Opini

Prostitusi di Kawasan Kendari

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Hamsia (Komunitas Peduli Umat)

blank

Wacana-edukasi.com — Kendari, Telisik.ID – Dikenal sebagai kawasan yang banyak dikunjungi oleh masyarakat, Kendari Beach, atau lebih dikenal dengan Kebi, yang terletak di sisi Barat Kota Kendari, ternyata tak lepas dari praktik prostitusi.

Setelah selama hampir satu minggu mencoba menelusuri dan menguak sisi gelap bisnis prostitusi di tempat tersebut, berbekal informasi dari narasumber yang berhasil ditemui dan diwawancarai, Telisik.id terus menggali fakta yang ada dilapangan mengenai bisnis haram ini.
Temuan dan fakta yang ada sangat mengejutkan. Pasalnya, informasi dari sejumlah narasumber kepada Telisik.id teryata benar adanya. Lokasi eksekusi bisnis prostitusi ini tak terpusat di satu titik saja, melainkan tersebar di berbagai titik kawasan kebi. Namun sebelumnya, untuk menelusuri fakta yang terjadi di Kebi, Telisik.id pun sempat bertemu RM (27), seorang narasumber yang megaku beberapa kali menggunakan jasa Pekerja Sex Komersial (PSK) melalui aplikasi me-chat serta mencari langsung di Kebi.

Sungguh sangat miris, jika kita melihat kasus prostitusi ini, seakan tidak pernah berhenti. Mulai dari selebriti, bahkan kelas menengah bawah pun tak luput dari bisnis haram ini. Seakan-akan pekerjaan ini dianggap hal yang biasa, selagi pekerjaan itu bisa mendapatkan uang yang banyak kenapa tidak dicoba, walaupun pekerjaan harus menjajakkan tubuh dan kehormatan wanita. Pekerja Seks Komersial (PSK), ibaratnya pasti beda membeli produk di kaki lima dengan di mal. Seperti itu pula, ada  PSK yang menjajakan diri di pinggir jalan, dengan risiko ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ada pula di hotel bintang lima yang lebih minim risiko.

Semuanya menunjukkan prostitusi tetap eksis. Dilokalisasi atau tidak, akan tetap ada selama sistem yang diterapkan adalah sistem sekuler liberal. Maka, wacana lokalisasi prostitusi tidak masuk akal. Lebih aneh lagi, menuduh bahwa merajarelanya pelacuran online, di kos-kosan atau hotel adalah dampak dari penutupan tempat kemaksiatan atau Gang Dolly.

Pasalnya, dalam sistem saat ini PSK selalu ditempatkan sebagai korban. Dalam kasus selebritis contohnya mulai dari AA, VA mereka hanya dijadikan saksi, bukan tersangka. Setelah ditanyai dibebaskan. Ya, belum pernah ada PSK yang dihukum. PSK yang di pinggir jalan yang ditangkap Satpol PP pun hanya didata, dikasih peringatan agar tidak beroperasi lagi.

Sudah menjadi rahasia umum jika dunia artis rawan dengan kemaksiatan. Gaya hidup yang glamour dekat dengan hura-hura, pesta, cambur-baur laki-laki tanpa batas dan bahkan narkoba. Sayangnya, dunia semacam ini banyak dicari manusia. Termasuk kaum muslimin dan muslimah saat ini. Mereka membayangkan, betapa enaknya menjadi terkenal dan banyak uang. Mereka iri dengan para selebritas yang hobi berbagi kemewahannya di media sosial. Akibatnya, para artis inilah yang menjadi teladan. Anak-anak masa kini cita-citanya ingin jadi artis terkenal. Lalu ibunya mengaminkan. Sungguh celaka jika situasi seperti ini dibiarkan. Artis sama sekali bukanlah teladan. Apalagi artis yang nyata-nyata pelaku maksiat.

Pelaku bisnis prostitusi bebas melenggang di alam demokrasi. Demokrasi mengagungkan kebebasan berperilaku sehingga manusia bebas melakukan perbuatan apapun yang dia sukai tanpa memikirkan dampak baik-buruknya, apalagi hala-haram. Termasuk dalam hal perzinahan. Asalkan suka sama suka maka mereka merasa aktivitas menjual diri mereka nilai sah-sah saja, apalagi jika mendapat bayaran fantastis. Anda jual, saya beli. Maka tidak heran jika kemaksiatan semakin merajarela karena mereka sudah tidak memikirkan tentang dosa.

Itulah lingkaran setan prostitusi yang tak akan bisa diputus saat ini. Sebab tidak ada yang bisa menghukum para pelaku perzinahan yang jelas-jelas melanggar syariat Islam itu. Fakta yang lebih menyedihkan yang mendera bangsa Indonesia, yang notabene penduduknya mayoritas muslim. Sebuah ironi, negeri muslim terbesar namun kemaksiatannya juga sangat besar.

Inilah sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme yang memisahkan kehidupan dunia dengan akhirat. Dan diamini oleh para pelaku kemaksiatan itu. Urusan surga atau neraka itu urusan nanti. Yang penting, mereka senang. Begitulah pemikiran sekuler-liberal yang melakukan segala sesuatu dengan sebebas-bebasnya.

Sejatinya, prostitusi selamanya hanya membawa kemudharatan. Pemicu penyakit sosial, seperti perceraian, aborsi, trafficking dan penyebaran penyakit seksual menular, termasuk HIV/AIDS yang mematikan. Maka, diperlukan solusi komprehensif untuk menutupnya.
Sudahi prostitusi untuk meciptakan masyarakat yang bersih. Caranya, ganti sistem sekuler dengan sistem Islam. Negara wajib menerapkan hukum-hukum Islam berdasar Alquran dan sunah. Negara harus tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi. Mucikari, PSK dan pemakai jasanya semua harus dihukum. Mereka adalah subyek dalam lingkaran prostitusi. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun.

Di sisi lain, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat. Caranya, ciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya hingga seluruh warga dapat mengakses suber rezeki degan cara halal. Sehingga, alasan mencari nafkah tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi.Tentu saja, ini juga didukung dengan memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada warganya. Dengan demikian setiap individu mampu bekerja dan berkarya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak.

Di samping itu, tutup semua tempat-tempat hiburan yang dijadikan sarang maksiat. Perketat tayangan-tayangan di media yang menawarkan gaya hidup bebas. Sebab, gaya hidup mewah inilah inspirasi bagi para perempuan penjaja cinta untuk mendapatkan uang dengan cara instan.
Tak ketinggalan, perkuat pondasi keimanan dan ketakwaan dalam keluarga. Kaum ibu dan anak-anak perempuan menjaga kehormatannya. Demikian pula kaum ayah dan anak laki-laki, dengan pemahaman agama yang benar, harus memiliki rasa hormat pada perempuan. Dengan begitu tidak terpikir untuk melakukan tindak maksiat. Dengan solusi Islam, prostitusi tersingkir secara perlahan tapi pasti.

Wallahu a’lam bish shawwab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 18

Comment here