tak bisa memandangi wajahnya. Foto-foto Bapak tak ada satupun yang bisa kutemukan. Bayangan yang terlintas hanyalah sosok Bapak yang mengenakan baju putih-putih dan memakai peci hitam. Sungguh gagah waktu itu.

Mungkinkah meniru sosok Bung Karno? Entahlah, aku tak pernah berbincang mesra dengannya. Yang kutahu hanyalah bermanja denganmu. Tidur di pangkuanmu adalah kebiasaanku ketika ada teman-teman Bapak bertandang ke rumah. Aku pun terlelap, di tengah perbincangan hangat mereka.

Era 90-an belum secanggih sekarang. Ada kamera atau video. Sehingga momen kebersamaan dengan orang-orang terkasih tidak bisa diabadikan. Mungkin ada yang sudah punya namun hanya sebagian kecil saja. Berbeda dengan saat ini, setiap orang bisa berfoto dan membuat video.

Jadi, jika saat ini banyak yang berfoto bersama orang terkasih, kemudian di upload di medsos, ga usah nyinyir. Mungkin itu suatu saat akan jadi kenangan untuknya. Apalagi Fb, medsos sejuta umat, suka ada jejak digital yang diingatkan.

****

Di sini, aku masih termangu. Terlihat jelas di batu nisan, 04 Agustus 1994. Aku enggan beranjak.

“Bapak, seandainya kau masih ada. Insya Allah aku akan membahagiakanmu. Mengajakmu jalan-jalan, seperti dahulu kau mengajakku jalan-jalan di Ibukota”.

“Bapak, aku rindu. Aku ingin sekali memelukmu”.

Tangis pun kian pecah. Ku tak peduli dengan orang-orang yang memandangiku dengan aneh. Kerinduanku ini tak bisa tertahankan lagi.

Terkadang aku bertanya pada Sang Pencipta.

“Ya Allah mengapa kau ambil dia sebelum aku bisa membalas kebaikannya? Ada pedih yang terasa di dalam sini, seperti tersayat.

Tapi, jatah usia setiap jiwa telah Allah tetapkan sebelum manusia lahir ke dunia. Ketetapan Allah harus diterima dengan keikhlasan.

Aku segera tersadar, dan melantunkan doa untuk Bapakku. Sebelum pulang, kupetik bunga dan kusimpan di atas pusaranya.

Aku pergi dengan hati masih menganga.

Kenangan lain kembali muncul.

Saat kami tengah berkumpul dan bercanda. Waktu itu, dia mengeluarkan uang yang gambarnya ada orang wisuda. Entah pecahan berapa. Aku lupa.

“Pak, aku ingin jadi seperti itu” ucapku sambil menunjuk gambar di belakang uang tersebut. Aku belum tahu bahwa gambar perempuan itu adalah seorang sarjana yang sedang di wisuda.

“Semoga cita-citamu terkabul ya” jawabnya sambil mengusap lembut rambutku.

Aku berbalik arah lagi, berlari menuju pusaranya.

“Bapaaaak”

Kembali aku tersungkur dekat pusaranya. Ingin sekali aku meminta pada-Nya untuk bertemu, meskipun hanya sesaat. Aku sangat merindukannya. Aku hanya bisa membayangkan wajahnya, dengan memori yang tersisa.

“Bapak, dengarlah. Atas kasih sayang-Nya dan Mahabaiknya Dia padaku. Sekarang aku sudah Sarjana Pak, bahkan Magister. Lihatlah Pak!”.

Aku berbisik sambil memegang nisannya.

“Tapi, bukan ini yang kau inginkan di alam sana. Bukan jabatan, bukan harta,dan bukan  pula titel yang kau harapkan dari anak-anakmu. Melainkan, doa dari anak-anak yang soleh dan solehah agar tersampaikan doanya padamu. Iya kan Pak?”

Taat dan patuh pada perintah dan larangan-Nya. Serta menjadi bagian dari para pengemban dakwah. Adalah jalan mengalirnya amalan-amalan untuk orang tua yang sudah tiada.

Tertegun dalam kesunyian.

“Pak, aku rinduuuu!”

Allaahummaghfir lii waali waalidayya war hamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa

“Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil”.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik. Yakni surga, dan kelak kita semua bisa berkumpul dalam Jannah-Nya. Aamiin.

Sayangilah kedua orang tua jika masih ada. Jangan buat mereka menangis oleh ulah kita. Jadi anak yang soleh dan solehah itu adalah balas budi terbaik buat mereka. Sebab, anak yang soleh dan solehah akan mengantarkan orang tua ke surga-Nya.

Jika masih ada, bahagiakanlah semampumu. Jangan sekali-kali berkata “ah”

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra; 23)

Berbuat baik kepada ke dua orang tua bukan semata-mata ingin membalas budi baik mereka. Melainkan memenuhi seruan Sang Pencipta. Sebab, budi baik mereka takkan bisa dibalas oleh apapun.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Q.S. Lukman: 14.

Tamat.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 30

Comment here