Oleh : Ummu Hanik R
Wacana-edukasi.com, OPINI–Remaja adalah generasi penerus bangsa. Harapan bangsa yang nantinya akan menerima estafet kepemimpinan membawa bangsa pada kehidupan yang berkemajuan. Namun bagaimana bila ternyata, remaja yang jadi harapan, justru memilih pada kerusakan. Bukannya sibuk untuk menuntut ilmu, mempersiapkan diri jadi generasi harapan penerus bangsa, malah bersinggungan dengan narkoba. Bila sudah terkena narkoba, maka bisa dipastikan masa depan suram.
Hal ini seperti yang diberitakan Kumparan.com, 14 November 2025, dari Surabaya. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur mengonfirmasi adanya 15 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang telah dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Fakta ini sangat mengejutkan dan cukup jadi tamparan keras bagi kalangan masyarakat luas. Betapa tidak, masa remaja yang seharusnya diisi dengan semangat belajar dan semua hal positif, justru ternodai oleh jerat narkoba yang menggiurkan dan sangat menghancurkan.
Tempat transaksi narkoba ternyata mudah diakses oleh semua pihak. Jadi tak heran, bila sekelas pelajar pun bisa mendapatkan barang haram yang bernama narkoba. Di Surabaya, kawasan dengan gelar buruk, ‘Jalan Kunti’, terkenal sebagai kampung narkoba. Di tempat inilah, berjajar bedeng-bedeng kecil dari kayu beratapkan terpal yang jadi tempat transaksi narkoba sekaligus untuk pesta sabu. Hal itu, cukup menjelaskan bahwa bisnis haram ini beroperasi secara terang-terangan, menerjang batas hukum dan rela mengorbankan masa depan anak bangsa.
Narkoba Akar Kerusakan yang Mengkhawatirkan
Di balik fakta mengerikan terlibatnya remaja SMP dengan narkoba, tentu membuat hati mendidih dan juga menggelitik pikiran. Banyak pertanyaan yang muncul, kenapa bisa terjadi masalah seperti ini? Tentunya banyak faktor yang jadi penyebabnya. Di antara yang mempengaruhinya adalah krisis keimanan, dan lemahnya pengawasan terhadap peredaran narkoba yang sistemik.
Terkait dengan krisis nilai keimanan, banyak remaja kehilangan pegangan hidup yang kuat. Di tengah kurangnya binaan agama dan lemahnya iman, ketika mendapatkan masalah, maka mereka menjadikan narkoba sebagai solusi instan. Pada narkoba, mereka merasa mampu mengisi kekosongan jiwa, mendapatkan kebahagiaan, dan melupakan masalahnya meskipun hanya sesaat. Padahal sejatinya, narkoba takkan pernah menyelesaikan masalah, justru menjerumuskan mereka pada kehancuran yang lebih dalam.
Adanya “Kampung Narkoba” di Jalan Kunti bukanlah fenomena semalam, sehari atau sebulan. Ini sudah membuktikan secara nyata bahwa peredaran narkoba telah sangat sistemik dan merajalela. Lemahnya pantauan dan pengawasan dari aparat negara dan lunturnya kepedulian sosial masyarakat telah menjadikan sarang narkoba tumbuh subur. Transaksi narkoba yang terjadi di bedeng-bedeng kayu wujud nyata para pelaku semakin berani bertindak dan seakan-akan merasa aman dari jeratan hukum.
Jika kondisi seperti kampung narkoba ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah malapetaka berantai. Remaja-remaja yang seharusnya menjadi penerus bangsa justru akan rusak dan hancur secara fisik, mental, dan masa depannya. Hal ini bukan hanya masalah individu, tetapi ancaman bagi stok sumber daya manusia bangsa di masa depan. Generasi yang sakit akan melahirkan masyarakat yang sakit. Masyarakat yang sakit tidak akan bisa membawa bangsa pada kemajuan.
Islam Menyelamatkan Generasi Penerus
Menghadapi situasi yang darurat ini, terkait posisi remaja sebagai generasi penerus bangsa, diperlukan langkah-langkah solutif yang konkret dan menyeluruh. Islam hadir dengan segala aturan dari Sang Maha Pencipta, tentu membawa kemaslahatan hidup bagi manusia.
Agar para remaja memiliki nilai keimanan yang kuat, maka peran keluarga sangatlah diperlukan. Keluarga sebagai pondasi utama dan tempat pendidikan pertama pada diri remaja, hendaknya dalam kondisi sehat. Orang tua harus memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Memantau perkembangannya setiap saat. Membekalinya dengan nilai-nilai agama. Bila remaja berada dalam lingkungan keluarga yang religius, maka akan menjadi benteng penangkal keburukan di luar rumah.
Selain keluarga, sekolah sebagai tempat pendidikan kedua bagi remaja juga harus berperan secara maksimal. Guru harus harus proaktif membangun komunikasi yang hangat dengan anak, menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan rasa syukur. Remaja perlu memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari zat adiktif, tetapi dari prestasi, hubungan sosial yang sehat, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Dalam Islam, negara bertanggungjawab penuh terhadap rakyatnya. Jika di tengah rakyatnya merebak narkoba secara merajalela, maka negara tidak boleh abai. Apalagi jika korbannya adalah para remaja yang notabenenya adalah generasi penerus. Melalui aparat penegak hukum, negara harus bertindak tegas memberantas semua jaringan narkoba, mulai dari pengedar hingga bandar. Operasi pencidukan di tempat-tempat rawan seperti Jalan Kunti harus dilakukan secara rutin dan intensif. Selain itu, negara perlu memperkuat program rehabilitasi bagi korban penyalahguna narkoba, termasuk ke-15 remaja tersebut.
Islam juga memandang bahwa kemungkaran tidak boleh dibiarkan. Setiap muslim berkewajiban untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, mengajak pada kebaikan dan mencegah hal-hal yang buruk. Masyarakat tidak boleh tutup mata. Kemungkaran yang merajalela harus dilawan dengan semangat kebersamaan. Masyarakat di sekitar Jalan Kunti dan kawasan rawan lainnya perlu diedukasi untuk berani melaporkan aktivitas mencurigakan kepada pihak berwajib. Gerakan komunitas anti-narkoba dan patroli warga dapat menjadi benteng pertahanan terdepan.
Pembinaan keimanan pada remaja, maksimalnya peran negara dan juga tergeraknya umat untuk amar ma’ruf nahi munkar hanya akan terjadi bila negara berada dalam sistem Islam. Kisah 15 siswa SMP di Surabaya ini harus menjadi alarm pengingat bagi kita semua untuk kembali pada sistem Islam. Narkoba adalah musuh nyata yang menggerogoti masa depan bangsa dari akarnya. Hanya dengan penerapan sistem Islam dan adanya kolaborasi yang kuat antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, malapetaka ini dapat kita hentikan.
Views: 2


Comment here