Opini

Pesan Allah di Balik Gempa Papua

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Neni Arini
(Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, OPINI– Gempa telah terjadi di Papua pada hari Kamis, 9 Februari 2023 dengan kekuatan 5.4 SR, pusat gempa terjadi didekat pantai utara Papua. Ini bukan merupakan kali pertama gempa mengguncang di wilayah Indonesia timur. Kabar ini mencuri perhatian media asing hingga hari ini.

BMKG menjelaskan penyebab gempa di Jayapura pada tanggal 9 Februari 2023. Gempa yang terjadi pukul 13.28 WIB itu disebabkan karena aktivitas sesar aktif.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter, gempa bumi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser,” kata Kepala BMKG Dwikorita, dalam jumpa pers, Kamis, (9/2/2023).

Akibat dari gempa bumi ini beberapa rumah serta bangunan hancur, dan menurut berita sudah ada 4 orang yang diperkirakan meninggal dunia. Tentu semua kejadian ini membuat masyarakat panik dan ketakutan, walaupun warga sudah dihimbau untuk tetap tenang, hindari bangunan yang retak, dan jangan sampai mudah terpengaruh oleh isu yang tidak benar.

Memang kondisi bebatuan yang ada di Papua itu sangat rapuh, sehingga mudah sekali untuk bergetar. Tapi sesungguhnya ini menjadi peringatan untuk kita sebagai manusia. Ada apakah dengan bumi Indonesia ini? Apakah ini bentuk kemarahan Allah kepada hambanya yang bernama manusia?

Allah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 37 yang artinya:

“Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.”

Ayat tersebut menceritakan bagaimana umat Nabi Syuaib as yang durhaka dan tidak mau menerima nasihat Nabi Syuaib as. Mereka malah mendustakannya. Oleh karena itu, berlakulah sunah Allah. Ketika mereka dengan terang-terangan mengingkari Nabi Syuaib as setelah diberi peringatan berulang-ulang, maka tibalah waktunya Allah mengazab mereka. Bumi tempat kediaman mereka diguncang oleh gempa yang menggetarkan dan menghancurkan tanah kediaman mereka. Mereka mati jungkir balik dan ditelan bumi, tanpa bergerak lagi.

Bahkan Allah pun menggmbarkan fenomena gempa bumi ini pada surat Al A’raf ayat 78 yang artinya :

“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.

Sesungguhnya gempa bumi terjadi sejak masa lampau. Meskipun begitu, gempa masih bisa terjadi di masa sekarang dan masa depan, sehingga tidak boleh disepelekan. Indonesia merupakan negara dengan kawasan rawan gempa yang dapat mengakibatkan korban jiwa dan melukai warga.

Masa lalu adalah pelajaran bagi seseorang yang dapat mengambil hikmahnya. Rentetan peristiwa bencana alam di Indonesia membuat kita harus senantiasa waspada dan meningkatkan pengetahuan untuk perlindungan dan pencegahan bahaya yang sangat fatal.

Secara geografis, wilayah Indonesia terletak pada lintasan Cincin Api Pasific (The Pacific Ring of Fire). Lintasan ini memiliki deretan gunung api yang membentang sepanjang 40.000 km di Samudera Pasifik. Maka dari itu, Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terjadi gempa dan tsunami, baik tektonik atau vulkanik.

Selain itu, Indonesia memiliki 295 sesar aktif yang membentang dari Sumatera hingga Papua, berdasarkan data dari Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dirilis pada 2017. Sesar adalah patahan batuan yang disebabkan oleh gempa bumi. Jalur sesar adalah jalur yang rawan gempa.

Kita sebagai manusia harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah Swt, semua musibah dan takdir sudah tercatat di lauhul mahfudz. Dan kita sebagai orang yang beriman harus mempercayainya, bahwa semua terjadi atas ijin Allah.

Gempa bumi yang terjadi bisa jadi karena aktivitas manusia yang tidak mengindahkan perintah Allah Swt untuk tidak melampaui batas. Ini terlihat dari bagaimana manusia memperlakukan alam.

Pengerukan sumber daya alam secara besar-besaran demi akumulasi kekayaan segelintir orang, telah menyebabkan bumi ini rusak. Kerusakan ini membuat alam kehilangan fungsinya untuk mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan yang terjadi sekarang adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pertambangan, pengeboran, pembangunan gedung- gedung pencakar langit.

Peringatan Allah kepada mereka yang berbuat fasik pun juga secara jelas ditujukan untuk orang-orang yang hidup secara mewah. Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 16 yang artinya:
“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman mati). Kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu).”

Ini artinya bencana alam yang menimpa kepada kita merupakan perbuatan maksiat dan dzalim yang dilakukan oleh orang yang hidup bermewah-mewahan. Dan merupakan perbuatan segelintir orang yang menghancurkan bumi demi kekayaan mereka. Kita harus bisa mencegahnya supaya bencana tidak terus terjadi.

Sayangnya, tidak semua orang menyadari hal ini. Bahkan orang-orang yang seharusnya menjalankan kewajibannya untuk mengawasi dan mencegah kerusakan alam (pemerintah) justru memfasilitasi perbuatan maksiat tersebut melalui kebijakannya.

Bagaimana bisa semua hasil ciptaan Allah yang seharusnya dipandang sebagai rahmat kemudian dituduh sebagai penyebab bencana alam? Kebebalan pemerintah untuk menghentikan kegiatan eksploitasi terhadap sumber daya alam lah yang membuat mereka enggan disalahkan. Karena itulah kita harus terus menyuarakan dan menuntut pemerintah untuk tegas menghukum para perusak lingkungan. Serta mendorong komitmen untuk terus menjaga kelestarian alam yang kini tidak banyak lagi yang tersisa.

Penting untuk kita dapat memetik pelajaran, bahwa betapapun manusia tetaplah makhluk yang lemah. Karena itu tidak pada tempatnya bertindak durhaka kepada Allah Swt, dzat yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Semakin banyak musibah, mestinya semakin mendorong untuk kita semakin taat kepada Nya dengan jalan melaksanakan syariah-Nya, yakni meninggalkan semua yang dilarang-Nya dan menjalankan yang diwajibkan oleh-Nya. Penolakan terhadap syariah Allah dengan tetap membiarkan kemaksiatan dalam berbagai aspek kehidupan (ekonomi ribawi, budaya pornografi, korupsi dan sebagainya) adalah bukti nyata dari sikap durhaka yang dimaksud.

Bertobatlah wahai manusia, kembalilah kepada hukum islam, jadikanlah islam sebagai solusi dari setiap aspek kehidupan.

Allahu Akbar!!

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 12

Comment here